Menutup Jalan

Pernah suatu ketika di masa sekolah MAN dulu, saat itu kami sedang belajar Al-Quran Hadits. Tapi, khusus hari itu guru kami ingin kami belajar menilai orang lain dan saling mengevaluasi. Dan jadilah kami diminta menuliskan kesan tentang seseorang yang namanya ada di atas sebuah kertas lalu bergiliran diputar dan ditutup agar tidak ketahuan seandainya ada keburukan yang tercatat. Saat akhirnya kertas nama saya sampai di tangan saya, ada satu kata yang membuat saya terkejut. Ya, saya dicap sombong oleh kebanyakan orang, yang ternyata setelah saya lihat kira-kira siapa yang menulis ternyata semuanya adalah para teman-teman perempuan.

Akhirnya, karena menurut saya ini sebuah keburukan, saya berusaha meminta maaf ke beberapa teman perempuan yang saya kenal baik dan menanyakan, untuk sekedar klarifikasi, mengapa saya disebut sombong. Ternyata sebabnya adalah ketika saya berbicara, mengobrol, atau berdiskusi selalu tidak pernah memperhatikan mereka karena berpaling muka atau menunduk. Dan memang begitulah saya ketika itu, setiap kali berbicara dengan perempuan, refleks saya adalah menunduk atau berpaling wajah ke arah lain, bahkan ketika sedang berbicara serius. Ini saya lakukan sejujurnya adalah karena saya ingin menjaga pandangan dan lebihnya karena saya malu berbicara dengan perempuan. Maklum, seumur sembilan tahun sekolah sebelumnya, saya hidup dalam pesantren yang jenis kelaminnya homogen.

Selepas itu, saya berusaha merubah sikap. Ya, saya ingin menjadi “tampak” lebih ramah dengan teman-teman perempuan. Ketika berpapasan, saya berusaha menyapa layaknya anak muda kebanyakan. Ketika berbicara, saya berusaha memperhatikan dengan menjaga eye contact. Dan, itu ternyata bukanlah hal yang mudah. Grogi, salah tingkah, atau apapun itu sering saya alami. Sampai akhirnya, saya bisa melalui itu semua dan bisa berkomunikasi biasa dengan teman-teman perempuan.

*****

Bahwa konsep tidak ada yang dapat disembunyikan di dunia itu adalah benar. Keburukan yang tersimpan dalam kebiasaan inipun akhirnya saya rasakan. Ya, saya merasa ada yang kurang pas dengan cara saya berinteraksi sosial khususnya dengan perempuan. Paling tidak ini menjadi pintu masuk setan untuk menebar benih cinta yang haram. Tapi, dasar setan memang pandai menghias keburukan dan dosa, jadilah saya masih tarik-ulur dengan kebiasaan buruk ini. Ya, meski saya merasa nyaman, tidak disebut sombong, punya banyak teman, namun saya merasa banyak dosa yang diakibatkan karena mata yang terlalu sering memandang, lisan yang terlalu lama berbicara, dan hati yang mulai jebol pertahanannya. Ya, meski hanya sering ikhtilat, belum sampai pacaran, belum pernah pegang-pegangan, tak juga jalan atau makan bareng, tapi rasanya saya mulai lebih berani pada hal yang disebut Al-Quran adalah mendekati zina.

Barangkali, inilah alasan mengapa Allaah swt mempercepat target pernikahan saya. Bersyukur sekali rasanya Allaah swt menjaga saya untuk tidak terjerumus dalam keburukan lebih dalam. Allaah swt menjaga dengan mempertemukan saya dengan Dek Zahra dan menyatukannya melalui sebuah peristiwa yang sangat absurd, peristiwa yang tak pernah terpikir akan menjadi latar belakang pernikahan kami. Ya, hanya terpelatuk oleh sebuah komentar di laman Facebook yang menimbulkan fitnah.

*****

Semenjak menikah, saya pun merasa jadi lebih mudah menjaga diri. Bahkan hubungan dengan lawan jenis semakin saya batasi layaknya awal-awal lulus pesantren dulu. Ya, mungkin kesannya jadi sombong, tidak ramah, dan sebagainya. Bahkan pernah Dek Zahra menceritakan bercandaan teman-temannya yang mengatakan bahwa saya orangnya galak dan menakutkan. Ah, itukan cuma kata orang. Asal Allaah swt ridho inSyaaAllaah itulah kebaikan, kata saya. Toh, teman-teman yang mengenal saya, mereka lebih tahu dan paham bagaimana saya orangnya. Jadi, kalau hanya menuruti kemauan orang, rasanya saya adalah orang yang bodoh karena diperbudak oleh orang lain, ghooyatun laa tudrok.

Kami pun akhirnya juga membuat kesepakatan bersama untuk menjaga hal ini. Pertama, tidak boleh ada yang chatting langsung dengan lawan jenis baik online maupun offline jika bukan hal yang urgen dan penting sekali. Kalau mau chatting dengan lawan jenis, maka harus ada pihak ketiga, yaitu kami berdua dan lawan jenis yang ingin diajak bicara. Sejujurnya ini terinspirasi dari teman kami yang lebih dulu berpengalaman menikah dan menurutnya dengan aturan itu, beliau lebih terjaga. Ribet? Emang. Nyusahin? Jelas. Tapi ini adalah keluarga kami. Saya terutama sebagai kepala keluarga wajib melindungi dan berhak atas keluarga saya, bahkan lebih berhak daripada mertua maupun orangtua saya, apalagi teman atau bahkan orang yang belum dikenal.

Kedua, ketika menerima tamu atau bertamu, sebisa mungkin komunikasi hanya pada sesama jenis kelaminnya. Misal kami bertamu ke laki-laki, maka saya berarti harus lebih banyak bicara dan sebaliknya. Atau misalnya ada tamu laki-laki, maka Dek Zahra tidak akan keluar kecuali jika saya yang meminta, bahkan jika itu adalah teman Dek Zahra sendiri. Dan sebaliknya, jika ada tamu perempuan, maka Dek Zahra lah yang akan menyambut dan saya tidak akan keluar jika tidak diajak ke depan. Lagi-lagi sangat riweuh, tapi ya begitulah kami berusaha sebaik mungkin menutup jalan keburukan dan pintu masuk setan, saddudz dzariah.

Ketiga, pun ketika akhirnya berkomunikasi dengan lawan jenis, kita tidak perlu sok asik dan sok ramah, hanya mengobrol sewajarnya. Hal ini pernah saya utarakan alasannya di sini. Selain itu, agar jangan sampai karena kelemah lembutan yang dibuat-buat tadi membuat orang lain menjadi muncul bibit kemunafikan dari setan. Batasnya dimana? Ya, silakan dicoba maka kita akan tahu sendiri batas keramahan yang bisa kita berikan ke orang lain. Karena sungguh, innal halaala bayyinun, wa innal haraama bayyinun. Jelas. Jika masih kesulitan, maka nasehat Rasuulullaah saw, istafti qalbak, adalah yang terbaik untuk ini.

*****

Sebagai penutup tulisan klarifikasi ini, saya lagi-lagi memohon maaf jika ada yang salah paham tentang kami. Saya memohon maaf jika ada yang tersinggung karena sikap kami. Bukan maksud untuk begitu, ini hanya ikhtiar kami saling menjaga agar Allaah swt menjaga hubungan dan keluarga kami sampai kelak di surga. Ya, meski ribet, riweuh, dan nyusahin, tapi kami siap untuk menghadapi dan melakukannya, bismillaah. Ketetapan hati ini muncul karena kami melihat ada bukti senior-senior yang sukses namun bisa tetap menjaga diri dan akhlaknya.

Dari Abu Hurairah RA., Rasuulullaah saw bersabda, “sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” (H.R. Al-Bukhari No. 39, Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan An-Nasa-i VIII/122.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *