Dua Ibu

Pernah suatu kali saya ditanya di suatu forum, jika pendidikan Ibu mertua kepada anak-anaknya saya sekeren itu, bagaimana dengan pendidikan oleh ibu saya sendiri? Rupanya si penanya ini adalah mahasiswa Ibu, yang somehow nggak tau gimana ceritanya tulisan saya tentang Ibu pernah viral di kampusnya. Jadi rupanya ia telah tahu luar dalam tentang Ibu, bahkan pernah ke rumah Ibu juga.

Baik, kembali ke pertanyaan di atas, bagaimana Ibu (baca: Ummi) saya mendidik saya? Saya menyadari sejak awal, bahwa karakter Ummi dan Ibu jauh berbeda. Saya lebih suka menganalogikan begini, jika Ibu fokus dan kuat di nahi munkar, Ummi fokus dan kuat di amar ma’ruf. While, tentu keduanya tidak pernah melepas aspek ketiga, yakni beriman kepada Allaah (3:110).

Ibu adalah pejuang hukum kesehatan. Beliau sejak awal jadi dokter dulu, takut sekali dengan kriminalisasi dokter dan begitu penasaran dengan segala hal tentang hukum kesehatan. Ketakutan dan rasa penasaran ini mendorongnya untuk lanjut kuliah S2 dan S3 di bidang hukum kesehatan. Mengobrol dengan ibu, akan banyak sekali kasus-kasus kesehatan yang bersangkutpaut dengan aspek hukum, sekaligus solusi-solusi yang beliau tawarkan. Dengan bicaranya yang lantang, berani, dan berapi-api, cocoklah Ibu kalau saya nobatkan sebagai ahlun nahi munkar.

Berbeda 180° dengan Ibu, Ummi bicara lantang saja tidak pernah. Tutur katanya begitu halus dan hati-hati sekali supaya tidak menyakiti. Tidak pernah rasanya sepanjang hidup saya, Ummi menaikkan intonasinya. Jika kami berbuat kesalahan, hanya keluar istighfar berulang kali dari lisannya.

Ummi, selain halus lisannya, halus pula budinya. Bagi kami, beliau adalah penyayang kaum mustadh’afin kelas wahid. Sering dalam setiap obrolan kami Ummi berpesan,

“Hidup kita ini bukanlah untuk kebahagiaan kita sendiri. Hidup kita adalah demi membahagiakan ummat”.

Dan kata-kata ini nyatanya termanifestasi dalam setiap perbuatannya. Sudah tidak terhitung lagi berapa anak yang telah Ummi bantu kuliahnya, Ummi beri makan, Ummi beri tempat tinggal, Ummi pinjami kendaraan, Ummi beri uang saku, bahkan Ummi anggap seperti anaknya sendiri. Pun, dengan kaum papa yang lain, tidak pernah Ummi merasa lebih tinggi. Membantu mereka saja Ummi lakukan hati-hati sekali supaya tidak menyakiti hati.

Kehalusan budi Ummi tidak berhenti di kaum mustadh’afin saja. Beliau begitu tulus berperan di tengah-tengah ummat lewat perserikatan yang beliau cintai sejak muda. Saking militannya beliau di sana, Ummi rela melepas berbagai ikatan-ikatan lain yang kiranya menghambat langkahnya di sana. Dan memang militansinya ini membuat Ummi berkembang begitu pesat. Sudah biasa beliau bergaul dengan para pejabat tanpa pernah merasa rendah diri.

Tidak hanya aktif berdakwah di dalam perserikatan, beliau juga rajin keliling dari satu ta’lim ke ta’lim yang lain, dari yang hanya memberi snack sampai yang memberi amplop berisi jutaan rupiah. Semua dilakukan hanya demi menyampaikan ceramah yang siapapun yang mendengarnya, niscaya hatinya akan tersentuh. Katanya,

Kalau bukan kita yang menyampaikan kebenaran, kalau bukan kita yang menyentuh hati mereka, kapan Islam akan dirasakan indahnya oleh ummat?” 

Amanah publik nyatanya tidak pernah melenakan dan membuat Ummi melupakan amanah privat. Ummi hampir selalu di samping Abah ketika bekerja. Maklum, kerjanya di depan komputer rumah, di depan stir mobil, dan di depan kolega. Jika tidak amanah dakwah, Ummi begitu setia mendampingi Abah ke manapun Abah pergi.

Di depan anak-anaknya, Ummi selalu bisa menjadi motivator terbaik. Jarang sekali Ummi melemahkan kami dengan menyuruh kami beristirahat atau bersantai. Jika sedikit sama kami lelah dan putus asa, Ummi selalu bilang,

“Putus asa itu cuma buat orang kafir. Kita kan punya Allaah, dan berjuang untuk Allaah. Ayo bangun dan berjuang lagi”.

Ah, Ummi, bagi kami, adalah sebuah paket komplit. Komplit sekali. Cantik, lembut hatinya, lembut tutur katanya, penyayang, motivator ulung, da’iyah progresif, dan sederet predikat lainnya. Ummi jelas bukan perempuan biasa. Beliau adalah bidadari surga yang Allaah perkenankan untuk turun ke bumi menemani kami semua. Sempat saya heran dan mempertanyakan kepada Abah bagaimana sampai bisa Abah menikah dengan Ummi,

Kenapa Abah dulu pilih Ummi?”

“Karena… Karena orientasi Ummi sudah bukan lagi untuk dunia, tapi sepenuhnya untuk akhirat, untuk ummat.”

Ah, pintar sekali Abah mencari istri.

Ya Allaah, aku mohon muliakan mereka di dunia, dan kelak kembalikan ke tempat yang semestinya. Kumpulkan kami di Jannah-Mu…

2 thoughts to “Dua Ibu”

  1. Masya Allah, Umi nangis bacanya dik. Selama ini Umi merasa blm maksimal jd ibu. Sering agak memaksa ayo bangun tahajjud “agar Allah mengangkatmu ke tempat yg terpuji”, ayo ngaji…tilawah Al Qur’an syukur menghafal agar “kelak kubur kita diterangi dg cahayanya”, ayo cepet2 jangan sampai ketinggalan jama’ah sholat fardhu dan berjama’ah dan yg laki2 wajib di masjid agar “jangan sampai tidak mendapatkan kelipatan pahala dan jd pemenang”; ayo dawamkan puasa sunnah “agar do’a2 kita mudah diijabah”……dan lainnya. Umi berprinsip lebih baik saya capek sekarang (saat anak2 kecil) daripada menangisi susahnya ngatur anak2 dikala lepas remaja yg sulitnya minta ampun bagai layang-layang putus (terlanjur salah arahan), na’u dzubillah. Umi rela jd tukang ojek tiap hari antar-kemput sekolah, TPA dan les demi ingin dengan cerita dan candamu bertiga saat itu. Bagi Umi itu semua sesuatu yg biasa sebagaimana lazimnya ibu2 yg lain jg melakukannya.
    Setiap hari sejak melangkahkan kaki “bismillahi tawakkaltu ‘alallahi lahawla wala quwwata illa billah”…..sambil melafathlan Asmaul Husna kita susuri jalan menuju sekolah, TPA, tempat less, tempat lomba drumband, antar tulisan ke KR, silaturrahim ke simbah dan saudara2…..ini sesutu yg biasa ….tapi ternyata engkau buah hatiku…berhiaskan iman yg kokoh, akhlak yang mulia, pecinta buku dan berbagi ilmu. Ini merupakan karunia yang besar bagi kami karena bukan tampilan dandan ala anak2 di luar sana yg memuja mode, beraktifitas di mall tapi engkau mau menyusuri demi kajian.
    Kesyukuran sempurnya saat Allah menghadiahkan menantu yg sholih utkmu, hafidz Qur’an dan calon dokter. Sejak itu tiada khawatir kami menyerahkan bimbingan padanya untukmu semoga engkau tetap disayang dalam suka dan duka, cinta yang penuh Rahmat karena RidhaNya. Dengan demikian 90 % tugas Umi telah terlaksana. Tetaplah berjuang menjadi Isteri yang baik karena Ibu yang baik dan sholih itu diawali dari pribadi yang sholih dan isteri yang sholih. Salam sayang Umi, semoga bersama belahan jiwamu, engkau raih syurga dunia- akherat bersamanya. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *