Ketika Al-Qur’an Diamalkan di Kandang

Judul                                     : WATANA (Wana, Tani, Ternak) The Mindset

Penulis                                 : Muhaimin Iqbal

Penerbit                              : Startup Center

Jumlah Halaman               :208 halaman

Tahun terbit                       : 2014

Saya percaya bahwa Al-Qur’an adalah fisiologi hidup kita. Jika fisiologi tubuh berarti fungsi normal tubuh, maka fisiologi hidup berarti fungsi normal hidup kita. Tubuh kita dikatakan normal jika fungsinya sesuai dengan fisiologinya. Beside, berarti hidup kita normal jika kita mengikuti fisiologi hidup kita, hidup kita normal hanya jika kita mengikuti Al-Qur’an.

Kesadaran itulah yang juga menggugah seorang Muhaimin Iqbal untuk menulis buku berjudul “Watana the Mindset” ini. Bukan secara sengaja ‘menulis buku’ sebenarnya, tapi lebih tepatnya membukukan tulisan-tulisan yang sudah beliau unggah di blognya. “Watana” merupakan singkatan dari wana (hutan), tani, dan ternak. Dalam buku ini, Pak Iqbal mengutarakan dengan panjang lebar kesalahan-kesalahan pola pikir kita dalam ber-“watana”. Setelahnya, Pak Iqbal meluruskan kesesatan pikir ini sesuai dengan pola pikir yang seharusnya, yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya meluruskan, Pak Iqbal juga memberi solusi konkrit baik dari yang bisa rakyat biasa lakukan atau bottom-up maupun melalui saran-saran kebijakan pemerintah atau top-down.

Buku ini terdiri dari 45 tulisan yang topiknya nano-nano. Mulai dari peternakan domba, fitnah makanan, wacana swasembada daging, agroforestry, hingga solusi perumahan yang efisien. Tulisan-tulisan yang ada tidak berkaitan satu sama lain, sehingga pembaca dapat membaca buku ini dari halaman mana saja tanpa takut tidak paham karena tidak membaca urut dari awal. Meski terkesan sepotong-sepotong, tapi setiap tulisannya akan membuat kita menyadari bahwa Al-Qur’an dan Sunnah memanglah solusi dari segala masalah. Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya menyediakan konsep-konsep pokok, tapi bahkan langkah-langkah terkecil untuk menyelesaikan masalah.

Misalnya dalam masalah kurangnya konsumsi daging per kapita. Seorang warga Indonesia rata-rata hanya mengkonsumsi daging sebanyak 10 kg per tahun, sangat jauh dari rata-rata konsumsi daging dunia yang mencapai 41 kg per tahun. Pasti ada sesuatu yang salah dalam hal ini, karena Allaah berfirman dalam Surat Az-Zumar: 6, “Dia menciptakan kamu dari diri yang satu kemudian Dia jadikan daripadanya istri dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor hewan yang berpasangan dari binatang ternak”. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Allaah telah menyediakan sumber-sumber daging yang sangat banyak untuk manusia. Maka barangkali, manusia belum melaksanakan perintah-Nya untuk memakmurkan bumi (Hud: 61).

Dalam ayat yang lain, Allaah berfirman,  “Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS 16:10). Ayat ini mengisyaratkan bahwa solusi dari krisis pangan yang ada adalah dengan menggembala. Bukan menggembala di lahan gembalaan yang kita kenal selama ini, tapi di  tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan (tanah-tanah perkebunan dan kehutanan). Ada banyak keuntungan jika hal ini dilaksanakan, yakni rumput-rumput liar yang mengganggu perkebunan otomatis akan bersih, kotoran gembalaan akan menjadi pupuk, dan tentu saja peternak tidak perlu repot-repot mencari makanan ternak dan mengantarkannya ke ternaknya.

Lantas, apa yang harus digembalakan? H.R. Bukhari pernah meriwayatkan perkataan Rasulullaah, “Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran dan pertikaian sesama muslim)”. Ya, yang perlu diternakkan adalah domba. Daging domba yang digembalakan merupakan daging yang paling lezat dan paling sehat menurut The World’s Healthiest Food. Dibanding sapi, domba memiliki harga bibit yang lebih murah, reproduksi yang lebih cepat, produksi daging yang lebih banyak, dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah. Jika dialokasikan dana Rp 1 triliyun untuk beternak sapi, produksi daging hanya akan meningkat 1% dalam 20 tahun mendatang. Tapi jika jumlah uang tersebut dipergunakan untuk beternak domba, konsumsi daging per kapita dapat melampaui 41 kg per tahun. Sungguh, ternak yang menuai berkah karena banyak manfaat yang akan dipetik ketika diternakkan.

Masih banyak lagi masalah-masalah seputar hutan, tani, ternak, dan makanan yang dibahas dalam buku ini. Dan kesemuanya selalu diberi solusi yang solutif yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Meski tidak menggunakan metodologi ilmiah atau bahkan evidence based yang terstandar untuk membuktikan ayat-ayat tersebut, tapi Muhaimin Iqbal dengan jeli men-tadabbur ayat-ayat yang relevan dan disambung dengan teori-teori yang ada, sekaligus juga mempraktekkannya melalui gerakan-gerakan yang beliau buat sendiri. Beliau rupanya tidak hanya menguasai pertanian yang notabene adalah latar belakang akademisnya, tapi juga menguasai Al-Qur’an, kitab-kitab pertanian yang ditulis oleh ulama-ulama terdahulu,  memahami masalah dan teknologi masa kini, dan bahkan mengerti betul bagaimana supaya ilmunya dapat dipraktikkan secara masif.

Membaca WATANA The Mindset, kita jadi menyadari bahwa memang Al-Qur’an adalah solusi dari segala solusi. Buku ini menggambarkan dengan jelas bagaimana jika Al-Qur’an diterapkan di kandang dan niscaya dunia akan menjadi jauh lebih baik jika hal itu benar dilakukan. Karena sungguh kejayaan itu dekat, kejayaan itu hadir jika kita tunduk dan patuh hanya kepada-Nya.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” – (Al-A’raf: 96)

Semoga kita selalu dalam petunjuk-Nya. Wallahu ‘alam bis shawab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *