Mewariskan Keturunan

Dulu, sebelum menikah, saya diajarkan bahwa salah satu tujuan dari pernikahan adalah mewariskan keturunan, lebih tepatnya keturunan yang terbaik. Maka, konsekuensinya, setiap mereka yang menikah tentu segera ingin memiliki anak. Wajar, jika kemudian para pengantin baru bertemu keluarga besar selalu ditanya, “Gimana? Sudah isi belum?” “Sudah berhasil belum?”, dan berbagai pertanyaan sejenis lainnya. Kadang, pertanyaan seperti ini menimbulkan beban tersendiri bagi beberapa pasangan.

Begitu pula dengan saya. Rencana awalnya, setelah menikah kami ingin menikmati masa pacaran sekaligus fokus dalam belajar secara akademik dan mengenal satu sama lain, termasuk keluarga besar masing-masing. Hal itu berjalan lancar dengan menggunakan taktik kalender masa subur selama kurang lebih 3 bulan pertama. Setelahnya, kami mulai merasakan apa yang juga dirasakan kebanyakan pengantin baru. Ya, ada rasa sepi ketika berada di rumah sendiri.

*****

Memang awalnya begitu menyenangkan dan bahagia ketika merasakan setelah menikah seakan dunia hanya milik berdua. Namun ternyata, Allaah swt memang jauh lebih besar dari dunia dan seisinya. Dan manusia sungguh sangat kecil sekali. Ini kami sadari ketika akhirnya, dunia yang hanya milik berdua saja ternyata tak cukup membuat bahagia. Lama-lama, kami juga merasa sepi jika hanya berdua mengobrol dan bermain.

Sampai suatu ketika, kami sowan ke rumah salah satu anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ust. Fathurrahman Kamal, untuk bersilaturrahmi. Kebetulan beliau adalah khatib di hari pernikahan kami. Maka, dengan niat menyambung silaturrahmi dan berterima kasih sekaligus meminta nasehat, kami datang ke kediaman beliau.

Di sana, kami berdiskusi dan mendapatkan banyak nasehat, diantaranya adalah bagaimana menjadikan keluarga sebagai kiblat, sebagaimana yang pernah saya tulis di sini. Hingga kemudian beliau bertanya, “Gimana? Udah ada isinya belum?” Waktu itu, saya hanya menjawab sekenanya layaknya jawaban saya pada yang lainnya. “Maaf, ustadz. Sepertinya kami ingin menunda dulu selama 2-3 tahun agar bisa fokus kuliah dan koass. Mungkin setelah itu baru program kehamilan.”

Mendengar hal tersebut, tiba-tiba tampak perubahan raut muka beliau seperti kurang sepakat. Beliau kemudian berkata,

“Lho kenapa harus menunda? Kan anak itu rezeki dari Allaah swt. Begitu pula dengan pernikahan. Kalau kalian menunda, berarti kalian menolak nikmat Allaah swt. Nggak banyak lho yang dapat kesempatan untuk bisa seperti kalian ini, bisa menikah di usia muda.” Kami terdiam memikirkan kata-kata beliau barusan. “Jalani saja seperti fitrahnya. Kalau memang Allaah swt berkenan, ya nanti akan diamanahi anak. Kalau belum ya ndak akan jadi hamil.” Kata beliau melanjutkan.

*****

Sepulang dari sana, kami mendiskusikan hal tersebut di jalan. Tentang apakah akan tetap menunda atau kemudian bergaul seperti fitrah layaknya pasangan suami-istri. Ada beberapa hal yang kemudian menjadi pertimbangan kami dalam hal ini. Pertimbangan untuk menunda adalah supaya kami bisa fokus dalam belajar dan menyelesaikan satu urusan baru urusan berikutnya. Tak ada yang salah dan memang seharusnya begitu. Hanya saja, berarti kami seakan menolak nikmat Allaah swt. Sementara hanya Dia-lah Yang Maha Tahu mana yang terbaik dan pantas untuk kami.

Sementara pertimbangan untuk bergaul sesuai fitrah suami-istri adalah agar supaya memenuhi kodrat kami. Selain itu, jika ada masalah terkait sistem reproduksi, kami bisa tahu lebih awal dan bisa mendapatkan treatment yang lebih baik. Hanya, kami harus siap untuk wani perih dan gelem nggetih untuk menerima amanah Allaah swt berikutnya. Toh, bukannya dengan begitu, kami mempercepat lahirnya generasi terbaik?

Maka, setelah menimbang baik-baik, kami beristikharah, dan bismillaah kami memilih opsi untuk bergaul sesuai fitrah suami-istri. Kami tidak lagi menunda kehamilan sesuai rencana awalnya. Alhamdulillaah, orangtua maupun mertua sama-sama mendukung baik keputusan kami.

*****

Hingga akhirnya, hari selasa lalu, selepas long weekend yang luar biasa, kami mencoba untuk mengecek kehamilan lagi. Kebetulan saat itu Dek Zahra sudah terlambat haid beberapa hari. Terbayang bagaimana sebulan sebelumnya kami melakukan hal yang sama dan berharap hasil terbaik, namun masih negatif padahal sudah telat haid beberapa hari. Meski begitu, kami husnudhon saja bahwa kali ini hasilnya akan positif jika memang itulah hasil terbaik yang Allaah swt pilihkan.

Dan begitulah akhirnya, kami menjumpai hasil strip test pack dengan dua garis. Entah bagaimana rasanya saat itu, tentu campur aduk antara bahagia, kaget, dan tentu khawatir juga. Bahagia bahwa Allaah swt akhirnya berkenan memberikan amanah pendidikan generasi penerus pada kami. Kaget karena sebelumnya kami masih fokus berikhtiar untuk mengatasi masalah haid yang tidak teratur. Dan khawatir karena selayaknya keluarga baru, kami masih instabil. Meski begitu, kami sangat yakin dengan firman Allaah swt,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.”

*****

Mulai hari ini dan ke depan, tentu akan menjadi hari yang berbeda. Mungkin akan sedikit paranoid, mengingat ini adalah kehamilan pertama. Tapi yang pasti, kami ingin benar-benar menikmati dan menghayati prosesnya. Kami ingin mendapatkan banyak hikmah dan pendidikan dari Allaah swt sebagaimana ketika kami berproses untuk menikah dulu. Maka, kami harus mulai mengencangkan ikat pinggang, duduk siap di kursi kendali, dan menunggu apa kejutan Allaah swt berikutnya.

Allaahumma innaa nas-aluka khairan kullahuu maa ‘alimnaa minhu wa maa lam na’lam. Wa na’uudzubika min syarrin kullahuu maa’ alimnaa minhu wa maa lam na’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *