Kejutan

Dulu, sebelum menikah, Ummi saya pernah berpesan, “Jangan pernah berharap diberi, tapi selalulah berkeinginan memberi”. Pesan itu pendek, tapi rupanya bisa diaplikasikan di mana saja. Seperti Ummi yang tidak hanya mempraktikannya dalam rumah tangga, tapi juga di pesantren yang ia didirikan, di organisasi yang ia cintai, serta di tengah-tengah ummat yang mencintainya.

Saya beruntung punya role model yang begitu sempurna, hampir tanpa cela. Seolah begitu mudah dan dekat untuk mengejawantahkan prinsip itu dalam tiap-tiap tindakan nyata. Tapi rupanya, setelah lepas dari Ummi, prinsip itu tidak semudah tampaknya untuk dijalankan.

Terkadang, masih adaaaa saja keinginan-keinginan untuk dimanjakan, untuk bermalas-malasan, untuk beristirahat, untuk mengalihkan tugas ke suami atau orang lain. Ketika keinginan itu sudah muncul, lupa deh sama prinsip yang di atas tadi. Boro-boro mau dilaksanakan, ingat saja tidak.

Tapi suatu hari, Allaah berkenan juga menegur saya. Setelah beberapa hari menginap di rumah Ummi karena Mas Fahmi jaga malam dan saya mengurus pindah KK, saya akhirnya pulang juga ke rumah kecil kami. Dalam benak saya, ah habis ini nanti masih nyuci, ambil laundry, bersih-bersih, dan sederet pekerjaan rumah lain. Baiklah, Zah, brace yourself.

Tapi rupanya saya mendapati hal sebaliknya. Betapa kaget saya ketika mendapati baju kotor sudah tercuci, lantai sudah bersih mengkilap tanpa debu sedikitpun, laundry sudah diambil, semua peralatan makan sudah tertata rapi di rak, di ujung sana sudah ada jus jambu dingin di dalam gelas favorit saya, serta ada sesosok yang amat saya sayangi sedang pura-pura tidur. Hahaha kebiasaan memang kalau sedang menunggu pulang, pura-pura tidur jadi sambutan paling spesial. Sungguh, bagi seorang istri, rumah beres dengan sendirinya adalah kejutan paling manis.

Ah, kalau saya tidak malu, pasti tumpah air mata saya waktu itu. Bukan hanya karena kejutannya, bukan. Tapi saya merasa Allaah sedang menegur saya dengan sangat halus. Malu sekali rasanya diberi kejutan begitu spesial, tapi saya jarang sekali saya memberi kejutan. Saya seolah sedang diingatkan, betapa sudah lama sekali saya melupakan prinsip di atas. Betapa, sudah lama sekali saya melakukan banyak pekerjaan hanya supaya menggugurkan kewajiban, tanpa niatan untuk menjadikannya sebagai amalan terbaik saya. Betapa, akhir-akhir ini saya sibuk mencari kebahagiaan untuk diri saya sendiri, dan lupa bahwa sejatinya kebahagiaan hakiki adalah ketika membahagiakan orang lain.

Lepas ini, saatnya memasang ikat kepala lagi. Dan berusaha sebaik mungkin memberikan kejutan-kejutan untuk orang-orang tercinta. Bukan hanya yang tampak secara fisik, tapi pengorbanan menahan marah, tetap tersenyum di kala sedih, pengorbanan-pengorbanan yang tidak orang ketahui, serta doa-doa tertulus yang terpanjat di hening malam bisa juga jadi kejutan terbaik. Bukan di dunia barangkali kejutan itu akan membahagiakan mereka, tapi apatah dunia kalau akhirat memberi lebih dari sekedar janji?

Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabda: Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu bergoyang, maka Dia menciptakan gunung-gunung, lalu bumi itu menjadi tidak bergoyang. Maka malaikat heran terhadap kehebatan gunung.

Lalu mereka bertanya: Wahai Tuhanku adakah makhlukMu yang lebih hebat dari gunung? Dia berfirman : ya besi. Mereka bertanya: Wahai Tuhanku adakah MakhlukMu yang lebih hebat dari besi ?
Dia berfirman: ya api.

Mereka bertanya lagi: Wahai Tuhanku adakah makhlukMu yang lebih hebat dari api?.
Dia berfirman : ya Air.
Mereka bertanya: Wahai Tuhanku adakah makhlukMu yang lebih hebat dari air?
Dia berfirman : ya angin.

Mereka bertanya: Wahai Tuhanku adakah makhlukMu yang lebih hebat daripada angin?
Dia berfirman: Ya anak adam yang tangan kanannya mensedekahkan sesuatu dengan bersembunyi dari tangan kirinya

(HR. Attirmidzi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *