Jangan Rewel

Entah, orang-orang di sekitar saya, tiba-tiba sudah hamil dan mau punya anak saja. Tiba-tiba di telinga kami bersliweran kabar mbak ini ngidam ini, mbak itu sampai nggak bisa bangun, mbak ini nggak bisa masuk dapur, mbak ini kalau cium bau suaminya muntah, mbak itu begini, begitu, dan segala kabar tentang kondisi kehamilan orang-orang. Mendengar yang seperti itu, sesungguhnya saya jadi khawatir, bagaimana kalau saya hamil besok. Tapi ternyata ada yang lebih khawatir, sampai bilang,

“Pokoknya besok kalau hamil nggak boleh rewel ya.”

Eh, sehari setelah bilang begitu, kami menemukan dua garis merah di testpack yang kami beli. Hidup ini kadang bisa begitu lucu ya.

Gara-gara dibilang nggak boleh rewel, sesungguhnya, saya jadi menekan banyak sekali keinginan. Entah ini keinginan biasa atau ngidam, tapi sebisa mungkin saya tahan-tahan supaya tidak dibilang rewel. Bahkan kalaupun perut mual di tengah malam, saya tidak berani membangunkan Mas Fahmi hanya demi tidak tampak rewel. Meski, setelah saya cerita paginya, Mas Fahmi ngomel-ngomel kenapa tidak dibangunkan. Yah, kata-kata nggak boleh rewel itu nyata benar-benar melatih saya untuk bersabar dan berdaya.

Somehow, kami pernah mendiskusikan panjang lebar mengenai kenapa ibu hamil itu suka rewel. Salah satu faktornya tentu karena perubahan hormon. Tapi kemudian hal ini disanggah,

“Coba sekarang dipikir, seberapa besar sih peran hormon pada hidup kita? Nggak segitu besar, kok. Kita masih punya pikiran, masih punya hati, masih punya iman. Jadi kalau kita cuma memperturutkan hormon, artinya kita tidak memfungsikan yang lainnya. Kalau kayak gitu apa namanya? Kufur kan?”

Oh, men, baiklah. Lalu topik ini masih bergulir lagi sampai kami dapatkan satu kesimpulan. Barangkali salah satu hikmah ibu hamil rewel adalah untuk melatih pasangan tersebut menghadapi anaknya kelak. Bagi sang istri sebagai latihan, sampai mana ia menahan kerewelannya, dan bagi sang suami sebagai latihan bagaimana menghadapi kerewelan istrinya. Apakah mereka akan memperturutkan ego? Apakah mereka akan mudah emosi? Apakah mereka bisa mengalah? Adalah sedikit contoh sikap yang dilatih ketika hamil, demi menjadi sikap terbaik kala mendidik anak kelak.

Dan lagi, begini, jika segala kesulitan yang kita terima adalah sebagai bentuk ujian apakah kita akan menjauh atau justru mendekat pada Allaah, hamil semestinya juga begitu. Apakah kehamilan itu membuat kita malas-malasan beribadah, atau justru menjadi booster untuk kita lebih rajin beribadah.

Apalagi hamil adalah sebuah hajat besar, yang katanya apa-apa yang kita lakukan akan berpengaruh besar pada anak kita kelak. Maka, jika kehamilan itu membuat kita lalai dan malas, artinya generasi yang akan datang juga akan begitu. Pun sebaliknya, jika kita menekan segala kesulitan yang kita dapati untuk beribadah dengan lebih giat, tentu generasi yang akan terlahir adalah mereka yang mengutamakan Allaah di atas segalanya. Karena sungguh, pendidikan anak itu tidak dimulai dari lahirnya sang anak, tapi dari bagaimana kita sebagai orangtuanya mendidik diri kita sendiri sejak muda.

Alhamdulillaah, saya bersyukur sekali dikaruniai kehamilan yang tidak merepotkan. Dan saya bersyukur berkali lipat, suami saya bukanlah ia yang memanjakan dan menuruti semua kemauan saya. Kami betul menyadari bahwa pelaut yang ulung tidak dilahirkan di lautan yang tenang. Maka instead of mencari ketenangan dan kemapanan, kami lebih suka berpetualang dan mencari tantangan. Tidak apa-apa menangis sekarang karena berbagai kesulitan menghadang, daripada nangis di kemudian hari atau bahkan di akhirat karena kita gagal mengambil pelajaran dan menjadi sebaik-baik hamba.

Ah Allaah, kami mohon, jadikan kehamilan ini kehamilan yang berkah. Yang akan menjadikan kami lebih produktif, lebih banyak berkarya, serta lebih dekat kepada-Mu…. 

 

One thought to “Jangan Rewel”

  1. Alhamdulillah….Alhamdulillah….Alhamdulillahirabbil’alamiin,
    tiada yang lebih pantas untuk kita lakukan kecuali syukur dan syukur atas semua karuniaNya yang tak mampu kita menghitung dan menimbangnya. Syukur itu membuat hati bahagia. Sykukur itu membuat wajah ceria. Syukur itu membuat fisik full energi positif sehingga mampu melahirkan ide-ide cemerlang yang terejawentahkan dalam bentuk amal nyata. Syukur itu menuntun kita banyak sedekah senyum sehingga hari demi hari makin banyak saudara, yang lama makin erat, yang baru makin terkesan dengan keramahan kita. syukur itu merubah kelemahan menjadi kekuatan. syukur itu bersiap diri menerima berkelimpahan karuniaNya “bighairi hisab”.
    “Selamat” dik zahra atas karunia Allah yang besar ini dengan penuh kedalaman makna filosofinya. Teruslah bersyukur dan bersabar karena itu pula kwalitas yang akan terhias pada diri buah hatimu kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *