Mengasah Pedang

Barangkali, tahun ini akan menjadi tahun paling senyap bagi saya. Betapa tidak, keadaan memaksa saya untuk cuti selama satu semester dan mengambil hanya satu SKS di semester depan. Hal ini berarti satu tahun ke depan saya akan banyak mengganggur karena tidak punya banyak kewajiban yang harus ditunaikan. Dan di sisi lain, saya berarti menunda kelulusan jenjang pre-klinik saya sampai satu tahun ke depan.

Sedih? Awalnya ya, pasti. Apalagi saya masih punya kewajiban menjalani pendidikan profesi selama kurang lebih dua tahun. Ketika teman-teman sibuk ke sana ke mari mencari pasien, saya hanya duduk-duduk baca buku. Ketika besok saya mulai koass, teman-teman saya sudah jadi dokter gigi. Betapa jauh ketertinggalan saya kalau dibandingkan mereka ya.

*****

Saya masih terus mencari hikmah dibalik kejadian ini. Dan berpikir barangkali ini adalah jawaban atas doa-doa kami sendiri. Saya begitu mengamini Imam Al-Ghazali yang mengatakan bahwa sejatinya tujuan pendidikan itu ada dua, yakni untuk menjadikan peserta didik menjadi sebaik-baik hamba, dan memberi bekal kepadanya untuk beramal. Atas konsep yang saya yakini itu, saya terus berdoa, supaya Allaah karuniakan ilmu yang akan mendekatkan diri saya pada-Nya dan menjadi bekal untuk mencetak ahsanu amalan saya.

Tentu kita menyadari, bahwa jika tujuan pendidikan menurut Imam Al-Ghazali itu menjadi parameter keberhasilan pendidikan di Indonesia, barangkali tidak ada satupun sekolah (bukan madrasah) dan perguruan tinggi negeri yang mencapai tujuan itu. Bahkan barangkali pendidikan kita justru menjauhkan peserta didiknya dari dua tujuan itu.

Di negeri ini, tujuan pendidikan itu tidak bijak rasanya jika dimaknai sebagai tujuan institusional, tapi akan jauh lebih bijak jika diterapkan dalam ranah individual. Maka, tugas kita sebagai individu itulah yang seharusnya meraih tujuan itu secara mandiri. Jadi ketika kita sudah mencapai tujuan kedua dari pendidikan di sekolah dan universitas, tugas lainnya adalah mencapai tujuan pertama melalui pendidikan agama. Beruntungnya, sudah banyak pula kajian, ma’had, buku-buku agama serta petuah online para da’i yang dapat menjadi sumber meraih tujuan utama pendidikan itu.

Di titik inilah, saya merasa doa saya dikabulkan. Allaah barangkali ingin memberi saya jeda untuk mengejar tujuan utama pendidikan itu, untuk menggali ilmu dan hikmah supaya lebih mengenal dan mendekat pada-Nya. Atas afirmasi positif ini, saya sungguh tak bisa menahan tangis. Kembali lagi Allaah menunjukkan kuasa dan rahmat-Nya. Bahwa, yah, apa yang kita rasa buruk untuk kita rupanya bagi Allaah itulah yang terbaik. Dan bahwa Ia sama sekali tidak pernah ingkar janji untuk mengabulkan doa-doa hamba-Nya.

*****

Somehow, waktu yang begitu luang ini membuat saya banyak sekali belajar. Tidak hanya dari buku-buku dan kitab-kitab yang saya baca, kajian-kajian yang saya ikuti, atau kelas-kelas yang saya ambil, tapi dari waktu luang itu sendiri saya belajar. Belajar untuk menerima takdir, belajar untuk terus berprasangka baik kepada Allaah, belajar memenuhi fitrah sebagai perempuan karena sepanjang hari tinggal di rumah, serta belajar untuk memenej waktu.

Saking banyaknya pelajaran dan hikmah yang dapat diambil, saya pikir waktu luang ini jauuuuh lebih berharga daripada kalau semua berjalan sesuai rencana. Memang benar yang orang bilang, bahwa dalam hidup kita perlu menyingkir sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk mengasah pedang.

Seperti ketika Ghazali mengembara selama 11 tahun seorang diri. Orang barangkali menganggapnya tidak berguna dan tidak produktif, tapi siapa sangka dari uzlahnya itu terlahir kitab Ihya ‘Ulumuddin, konsep tasawuf yang syar’i dan gerakan Islah yang gemanya masih terasa hingga sekarang.

Seperti pula Ibnu Khaldun, yang berkat uzlahnya, terlahir kitab yang begitu mendunia sampai menjadi bacaan wajib para entrepreneur di Amerika sana, Mukaddimah.

Seperti pula Maryam, yang atas segala taqarrub yang Ia lakukan di mihrabnya, terlahirlah Isa Al-Masih yang keagungan dan kemuliaannya hingga kini tidak hanya diakui oleh umat muslim saja, melainkan juga umat Nasrani dan bahkan Yahudi.

Barangkali terlalu utopis jika saya menyamakan output uzlah saya sebesar para tokoh di atas. Tapi dalam setiap doa saya berharap, paling tidak dalam jeda yang bertepatan dengan kehamilan pertama ini Allaah jadikan janin yang saya kandung ini terlahir menjadi sebaik-baik hamba dan prajurit-Nya. Sungguh, tidak ada yang lebih menggetarkan hati daripada bayangan ketika keturunan kami kelak akan dapat menjadi ulama besar, pemimpin umat, serta pembebas-pembebas umat dari segala belenggu kebodohan, kemiskinan, dan kekafiran. Di atas semua ambisi dan mimpi-mimpi duniawi saya, tidak ada yang lebih mengharu-biru daripada ambisi untuk mewujudkan generasi terbaik itu.

Dan di sinilah, di jeda saya inilah, rupanya Allaah ingin benar-benar mentarbiyah saya. Tidak hanya menjadi sebaik-baik penuntut ilmu, tapi juga sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai pewaris generasi peretas kemilaunya Islam kelak.

Ah, semoga dikuatkan, Zah. Rabbaana hablana min azwaajina wa dzurriyatiina qurrata a’yun, rabbaana waj’alna lil muttaqiina imaama.. 

2 thoughts to “Mengasah Pedang”

  1. Allahumma aamiin…
    Selamat menjalani tarbiyah, Allah pasti karuniai berkat uzlah terbaik, jauh lebih baik dari yang dik Zahra harapkan. Mengapa? Mungkin karena uzlah dijalani dalam kondisi kepayahan, dik Zahra ditarbiyah dalam status sebagai mujahidah. Bukankah mengandung itu jihad? Barakallahu fiik

  2. Selamat menjalani tarbiyah, Allah pasti karuniai berkat uzlah terbaik, jauh lebih baik dari yang dik Zahra harapkan. Mengapa? Mungkin karena uzlah dijalani dalam kepayahan, dik Zahra ditarbiyah dalam status sebagai mujahidah. Bukankah mengandung itu jihad?
    Barakallahu fiik….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *