Demi Kalian, Nak

Belajar dari kisah Shalahuddin Al-Ayyubi, dulu doa saya dalam meminta jodoh adalah supaya Allaah beri saya jodoh yang dengannya dari rahim saya akan terlahir generasi terbaik yang menjadi pilar-pilar kejayaan Islam. Karena yang saya yakini, kami
ini hanya estafet untuk kemudian melahirkan generasi terbaik yang akan
memenangkan Islam di akhir zaman kelak. Saya ingin sekali punya andil dalam pembentukannya. Maka, yah, dari do’a minta jodoh itulah ikhtiar saya dimulai.

Fahmi rupanya adalah jawaban do’a itu. Ia juga memiliki niatan yang sama. Tidak hanya niat bahkan, tapi sudah dalam taraf memperbaiki diri yang susah untuk saya sentuh. Dari niat yang sama itu, kami kemudian betul-betul menjadikan permulaan pernikahan kami sebagai sarana belajar dan memperbaiki diri demi dapat menjadi teladan untuk anak-anak kami kelak. Tapi, yeah, meski judulnya sarana belajar, tapi ujung-ujungnya sering kali saya yang belajar dan berjuang,  Fahmi tinggal bersabar. Karena di banyak hal, saya belajar, berguru, bertanya, mendebat, sedangkan Fahmi tinggal bertitah tanpa banyak berpikir karena semua sudah di luar kepala.

“Dek Zahra harus bagus bacaan Qur’an-nya, dan harus mutqin hafalannya. Karena besok jadi ibu yang ajarin anak-anak kita ngaji dan ngafalin Qur’an. Aku mau anak-anak kita bisa ngaji dan menghafal dari kita, karena itu ladang amal jariyah yang besar sekali,”

Di satu sisi, dibilang begitu saya jadi semangat. Tapi di sisi yang lain, hmmm, berat juga ya. Lantas saya membayangkan perjuangan saya menghafalkan Al-Qur’an. It’s really hard, dude. Terkadang saya
sampai menangis karena setoran hafalan saya salah-salah terus. Fahmi begitu
teliti dan strict kalau masalah
hafalan. Kesalahan sekecil apapun tidak ditolerir dan harus mengulang dari
awal. Tapi ketika air mata sudah tumpah, akan selalu ada kata-kata,

“Semangat ya sayang. Perjuangan ini akan terbayar kalau udah selesai nanti. Sekarang berjuang dulu nggak papa, besok kita akan ngerasain bahagianya”.

Yah, dibilang begitu saya mulai lagi deh
dari ta’awudz.

Rasa-rasanya, menghafalkan Al-Qur’an ini jadi menghantui saya. Bahkan lebih menghantui daripada skripsi dan urusan akademik yang lain. Karena walaupun kami tidak menunda punya anak, tapi kami berdua benar-benar ingin kami sudah selesai dengan target perbaikan diri kami sebelum punya anak. Dan memang setelah berikhtiar selama beberapa lama, kami menyadari barangkali memang Allaah ingin saya mutqin dulu baru Allaah akan mengamanahkan keturunan pada kami. Maka, ikhtiar kami melipir dari yang tadinya mau punya anak segera, jadi melipatgandakan ikhtiar untuk menghafal dan belajar dulu :”””

Kami kini jadi lebih berpacu dengan waktu dan mengusahakan tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Kami jadi lebih banyak bersabar dan saling mengingatkan. Kalau salah satu sudah mulai lelah dan lemah, akan selalu ada yang bilang,

“Semangat, sayang. Jangan menunda lahirnya generasi terbaik. Umat sudah menunggu”

Ya Rabb, kuatkan kami :”””””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *