Panggilan Bersatu

Judul buku          : Panggilan Bersatu, Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa

Penulis                 : Buya Hamka

Penerbit              : Galata Media

Jumlah Halaman : 252 halaman

 

Selalu ada ketenangan yang tiba-tiba melingkupi ketika membaca tulisan Buya Hamka, Tidak terkecuali pada buku tipis ini. Kali ini, Buya Hamka tidak hanya meniupkan ketenangan itu ke dalam jiwa semata, tapi merambah ke ranah pergerakan dan persatuan ummat. Terdapat 20 tulisan khas Buya yang terbagi menjadi dua tema besar, yakni tentang ‘Persatuan Umat’ dan ‘Menjayakan Ummat’. Meski kedua tema tadi cukup ‘menyeramkan’, tapi sebagaimana tulisan Hamka yang lain, menyelaminya alih-alih membuat kita bangkit karena tertampar marah, justru membuat kita bangkit karena ketenangan yang berbalut lembutnya kata-kata buya itu, nyatanya dapat menambah keimanan kita.

***

Tema pertama tentang ‘Persatuan Umat’ rupanya tidak semata membahas tentang definisi dan bagaimana cara membangunnya. Tapi lebih jauh, Buya langsung menembak perkara yang paling ditakuti pada zamannya – dan mungkin juga saat ini – yakni tentang khilafiyah (perbedaan pendapat – red).

Perkara menakutkan seperti khilafiyah itu Buya kuliti dengan bahasa yang begitu santai bak sedang menguliti kulit singkong. Dimulai dengan memunculkan contoh ikhtilaf yang terjadi di mahdzab-mahdzab dan organisasi besar, Hamka lalu menjabarkan sudut pandangnya mengenai khilafiyah. Bahwa menurutnya, khilafiyah tidak boleh mati. Khilafiyah penting sekali untuk terus dihidupkan karena dengannyalah pikiran akan terasah, hukum akan maju, dan Islam menjadi relevan dengan makan (ruang) dan zaman (waktu).

Hanya, yang kemudian perlu menjadi perhatian adalah, setiap yang akan terjun ke arah sana haruslah sudah menghujamkan akarnya jauh ke dalam tanah, namun juga merindangi sekitar dengan dahan teduhnya. Maksudnya, seseorang tidak hanya harus memiliki kedalaman ilmu ketika hendak membicarakan perkara khilafiyah, tapi juga toleransi dan kelapangan hati dalam menerima pendapat orang lain. Kedua aspek ini harus betul dipegang. Karena kalau tidak, akan terjadi apa yang disebut Imam Ghazali, “tidaklah tersesat suatu kaum sesudah mendapat petunjuk, hanyalah sesudah mereka membawa debat-berdebat”. Alih-alih memajukan dan menyatukan umat, ketika salah satu aspek ini ditinggalkan, justru kemunduran dan kejumudan yang kemudian akan terjadi.

Ada sebuah tulisan yang menarik di akhir tema besar ini, yang kiranya menjadi jembatan dengan tema besar setelahnya. Yakni adalah tentang Shalahuddin Al-Ayubi. Dikisahkan dengan begitu indah oleh Buya, bagaimana Shalahudin dan para pendahulunya rela menceburkan diri dalam perkara khilafiyah yang saat itu sudah sangat keruh. Mereka mengerahkan segala yang mereka punya demi memberi pencerahan kepada umat, dan membangun kembali kekuatan-kekuatan yang mulai pulih. Setelah beberapa generasi bergulir, barulah di tangan Shalahudin, ikhtiar itu betul-betul mencapai puncak jayanya. Ummat tidak hanya terbebas dari kebodohan karena mandegnya pengetahuan, tapi juga terbebas dari kemiskinan dan belenggu kekuasaan yang dzalim karena Palestina dibebaskan. Kisah terakhir ini seolah menjadi contoh ‘kisah sukses’ pengimplementasian pemikiran-pemikiran Buya Hamka di tulisan-tulisan sebelumnya.

***

Setelah banyak membahas tentang khilafiyah, di tema besar yang kedua, Buya lebih banyak membahas tentang ­how-to menjayakan ummat. Baginya, budaya Indonesia kini ada di tengah-tengah budaya Hindu dan Barat. Kebudayaan Hindu begitu kental terasa di masyarakat. Tidak hanya secara prosesi saja, tetapi juga secara ruhani. Bagi orang Hindu, hidup adalah sebuah penderitaan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Pandangan inilah yang ketika diadopsi oleh masyarakat kita kemudian, memunculkan berbagai aliran kebatinan. Maka, ketika seseorang memiliki masalah, ia akan mencari pertapaan atau sarana penyiksaan diri supaya dirinya bersih lagi.

Berkebalikan dengan Hindu, kebudayaan Barat justru jauh dari kata kebatinan. Barat menuhan pada intelektualnya, pada logikanya, dan pada nafsunya. Tentu kita sudah mafhum bagaimana anak muda jaman sekarang telah jauh dari kata prihatin, syukur, apalagi sabar. Ketika menghadapi masalah, mereka akan lebih memilih mencari kesenangan supaya lupa pada masalah-masalahnya itu. Setelahnya? Masalahnya masih ada, tapi hiburan yang lain lagi tersedia.

Satu hal yang menjadi sari pati tulisan Hamka di tema besar kedua ini, yakni adalah al-‘adab qobla ‘ilmu, al-‘ilmu qobla ‘amal. Jauh sebelum kita mencari ilmu, kita sudah harus selesai dengan adab, dengan iman. Dan jauh sebelum kita beramal, kita harus sudah memiliki ilmu. Dan kejayaan itu, adalah akumulasi dari ‘amal yang melahirkan pemimpin yang sejati dan jama’ah yang kokoh.

Barangkali kita memang perlu belajar dari Hindu dan Barat, dan menjadikannya patokan supaya kita tetap di tengah-tengahnya. Jika kepercayaan akan hari akhir (baca: iman) dan intelektualitas disatukan, barulah akan terkumpul ‘adab dan ‘ilmu itu. Kemudian ketika ilmu yang hakiki sudah di kepala, tangan dan kaki yang kemudian harus terayun. Pun tidak sembarang terayun, haruslah iman tetap menjadi pedoman, dan kaum papa yang paling pertama dibela. Karena sudah kering tertulis hadist terkenal ini, “Nyarislah kemiskinan itu membawa kepada kafir”. Mengantaskan kemiskinan, akan pula mengentaskan kebodohan, penyakit, dan bahkan kekafiran.

Dalam perjuangan membebaskan kaum papa itulah, kemudian akan muncul pemimpin sejati. Ialah ia yang tidak takut dicaci, takut miskin, apalagi takut mati. Di dalam hati dan pikirannya sudah tertanam kuat untuk melakukan sebaik-abaik amal, sebaik-baik bekal untuk mati kelak. Keinginannya bertemu dan berforum dengan Rasulullaah di surga sudah melapau segalanya, hingga tak gentar ia bertemu musuh, apalagi bertemu lelah. Apalagi ia tidak sendirian. Pemimpin-pimimpin sejati ini tentu punya teman yang sejati pula. Bukan mereka yang ikut ke mana saja dan seiya sekata, tapi mereka yang siap mengingatkan di kala alpa dan menyemangati di kala semangat mereda. Karena iman itu punya puncak dan punya lembah. Dengan berjama’ahlah gelombang iman akan begitu dahsyat menggerakkan bahtera.

***

Overall, saya berani bilang. Bahwa buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Khas Hamka sekali. Meski banyak aspek sebetulnya bukan hal baru, tapi kemasan yang Buya tawarkan kembali membuat konten lama itu menjadi api lagi yang menyala dalam diri.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *