Soal yang Belum Selesai

Menginjak satu semester pernikahan kami, rasanya tidak ada henti rasa syukur terpanjat oleh karena nikmat Allaah yang datang bertubi. Selain nikmat kesehatan, harta, kesempatan, ilmu, yang senantiasa tercurah, Allaah beri berjuta nikmat yang mengiringi nikmat memiliki suami.

Dulu sebelum menikah, saya sempat minder berat kepada Fahmi. Bagaimana bisa saya dapat bersanding dengan seorang hafidz Qur’an yang senantiasa terjaga hafalannya, calon dokter, ustadz yang melahirkan hafidz-hafidz muda, aktivis masyarakat pula, dan sederet predikat lain. Ternyata setelah menikah, bukannya keminderan saya berkurang, malah semakin berlipat ganda. Terlalu banyak hal yang menjadi kelebihan Fahmi dibanding saya. Sampai, saya pikir, kalau ada checklist kompetensi, Fahmi sudah menguasai semuanya. Sedangkan saya paling hanya 5%-nya.

Keminderan ini rupanya membuat saya stress. Walaupun rasanya bahagia menjadi manten anyar, tapi deep down inside, saya tertekan. Saya tidak menyadarinya, sampai ketika bertemu teman-teman, semua berkomentar saya jadi kurus sekali. Wah berarti saya benar stress.

Tidak tinggal diam, saya coba komunikasikan ini kepada Fahmi.

“Sayang, kamu nyesel nggak nikah sama aku?”

“Hmmm, coba denger, menikahi perempuan itu sama aja menikahi kekurangan-kekurangannya. Maka kalau ada lebihnya, berarti itu bonus aja”

“Hmmmm”

“Pernikahan itu bukan tentang siapa lebih unggul dari siapa. Pernikahan itu adalah proses untuk masing-masing berbenah menjadi lebih baik. Wajar kalau sekarang nggak bisa ini dan itu, tapi kita sama-sama belajar. Kamu ajari apa yang aku nggak bisa, aku ajari kamu apa yang kamu nggak bisa, sisanya kita pelajari bersama. Perempuan itu ibarat soal yang belum selesai. Tugas suamilah, tugaskulah untuk menyelesaikannya.”

Nyesssss. Ah, dibilang begitu, saya jadi menyadari sesuatu. Bahwa paradigma saya masih menjadi paradigma menang-kalah. Bahwa, yah, hidup itu tentang perlombaan untuk menjadi pemenang atas orang-orang yang lemah. Wajar jika kemudian saya stress. Karena kalau sebelumnya saya sering jadi pemenang, saya kini menjadi pecundang berhadapan setiap hari dengan Fahmi.

Bahaya juga kalau paradigma tersebut diteruskan. Bisa saya akan gila-gilaan berjuang mengalahkan Fahmi hanya supaya saya memiliki kepuasan pribadi dapat melampauinya. Gila-gilaan berjuang itu sudah buruk karena melampaui batas, sedangkan niat melampaui Fahmi itu lebih buruk berkali-kali lipat karena tidak ada Allaah yang menjadi tujuannya. Atau, kalau paradigma itu saya teruskan, sebaliknya, saya akan semakin terpuruk dan merasa tidak berguna.

Paradigma menang-kalah jugalah yang saya pikir seringkali menyebabkan perceraian. Masing-masing sibuk untuk memenangkan diri dan mengalahkan yang lain. Baik dalam hal pekerjaan, perhatian, pemenuhan peran, dan lain-lain. Apa-apa yang dilakukan kemudian bukan diniatkan sebagai bentuk ibadah, tapi supaya mendapat pujian baik dari pasangan maupun dari orang lain.

Tapi menikah rupanya tidak begitu. Menikah adalah perkara menang dan menang. Semua bukan hanya bisa menang, tapi harus menang. Dan, kemenangan itu bukan diukur dari kompetensi diri, prestasi, predikat, apalagi penghasilan. Tapi kemenangan itu diukur atas kontribusi kita pada keluarga kita, atas pemenuhan peran masing-masing dalam keluarga. Semakin banyak yang diberikan untuk keluarga atau pasangan, berarti semakin menang ia.

Dan, kemenangan ini bukanlah kemenangan yang mengalahkan. Karena fokusnya adalah untuk jadi pemenang, dan menjadikan yang lain menang juga. Jadi masing-masingnya akan bahu-membahu dalam memenuhi peran satu sama lain. Jika paradigma ini dimiliki keduanya, niscaya tidak akan ada pihak yang kalah.

Tapi kemudian, yah, tidak mudah men-swift begitu saja paradigma yang sudah terpakai lama menjadi paradigma baru. Perlu kerendahan hati dan keikhlasan yang tidak berujung. Kerendahan hati bahwa memang kita bukanlah makhluk sempurna, dan keikhlasan untuk disempurnakan oleh pasangan.

Maka, kalau memang perempuan itu ibarat soal, maka sebaik-baik perempuan adalah ia yang mudah dikerjakan . Jika memang laki-laki adalah orang yang mengerjakan soal, maka sebaik-baik laki-laki adalah ia yang cerdas, berwawasan luas, lagi sabar dalam mengerjakannya.

Ah, semoga Allaah senantiasa lapangkan hati-hati kita dan karuniakan keikhlasan. Aamiin

3 thoughts to “Soal yang Belum Selesai”

    1. Iyaaaa, begitu pula ketika kita memutuskan untuk menikah dengan laki-laki. Kita juga harus mau menikahi keburukannya.

      Intinya, ketika mencari pasangan, cari yang terbaik dan sesuai dengan kapasitas diri kita. Begitu akad telah terucap, setelah sah menikah, maka masing-masing pasangan harus berdamai dengan kelemahan dan keburukan masing-masing. Ketika kita berdamai dengan kelemahannya, kita berusaha memperbaikinya, dan ketika ketahuan kelebihannya ibarat, maka itu seakan bonus buat kita dan menambah rasa cinta kita.

      Sebaliknya, jika sejak awal kita fokus pada kebaikannya, begitu ketahuan kelemahannya, maka akan berkurang rasa cintanya. Dua hal yang sebenarnya secara nyata sama saja kondisinya namun disikapi dengan cara yang berbeda akan menghasilkan penerimaan bahkan outcome yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *