Berkiblat Pada Rumah

Beberapa hari yang lalu, kami bersilaturrahmi ke rumah salah satu pimpinan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, yaitu Ust. Fathurrahman Kamal. Kebetulan, beliau adalah ustadz yang memberi petuah pada akad pernikahan kami. Jadilah hari itu, kami ingin bersilaturrahmi, ber-syawalan, sekaligus belajar dan melanjutkan nasehat pernikahan yang sempat tertunda karena terpotong waktu akad. Maka, pertanyaan kami malam itu begitu jelas dan gamblang, disampaikan beriringan dengan senyum, “Ustadz, minta tolong kami diberi petuah dong, hehe.”

Di antara nasehat beliau yang menarik bagi saya adalah tentang surat Yunus ayat 87 berikut,

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu “kiblat” dan dirikanlah olehmu sholat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”.

Salah satu tafsir dari ayat ini adalah anjuran dari Rasulullaah saw untuk melaksanakan shalat-shalat sunnah di rumah, mengaji di rumah, belajar di rumah, berdzikir di rumah, dan lainnya bersama keluarga. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RAbahwa Rasulullaah saw bersabda, “Hendaknya kalian mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat maktubah (fardhu)”. (H.R. Mutafaqqun alaih).

Di antara tafsir lain dari ayat ini adalah, bahwa menjadikan rumah sebagai kiblat artinya menjadikan rumah sebagai tempat menghadap, tempat kembali, tempat pulang. Misalnya, seorang suami bekerja, maka rumah menjadi fokus perhatiannya sehingga apa-apa yang dilakukan di tempat kerja adalah untuk kebaikan anak dan istrinya. Anak-anak yang pergi bersekolah dan belajar, maka rumah fokus perhatiannya sehinggaapa-apa yang dipelajari adalah untuk menjaga kualitas generasi penerus keluarganya. Begitu pula istri yang berada di rumah, tentu akan dengan senang hati menjaga kiblatnya, menjaga kehormatan keluarga dan kenyamanan para penghuninya.

Di sinilah mengapa konsep rumah sebagai kiblat itu penting demi membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Pertama, mempererat rasa dan ikatan kekeluargaan dengan banyak melakukan kegiatan berjamaah di rumah, sholat sunnah, dzikir, belajar, mengaji, dan sebagainya. Sungguh suatu hal yang indah jika setiap habis shubuh dan maghrib, Sang Ayah memimpin keluarganya mengaji, seletiap selesai shalat dan pagi-sore, Sang Ayah memimpin berdzikir bersama sambil leisure time di halaman belakang rumah. Lalu, setiap malam SAng Ayah mengadakan pengajian rutin dan dilanjutkan belajar bersama di ruang keluarga sambil bercanda-ria.

Inilah yang sedang saya usahakan untuk menjadi rutinitas saya dengan Zahra. Setiap selepas shubuh sampai syuruq, kami mengaji bersama untuk ziyadah hafalan, Zahra Al-Quran dan saya hadits. Kemudian, setelahnya kami saling menyetor sambil jalan-jalan olahraga pagi. Begitu juga setiap pagi dan sore kita panjatkan bersama-sama dzikir dan doa rabithah agar ikatan cinta dan kasih sayang di antara kami langgeng dan diliputi oleh keimanan. Begitu pula ketika malam selepas maghrib dan isya’, kami gunakan waktu bersama untuk murojaah. Dan sebelum tidur dilanjutkan dengan kegiatan Ma’had Lail. Kami berusaha menjadikan rumah sebagai pusat kegiatan keluarga, dan kelak nantinya sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Kedua, dengan menjadikan rumah sebagai kiblat, maka kita bisa memastikan rumah kita terhindar dari keburukan yang disebutkan dalam hadits Rasulullaah saw berikut ini, “Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an di dalamnya). Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah.” (H. R. Muslim). Rumah yang seperti ini sungguh merupakan seburuk-buruk rumah. Rumah seperti kuburan ini biasanya hanya digunakan untuk kebutuhan naluriah seperti makan, MCK, dan tidur. Bahkan, na’uudzubillaah, cuma dipakai tidur saja sehingga wajar jika diibaratkan kuburan, karena tidur dan mati adalah dua hal yang serupa tapi tak sama. Hal ini berlaku pula untuk kos-kosan, kontrakan, kantor, hotel, ataupun jenis tempat tinggal lainnya.

Ketiga, dengan menjadikan rumah sebagai kiblat, maka akan memudahkan suami atau istri dalam menjaga diri. Ketika rumah sudah selalu berada di hadapannya, maka susah bagi suami atau istri untuk berbuat serong atau berselingkuh. Dimanapun suami atau istri berada, ia akan selalu ingat bahwa di rumah ada keluarga, pasangannya dan anak-anaknya menanti kehadiran dan kasih sayangnya. Sebaik apapun kelebihan dan kekagumannya pada orang lain, ia akan tetap melebihkan keluarganya, anak-anaknya dan pasangannya, dalam prioritas cintanya. Maka, ia akan menyimpan lemah-lembutnya, kasih sayangnya, cintanya, selama di luar rumah, dan meluapkannya ketika pulang ke rumah kepada keluarganya. Inilah yang saya bilang bahwa keluarga adalah orang yang paling berhak mendapatkan versi terbaik dari diri kita sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya di sini. Ya, they deserved to get that kind of love from me.

Terakhir, dengan menjadikan rumah sebagai kiblat, maka saya akan bisa melaksanakan nasehat dari Bang Bachtiar Firdaus yang sangat singkat, yaitu baiti jannati, baiti haraki, rumahku surgaku, rumahku pergerakanku. Dengan memusatkan kegiatan keluarga di rumah, dengan visi yang kuat dan jauh ke depan, maka kita akan mampu membangun sebuah keluarga sekaligus basis pergerakan di masyarakat, baik untuk dakwah, amal, maupun perubahan sosial.

Maka, jika beberapa tahun yang lalu, saya ingat dengan sebuah tagline calon pemimpin daerah yang berkata, “Ayo bali ndeso, mbangun deso”, Ayo kembali ke desa untuk membangun desa, dan hari ini banyak desa yang sudah mulai berkembang, bahkan bisa makmur dan mandiri. Hari ini, melihat kondisi masyarakat yang semakin jauh dari keluarganya, banyak masalah dalam keluarganya, maka sepertinya tak salah jika saya juga mengajak mereka yang sudah menikah untuk, “Ayo bali ngomah, mbangun omah”, Ayo pulang ke rumah untuk membangun rumah. Membangun rumah bukan hanya dari fisik namun lebih penting dari itu adalah karakter dan idealisme para penghuninya.

Akhirnya, mari bersama-sama membangun keluarga untuk menjadi pondasi peradaban umat!

Allaahumma (i)j’alnaa mim may-yujaahidu fiika wa tahdii ilainaa subulanaa…

Ya Allaah, jadikanlah kami orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Mu dan Engkau tunjuki jalan kami untuk menjadi versi terbaik diri kami…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *