Haruskah Hafal Al-Quran?

Ada pertanyaan yang selalu saya bingung untuk menjawab. Pertanyaan itu adalah tentang mengapa saya menghafal Al-Quran. Ya, saya selalu bingung menjawabnya karena saya menghafal Al-Quran sejak masa kanak-kanak. Tepatnya kelas I SD dan selesai wisuda khatmil Quran saat kelas IV SD. Saat itu, satu-satunya alasan saya mau menghafal Al-Quran adalah karena disuruh orangtua. Sementara saya tipikal anak yang tak berani melawan orangtua meski kesulitan, dan Bapak saya adalah tipikal orangtua yang harus dipatuhi anaknya, jadilah kami pasangan yang klop untuk menghafal Al-Quran.

Ketika menghafal dulu, tentu banyak hambatan dan hal berat yang menantang untuk dijalani. Mulai dari pukulan dan hukuman ustadz, rasa kangen rumah dan orangtua, bullying dari kakak kelas, dan pergaulan dengan teman-teman yang notabene menengah ke atas, sementara orangtua saya tergolong “cukup”. Alhamdulillaah, semua itu berlalu begitu saja berkat doa dan nasehat orangtua saya yang tak pernah lelah. Jadilah, ketika itu kebahagiaan orangtua saya menjadi harapan saya setiap kali mereka datang berkunjung. Setiap bulan sekali, saya selalu berusaha menyiapkan prestasi hafalan dan belajar yang baik untuk memberi kejutan dan membahagiakan orangtua saya. “Bapak, alhamdulillaah selesai kelas I ini aku masuk juz 16!”, “Ibu, alhamdulillaah caturwulan ini aku rangking satu lagi!” Saya selalu menyambut orangtua saya dengan antusias dan menceritakan pengalaman sebulan. Hingga tak terasa, akhirnya saya khatam.

Tak pernah terbayangkan dalam benak saya, setelah menghafal Al-Quran mau ngapain dan gimana. Tapi begitulah ketika orangtua saya menitipkan pendidikan anak-anaknya ke Allaah swt. Dia lah yang kemudian mengajarkan saya alasan mengapa saya harus menghafal Al-Quran sejak kecil. Dari sekian banyak keuntungan yang diperoleh dari menghafal Al-Quran, yang paling penting menurut saya adalah soal menjaga dan penjagaannya.

Ya, saya semakin sadar bahwa hafalan Al-Quran yang Allaah swt titipkan kepada saya ini benar-benar menjaga saya dalam berbagai kondisi. Saya jadi merasakan betul maksud Kyai saya dulu ngendika,

“Al-Quran kerumat, awak kerumat.”

Ketika kita berusaha menjaga hubungan dengan Al-Quran, menghafal, murojaah, mempelajari, men-tadabburi, dan bentuk interaksi lainnya, maka Al-Quran akan menjaga kita dalam segala hal. Inilah mengapa saya lebih suka menyebut hubungan dengan Al-Quran sebagai interaksi, ada timbal-balik dan menimbulkan suatu simbiosis mutualisme.

Sampai hari ini, Al-Quran telah banyak menjaga saya dari kemaksiatan, menjaga saya dari kemiskinan, menjaga saya dari kebodohan, menjaga saya dari kecelakaan, menjaga saya dari teman yang buruk, menjaga saya dari godaan perempuan, menjaga saya dari berperilaku kasar, menjaga saya dari ketidakpedulian, dan yang terpenting menjaga saya dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allaah swt. Allaah swt telah mendidik saya melalui riyadhah dan murojaah dengan Al-Quran sehingga menjadi pribadi yang shalih secara ibadah dan sosial.

*****

Bagi saya pribadi, menjaga hubungan dengan Al-Quran ini adalah parameter paling mudah kedua untuk melihat keshalihan ibadah seseorang. Untuk melihat keshalihan ibadah seseorang, hal pertama yang biasa saya lihat adalah tentang sholatnya, baik sholat fardlu maupun sunnah. Dan yang kedua, adalah soal hubungan dengan Al-Quran ini. Sementara untuk mengukur keshalihan sosial seseorang, saya biasa melihat bagaimana interaksinya dengan masyarakat, bagaimana dirinya memberikan manfaat untuk masyarakat, dan yang paling penting bagaimana adab dengan keluarganya. Ketika dua hal ini baik, maka bagi saya seseorang cukup disebut sebagai orang yang baik dalam agamanya.

Maka, ketika sebelum menikah dulu, saya ditanya orang tentang harapan mendapat istri yang hafal Al-Quran atau tidak, saya jawab dengan tegas,

“Saya ndak mau mencari yang hafal Al-Quran. Tapi saya mau mencari yang konsisten menjaga hubungan dengan Al-Quran. Karena mereka yang hafal Al-Quran tapi tak menjaga hubungan akan hilang hafalannya. Sebaliknya, mereka yang belum hafal, tentu akan hafal dengan sendirinya jika mau istiqomah menjaga hubungan dengan Al-Quran. Tugas saya lah untuk membimbing dan mendidiknya sekaligus agar menjadi shalih secara ibadah maupun sosial.”

Maka, ketika Dek Zahra dulu menge-block akun media sosial dan koneksi dengan saya karena komentar yang menimbulkan fitnah tersebut, hal pertama yang menjadi pertimbangan saya untuk memutuskan menyelesaikan dengan melamarnya adalah karena Dek Zahra adalah orang yang menjaga sholatnya dan telah bersungguh-sungguh berusaha istiqomah menjaga hubungan dengan Al-Quran. Apalagi setelah mendengar cerita dan harapan dari Abah tentang keshalihan sosial Dek Zahra, saya langsung berpikir barangkali inilah orang yang tepat, yang Allaah swt pilihkan untuk saya. Alhamdulillaah, setelah proses yang dimudahkan oleh Allaah swt, hari ini kami telah satu semester menjalani hidup bersama sebagai sebuah keluarga.

Dan pernikahan dengan Dek Zahra ini, adalah salah satu nikmat yang tak bosan-bosannya saya syukuri.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihii tatimmush shaalihaat, allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni’ ibaadatika…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *