Tentang Makanan dan Peradaban

Dalam sebuah perjalanan naik motor Solo-Jogja bersama Fahmi, muroja’ah hafalan saya sampai pada Surat Al-Baqarah ayat 168. Arti ayat tersebut adalah

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (thayyib) dari apa yang terdapat di bumi”

Merenungi ayat itu, ada kesadaran yang membuat saya tertegun. Bahwa perintah makan makanan halal dan thayyib itu bukan hanya “Yaa ayyuhalladzii na aamanu” atau untuk orang-orang beriman saja, melainkan untuk “yaa ayyuhannaas” atau seluruh umat manusia. Aneh. Kenapa makan makanan halal dan thayyib itu perintah untuk semua orang? Bukan untuk orang Islam saja?

Bertanya pada Fahmi, ia menjawab,

“Paling tidak ada tiga alasan yang membuat perintah makan makanan halal dan thayyib itu untuk semua umat manusia”

Wah, kalau sudah berstatement begitu, penjelasannya akan sangat panjang. Maka saya dekatkan telinga saya dan mendengarkan baik-baik.

“Yang pertama karena you are what you eat. Makanan itu akan membentuk yang memakannya.” 

Pada tahun 1920-an, seorang nutrisionis bernama Victor Lindlahr menyatakan bahwa 90% penyakit yang muncul disebabkan oleh pola makan. Dengan kata lain, makanan yang kita makan akan sangat menentukan kesehatan. Kesehatan akan menentukan kualitas hidup dan bahkan seberapa panjang usia kita.

Tidak hanya masalah fisik, makanan turut pula membentuk karakter dan takdir seseorang. Salah satu rahasia kesuksesan Imam Syafi’i rupanya adalah keteguhan ibundanya untuk memberikan hanya makanan halal dan thayyib padanya. Seorang sahabat terbaik nabi, Abu Bakar As-Shiddiq suatu kali pernah tidak sengana memakanan makanan yang diberikan oleh budaknya. Mengetahui bahwa ternyata apa yang ia makanan itu berasal dari praktek perdukunan, Abu Bakar langsung memuntahkan semua isi perutnya. Ia takut sekali tubuhnya tumbuh dari makanan haram. Karena sebagaimana sabda nabi, “Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari (makanan) yang haram dan neraka lebih layak baginya” (HR Ahmad dan Daarimi).

“Yang kedua karena karakter individu akan sangat mempengaruhi lingkungan sosialnya.” 

Katakanlah ada seseorang yang gemar minum minuman keras.  Ditinjau dari sisi karakter, peminum miras itu sudah tentu ada yang tidak beres aqidahnya. Karena berarti ia tidak percaya bahwa Allaah-lah satu-satunya tempat bergantung.  Dan lagi, telah terang bahwa minuman keras dapat menghilangkan kesadaran atau mabuk. Mabuknya seseorang akan membuat ia tidak bisa mengontrol dirinya. Ketidakmampuannya ini dapat membahayakan orang lain semisal ketika ia menyetir ia dapat membahayakan orang lain, atau dengan tanpa sadar melakukan perusakan, atau perkosaan, atau hal-hal buruk lainnya.

“Yang ketiga, karena lingkungan sosial akan mempengaruhi seluruh kehidupan manusia.” 

Tidak bisa dipungkiri, orang Indonesia gemar sekali makan gorengan. Kegemaran orang Indonesia makan gorengan disambut baik oleh pada pedagang gorengan. Permintaan minyak dan tepung yang tinggi dari para pedagang ini disambut baik oleh perusahaan kelala sawit dan tepung. Padahal perusahaan kelapa sawit itu merusak ekosistem. Tidak hanya ekosistem lingkungan, tapi juga ekosistem sosial.

Pernah kami mendengar langsung penuturan saudara kami yang dulunya bekerja di perusahaan kelapa sawit. Hampir semua perusahaan sawit itu milik orang asing. Masyarakat yang tadinya memiliki lahan akhirnya tergusur ke pinggiran dan hidup miskin karena tidak memiliki lahan dan hanya menjadi buruh sawit. Apalagi yang namanya korporat asing, budayanya sudah ‘makan’ atau ‘dimakan’. Saudara kami bahkan bilang bahwa sudah biasa jika bos meminta tidur dengan istri bawahan. Na’udzubillahi min dzaliik.

Keserakahan para pengusaha kelapa sawit ini tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitarnya. Karena bahkan kebijakan politik akhirnya sebisa mungkin mereka intervensi supaya sesuai dengan kepentingan mereka. Maka, seperti yang bisa ditebak, keserakahan ini mengembangbiakkan praktek korupsi para pejabat kita.

Mengerikan sekali kalau sudah membicarakan masalah-masalah berskala nasional. Padahal jika kita menilik lagi ke belakang, perusahaan-perusahaan ini berekskalasi besar-besaran dan merusak negeri ini, bisa jadi faktor utamanya adalah karena kita suka makan gorengan.

“Itulah kenapa perintah makan makanan halal dan thayyib itu untuk semua orang entah ia muslim atau bukan. Karena jika ada seseorang makan makanan yang tidak halal dan tidak thayyib, itu akan mempengaruhi seluruh kehidupan.”

Ah, pembicaraan sore itu pada akhirnya menimbulkan gejolak di benak kami masing-masing. Bahwa, yah, bisa saja kitalah sebenarnya yang tanpa sadar merusak negeri ini. Boleh jadi kita menyalahkan mereka-mereka yang berkuasa. Tapi pun, jika kita menunjuk dengan satu jari, empat jari lainnya mengarah kepada diri kita sendiri. Maka, alangkah sangat baik jika sebelum kita bertindak, terlebih dahulu kita berkaca pada diri sendiri dulu. Seperti kata penulis favorit saya, Pramoedya Ananta Toer, bahwa bertindak adil itu harus sudah dilakukan sejak dalam pikiran.

Subhanaka inni kuntum minadz dzalimiin. Ya Allaah, sungguh, sebenarnya kami ini termasuk orang-orang yang dzaliim. Maka, ampuni dan tunjukkan jalan-Mu pada kami.

 

One thought to “Tentang Makanan dan Peradaban”

  1. Assalamualaikum kak.
    bagaimana sikap kita terhadap orang memberi kita makanan. apakah kita harus menerimanya atau menolaknya? Sedangkan kita tidak tahu apakah makanan itu halal thayyib atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *