Media Sosial dan Catatan Amal Kita

Kadang saya suka sebal jika melihat Dek Zahra asyik dengan Xiaomi-nya sambil ketawa sendiri. Saya sedikit kurang suka karena biasanya dia sedang scrolling timeline sambil nonton video atau kiriman lucu dari teman-temannya. Biasanya saya cuma menegur dengan menyindir,

Kuotanya sisa berapa ya? Bulan ini masih panjang lho.

Atau dengan cara,

Suaminya di sini lho, kasihan banget nih dianggurin.

Biasanya, Dek Zahra hanya akan membalas tersenyum sambil manyun dan berkata,

Biarin aja, Mas Fahmi juga sering nganggurin kalau pas di rumah, sering asyik maen PES sendiri.

Atau dengan begini,

Kan videonya bermanfaat, kaya life hack, motivasi, atau taushiyah. Kan kata Mas Fahmi kalau kebaikan nggak usah nanggung.

Hmmm, bersyukurlah saya punya istri yang pandai dan kritis. Termasuk pandai berkilah dan kritis menyindir suaminya, hehe. Tapi, apapun itu, saya jadi bersyukur karena kami bisa senantiasa saling mengingatkan dengan cara yang saling maklum dan tafaahum. Sehingga, kami tidak terlalu dalam jika jatuh saat sedang futur. Ada tangan yang selalu bisa dijadikan pegangan untuk menarik ke permukaan iman kembali.

*****

Disadari atau tidak, saya, Dek Zahra, dan mungkin juga kita semua, hari ini telah kecanduan media sosial. Jika dihitung, bisa jadi kebanyakan waktu kita habis untuk bercengkrama dengan media sosial. Bangun tidur cek hape, mau makan foto dulu, berangkat ke kampus atau ke kantor pakai check-in, dan kebiasaan lainnya.

Kami pun juga melakukan hal yang sama, terbawa arus manusia yang kalah oleh kecerdasan smartphone. Hanya, kami berusaha senantiasa memunculkan sesuatu yang baik di media sosial. Alasannya sederhana, selain berbagi kebaikan dan kabar bahagia sebagai tahadduts bin ni’mah, juga barangkali memberi inspirasi untuk yang melihat.

Namun, lama-lama kami bosan juga. Kami ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu. Kami juga ingin mendapatkan hikmah dari mengapa Allaah swt jadikan media sosial menjadi adiksi kita hari ini. Kami tidak ingin waktu kami hilang begitu saja dengan banyaknya hikmah yang terlewat. Karena, tanpa sadar, media sosial sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Penggunanya mulai dari orang kaya sampai yang susah makan, dari tokoh nasional hingga tukang cukur, dari profesor sampai anak TK bahkan.

Alasan lainnya, kenapa kami ngotot ingin mendapatkan hikmahnya, adalah jika kita perhatikan segala sesuatu yang dijadikan Allaah swt sebagai objek sumpah di dalam Al-Quran, kebanyakan adalah sesuatu yang kita temui sehari-hari. Ya, Allaah swt ingin kita belajar dari hal yang sifatnya sangat dekat dengan kita supaya mudah mengingat. Maka, tentu ada yang ingin Allaah swt ajarkan dan tunjukkan dari adiksi media sosial ini. Lama sekali kami merenungi dan memikirkannya.

*****

Hingga akhirnya, saya teringat tentang pelajaran TPA ketika kecil dulu. Saat itu, ustadzah saya, Bu Kam, menjelaskan bahwa kelak di akhirat, di hari pengadilan, semua amalan kita ditampakkan kembali secara utuh dan detail. Kita seperti ditelanjangi dan tidak bisa berbohong sedikitpun karena semua bukti ada. Saya langsung bertanya ketika dijelaskan begitu,

Bu, bagaimana caranya Allaah swt ngasih tahu ke kita tentang amalan tersebut?

Ya kan Allaah swt punya catatan amal kita. Jadi nanti amalan kita, baik ataupun buruk, akan diputar kembali seperti video rekaman itu.

Saya kurang puas dengan jawaban tersebut meski terkesan masuk akal.

Dan jawaban itu ternyata sama dengan kegundahan saya beberapa hari terakhir ini. Ya, cara Allaah swt menunjukkan amalan kita kelak di hari pengadilan adalah seperti media sosial bekerja hari ini.

Media sosial menyimpan semua informasi penting kita, bahkan kadang pada hal yang sangat privat sekalipun. Media sosial juga merekam jejak kita di dunia maya. Rekam jejak yang baik akan menunjukkan sosok kita yang baik dalam membangun profil pencitraan di dunia maya. Sebaliknya, rekam jejak yang buruk di media sosial akan menurunkan citra baik yang berusaha kita bangun di dunia nyata. Bahkan, saya pernah diberi tahu, jika ingin mengenal orang hari ini, lihat track record-nya di media sosial. Karenanya, saya diwanti-wanti untuk selalu menyebarkan hanya yang baik saja. Dan yang lebih menyesakkan adalah, kita secara sukarela bahkan kecanduan, mencatatkan rekam jejak kita di media sosial.

Maka, kira-kira begitulah Allaah swt mencatat amalan kita. Allaah swt bahkan tidak kerepotan mencatat, karena kita sendirilah yang menuliskan catatan amal kita. Sehingga, ketika harinya tiba kelak, Allaah swt tinggal menunjukkan kembali kepada kita, rekam jejak kehidupan kita selama di dunia, yang kita tulis secara keseluruhan tanpa kebohongan, baik atau buruknya, sedikit atau banyaknya.

Sebagaimana kita bisa melihat track record seseorang di belakang melalui media sosial, dari zaman belajar nulis status, jadi anak dengan status alay, sampai mulai menulis yang baik, dan mulai berbagi gagasan, semua tercatat dengan baik dalam penyimpanan media sosial kita. Di akhirat pun, kita akan melihat semua amal dan profil diri kita sejak anak-anak hingga meninggal dunia kelak.

Meski begitu, kita bisa memilih, amalan manakah yang akan ditampakkan di hari pengadilan nanti, amalan yang baik ataukah yang buruk. Jika kita ingin amalan yang baik, maka kita tinggal menuliskan dan mencatatkan amalan yang baik. Atau, jika kita terlanjur melakukan amalan yang buruk, kita bisa menghapusnya dengan memperbanyak amalan baik dan memohon ampun atas dosa kita. Sehingga, kelak Allaah swt hanya menampilkan jejak kehidupan kita yang baik saja. Wa atbi’is sayyiatal hasanata tamhuuhaa

Barangkali inilah salah satu hikmah mengapa Allaah swt berkehendak membiarkan media sosial mengalihkan perhatian dan menjadi bagian penting kehidupan setiap kita. Agar kita paham dan mengerti, bagaimana kita mencatat amalan kita dan kelak Allaah swt menunjukkannya kembali pada kita.

Dan diletakkanlah Kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka Kami, Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang juga pun.” (Al-Kahfi 49)

Yaa Allaah, selamatkanlah kami di hari pengadilan-Mu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *