Semua Akan “Hamil” Pada Waktunya

Dulu, sebelum menikah, saya adalah jenis orang yang paling tidak suka melihat orang gemuk. Entahlah, bukan bermaksud underestimate, namun di alam bawah sadar saya selalu mengatakan bahwa sebaiknya tidak banyak berkawan dengan orang yang gemuk. Barangkali, itu adalah alarm dari dalam diri saya agar saya tahu diri. Kantong saya ukurannya lebih kecil, jadi jangan sampai terbawa pola hidup yang porsi makannya banyak.

Maka, ketika ada saudara atau karib kerabat saya yang menggemukkan diri, saya sering mengingatkan sambil menyindir atau bercanda. Biasanya, saya selalu menyindir saudara-saudara saya yang menjadi pengantin baru. Baru beberapa bulan menikah, sudah “hamil” duluan. Adegannya selalu sama,

“Wah, sekarang makin makin subur e, Mas. Bajunya jadi kekecilan semua, heuheu.” Saya menyindir sambil bercanda.

Dan jawabannya selalu sama,

“Jangan gitu, kamu. Besok kalau udah nikah, lihat aja, kamu juga akan merasakan bagaimana jadi orang gemuk.”

Balasan saya juga selalu sama.

“Nggak, nggak mungkin aku jadi gemuk.”

*****

Tapi itu dulu…

Sekarang, ketika kehamilan Dek Zahra memasuki minggu kesembilan, saya mengerti mengapa semua laki-laki akan “hamil” pada waktunya. Saya merasakan betul bagaimana perjalanan penggemukan seorang calon ayah.

Ya, akhir trimester pertama adalah masa yang paling berat bagi seorang ibu hamil. Saat dimana mual-muntah selalu dialami setiap hari. Indera dan perasaannya semakin sensitif. Keinginannya pun rumit dan bermacam-macam, orang menyebutnya “ngidam”. Saya bersyukur, kami melalui dengan tidak terlalu berat sampai harus mengubah rutinitas harian kami.

Di akhir trimester pertama ini, Dek Zahra jadi sedikit susah makan seperti ibu hamil pada umumnya. Padahal, sesuai aturan harusnya ibu hamil menambah frekuensi makan dengan porsi kecil-kecil agar kebutuhannya yang bertambah tercukupi dan tidak mual-muntah. Di sinilah perjalanan penggemukan itu dimulai.

Dek Zahra yang hanya doyan makanan tertentu saja, hampir tidak selalu menghabiskan makanan yang disajikan karena merasa mual ketika sudah beberapa suapan. Nah, supaya tidak sia-sia, saya lah yang kemudian menghabiskan. Awalnya, saya merasa senang, karena bisa makan enak lebih banyak. Belakangan saya sadar, ketika beban tubuh saya bertambah berat karena saya “hamil” duluan.

Celakanya, saya terlambat menyadarinya. Dan untuk mengembalikan seperti semula tampaknya butuh waktu yang lama mengingat usia kehamilan masih panjang. Bukan karena mual-muntah muntahnya yang terus terjadi, tapi waktu olahraga dan pembakaran kalori lainnya semakin tersita untuk memperhatikan Dek Zahra.

Dan begitulah saya akhirnya menelan kata-kata saya sendiri. Yaaah, pada akhirnya semua akan “hamil” pada waktunya. 

*****

Meski akhirnya perut saya sedikit menggelembung, saya tidak mau melanggar prinsip hidup saya. Perut tidak semestinya gemuk. Prinsip saya simpel, ketika perut gemuk, maka ada sesuatu yang berlebihan masuk ke dalam tubuh saya. Makanan yang seharusnya bisa diberikan untuk orang-orang yang kurang nutrisi dan kelaparan di lain tempat masuk ke perut saya. Ada hak yang seharusnya milik orang lain yang saya langgar.

Sahabat Umar ibn Al-Khatthaab ra pernah memarahi orang yang gemuk dan menyebutnya sebagai sumber azab Allaah swt. Bahkan, Rasuulullaah saw mengingatkan mereka yang berperut gemuk dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Imam At-Tirmidzi,

“Jangan keras-keras sendawanya, sesungguhnya orang yang paling sering kenyang di dunia, dia paling lama laparnya di akhirat.”

Sementara kata Imam Asy-Syaafi’i hafidhahullaah tentang orang yang gemuk adalah sebagai berikut,

“Karena seorang yang berakal tidak lepas dari dua hal, sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya Sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti dia sama saja dengan hewan, jadilah gemuk.”

Hanya, tidak semua kegemukan menandakan keburukan. Rasuulullaah saw pun di usia senjanya juga sempat mengalami kegemukan. Syaratnya adalah, tidak menghalangi seseorang untuk beraktivitas. Dalam arti lain, kegemukannya tidak menimbulkan kemalasan bagi dirinya. Syarat satu lagi, kegemukannya bukan karena makan yang berlebihan.

Maka, saya pun membuat jadwal pengurusan diri saya sendiri. Pertama, saya berusaha lebih rutin puasa sunnah namun dengan porsi dan menu berbuka yang lebih sedikit. Kenapa? Karena cadangan sumber energi dalam tubuh saya masih cukup untuk beraktivitas seharian. Sehingga cadangan lemak yang menumpuk bisa terbakar.

Kedua, saya mencoba mengurangi frekuensi makan. Jika sebelumnya tiga kali atau lebih, jika harus menghabiskan makanan sisa, maka sekarang hanya dua kali sehari. Atau frekuensi tetap namun porsi berkurang. Prinsip ini seperti prinsip makan sehat yang terkenal yaitu,

“Eat breakfast like a king, lunch like a prince, and supper like a pauper”

Ketiga, setiap kali beli makanan, saya dan Dek Zahra hanya akan memesan satu menu untuk berdua dulu. Jika dirasa cukup, maka tidak perlu menambah pesanan. Jadi, saya menunggu batas terakhir kemampuan makan Dek Zahra. Ini bertujuan agar saya tidak membuang kelebihan sisa makanan ke perut saya.

Keempat, saya berusaha untuk menambah amalan yaumiyah yang bersifat fisik. Misalnya, sholat sunnah, puasa sunnah, riyadhoh Al-Quran, dan lain sebagainya. Ini penting untuk mengganti pembuangan kalori yang biasanya dijadwalkan saat olahraga, mengingat waktunya habis untuk koass dan mengajar anak-anak.

Terakhir, saya mengurangi kebiasaan begadang. Sebagai gantinya, saya tidur lebih awal dan begitu pula bangunnya. Ini saya lakukan mengingat kebiasaan begadang seseorang berbanding lurus dengan kebiasaan ngemil dan makan junk food. Karena pada malam hari, ketika kita memaksa tubuh untuk begadang, tubuh kita mengeluarkan hormon leptin dan ghrelin yang cenderung membuat kita merasa lapar, padahal tidak. Maka, dengan menghindari begadang, kita bisa menghindarkan rasa lapar yang menipu.

Cukuplah Rasuulullaah saw mengingatkan kita dengan sabdanya,

“Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jikapun ingin berbuat lebih, maka sepertiga untuk makanan, dan sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.”

Allaahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan thayyiban wa’ amalan mutaqabbalan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *