Pada Akhirnya

Alhamdulillaah, hari itu datang juga. Sungguh, tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya bisa betul-betul sampai di pit stop terakhir seorang mahasiswa pre-klinik kedokteran gigi. Apalagi dengan skripsi yang bisa dibilang tidak mudah ditaklukkan.

Perihal skripsi ini, sepanjang yang saya ingat, saya terus mencoba untuk mengupayakannya. Meski ada sedikit waktu ketika saya lalai oleh karena persiapan pernikahan yang menguras emosi dan energi, tapi overall saya merasa banyak berjuangnya.

Kala masih jahiliyah dulu, saya bahkan getol sekali mengerjakan skripsi. Berangkat malam ke sebuah coffee shop, begadang mengerjakan sampai dini hari, dan baru pulang pada pagi harinya. Kalau tidak ke coffee shop, ya mengerjakan di rumah teman. Siangnya, mencari referensi di perpustakaan atau menunggu dosen.

Selama pola mengerjakan skripsi saya yang masih begitu, ada saja halangan yang terjadi. Misal proposal sudah siap, eh tapi sampelnya tidak mencukupi. Maka saya ganti judul dan buat proposal lagi. Eh tapi ternyata dosen saya tidak berkenan. Maka saya ganti judul dan buat proposal lagi. Eh tapi kemudian ada lagi halangan, adaaaa saja halangan.

Sampai kemudian saya berhijrah. Saya mulai meninggalkan kehidupan malam di coffee shop dan lebih banyak mengerjakan di rumah teman. Sampai di sini, perubahan mulai terjadi. Perjalanan skripsi saya jadi tidak terlalu terjal karena sudah menemukan judul yang paling tepat.

Tapi rupanya, Allaah masih ingin mentarbiyah saya. Banyak kebuntuan yang saya temui di step terakhir pembahasan. Seems masih ada pertanyaan ‘ngapain ya aku ngerjain ini semua, manfaatnya apa?’. Saya berusaha mencari jawab dengan banyak-banyak mengerjakan skripsi di rumah teman supaya bisa berdiskusi. Yah, tapi ternyata sama saja. Dosen saya tetap tidak puas dengan pembahasan saya.

Sampai kemudian saya tersadar. Bahwa suami saya kurang ridho kalau saya tidak bermalam di rumah, hanya demi pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan di rumah. Meski saya sudah memberikan alasan dari a sampai z kenapa harus pergi, dan kemudian beliau mengiyakan, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Saya mencoba mengabaikan sesuatu itu dan tetap pergi.

Sampai di suatu titik, saya betul-betul kembali disadarkan.. Bahwa Allaah perintahkan seorang perempuan untuk tetap tinggal di rumahnya (Al-Ahzab: 33). Bahkan untuk aktivitas semulia sholat, Allaah perintahkan perempuan untuk melaksanakannya di rumah. Kalau shalat, ibadah yang paling awal dihisab saja dianjurkan untuk dikerjakan di rumah, kenapa mesti keluar untuk hanya mengerjakan ibadah setemporer skripsi? Sebuah hadist kemudian serasa menghantam kepala saya dan membuat saya menangis sejadi-jadinya.

“keadaan yang paling dekat (bagi seorang perempuan dengan Rabbnya) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya” (HR. Tirmidzi)

Meyakini hadist ini, maka saya betul-betul mengurung diri di kamar. Hanya sebentar saya sempat begitu. Hanya sekitar 2 minggu saya hijrah. Kemudian hilal tampak, dan pada akhirnya saya sidang juga.

Sureprisingly, ketika sidang itu, semua dosen memuji skripsi saya. Dari yang tadinya mempertanyakan urgensi proposal saya kala seminar, dan bahkan menganggap penelitian saya tidak penting, di sesi tanya jawab penguji saya bilang,

“Saya kagum sama Zahra yang dapat membahas sedemikian detail dan ada manfaat praktisnya dari judul yang hanya seperti itu”

Allahu rabbi, ingin menangis rasanya. Sesuatu yang sekian lama dengan skeptis saya pertanyakan kemanfaatannya, rupanya seketika mendapatkan jawabannya setelah saya benar-benar mematuhi perintah Allaah. Selama ini saya meminta petunjuk di setiap do’a selepas selepas shalat. Selama ini saya berusaha mencari jawab dengan pergi keluar dan menginap di keramaian atau di rumah teman. Ah, tapi rupanya jawaban itu tidak jauh. Jawaban itu ada di dalam rumah saya sendiri.

Rupanya, inilah (salah satu) kejutan yang Allaah siapkan dibalik tertundanya wisuda saya. Bahwa Ia ingin mengajarkan betapa memang fitrah seorang perempuan itu di rumah. Bahwa ketika kita taat pada perintah-Nya, Ia sendiri yang akan dengan mudah memperlancar urusan kita. Bahwa, yah, bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah petunjuk terbaik yang mestinya diimani dengan hati, lisan dan perbuatan.

Allaah, terimakasih atas hikmah yang senantiasa kau tunjukkan di setiap langkah-langkahku :’)

Rabbana hablaana hukman wa alhiqna bisshalihiin…

p.s. perihal fitrah perempuan itu di rumah, pernah dijelaskan oleh Fahmi di sini dan di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *