Menjaga Makanan

Pernah suatu ketika, ada seorang junior yang bertanya pada saya, “Bagaimana cara menjaga makanan ketika sedang menghafalkan Al-Qur’an?”. Hmmm ditanya begitu saya berkilah. Bahwa sebetulnya menjaga makanan itu bukan hanya pada saat menghafalkan Al-Qur’an saja, tapi setiap saat. Karena perintahnya jelas,

maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” – ‘Abasa:24

Menjawab pertanyaan itu, saya mengawali dengan mengembalikan lagi perintah Allaah tentang makanan. Bahwa sebetulnya, sebagaimana yang saya tulis di sini, syarat makanan itu hanya ada dua yakni halal dan thayib. Kedua kata itu mungkin mudah untuk diucapkan. Tapi implementasinya, Subhanallaah, harus benar-benar istiqomah.

Untuk memenuhi kedua syarat itu, kami menerapkan beberapa rule dalam keluarga kami. Terkait syarat halal, paling tidak ada dua rule yang kami terapkan.

Rule pertama  adalah memastikan bahwa daging sapi atau kambing yang kita konsumsi halal. Implementasinya, kami jadi sangat berhati-hati sekali kalau hendak makan daging kedua hewan tersebut di luar. Misal hendak makan bakso, kami benar-benar memilih warung yang memiliki label halal. Entah halal sungguhan apa tidak, selama si pedagang halal maka kami berlepas diri dari apa yang menjadi kebenaran di baliknya.

Rule kedua adalah memastikan bahwa daging ayam yang kami makan halal. Barangkali sudah banyak orang yang aware terkait kehalalalan daging sapi atau kambing. Tapi masih sedikit sekali yang memperhatikan kehalalan daging ayam. Padahal, sebagaimana firman Allaah dalam surat Al-Baqarah ayat 173, bangkai dan segala yang disembelin tanpa penyebutan nama Allaah itu haram. Jadi, meski ayam itu halal, tapi kita harus tetap memperhatikan cara menyembelihnya. Sesuai syariatkah? Dengan nama Allaah-kah? Menyadari belum banyak yang menerapkan kehalalan daging ayam, maka kami memilih untuk tidak makan daging ayam di luar kecuali si pedagang menjamin daging ayam itu halal. Jika tidak tercantum label halal, kami menanyakan langsung apakah ayam itu halal atau tidak. Jika pedagang ragu, kami memilih makan sayuran saja.

Untuk syarat thayyib, memang kemudian lebih ribet dan menantang. Rule pertama yang kami terapkan adalah mengurangi makanan atau bahan pabrikan. Kami hanya makan mie instan ketika sangat ingin atau ketika tidak ada makanan lain. Kalau masak sendiri, kami betul menghindari penggunaan MSG, sosis, sarden, dan sejenisnya. Makanan pabrikan, selain kurang sehat, juga tidak sesuai dengan idealisme kami. Kami tidak pernah tahu afiliasi pemilik perusahaan tersebut. Bisa jadi apa yang kita bayarkan justru memperkaya musuh Allaah dan menjadi senjata untuk umat kami sendiri.

Rule kedua adalah menghindari cemilan. Cemilan, selain tidak mengenyangkan dan boros kalau beli sendiri, juga mengurangi waktu produktif. Baik waktu produktif untuk muroja’ah, dzikir, maupun kegiatan lain yang menggunakan lisan. Karena tidak mungkin kita berbicara sambil mengunyah makanan. Meski menghindari ngemil, terkadang kami ngemil juga. Kami selalu menyediakan kurma atau kismis dalam lunch box kecil yang kami bawa ke mana-mana. Kalau sedang lapar atau ingin ngemil, kami ngemil kurma atau kismis itu.

Perihal kurma, kami memegang betul sebuah hadist yang berbunyi, “sungguh rumah yang terdapat kurma di dalamnya, penghuninya tidak akan kelaparan”. Maka kalau sedang lapar dan tidak bisa makan nasi, kami makan kurma. Meski tidak sekenyang kalau makan nasi, tapi cukup mengganjal perut. Lagipula, jika Allaah sudah berjanji, kami yakin Allaah-lah yang kemudian akan mengenyangkan kami.

Rule ketiga adalah memperbanyak sayuran dan buah. Based on buku berjudul “Miracle of Enzyme”, tubuh kita memilili enzim induk yang terbatas. Ketika enzim itu habis, maka manusia akan meninggal. Supaya tidak cepat habis, maka kita harus menghemat enzim itu. Caranya adalah dengan makan makanan yang mengandung enzim seperti sayuran dan buah.

Kami membiasakan diri untuk mengambil banyak sayur ketika makan. Bahkan kadang rasio antara nasi dan sayur masih lebih banyak sayur. Perihal buah, karena buah relatif mahal,  kami rutin membeli buah paling tidak dua kali seminggu. Buahnya pun kami pilih buah lokal yang tidak mengandung banyak pestisida seperti pepaya, alpukat, atau buah naga. Terkadang kami iris buah-buahan itu dan diberi kuah yoghurt.

Meski sudah mencanangkan dan mencoba menerapkan rule itu, kami tetap belum bisa menjalankannya dengan optimal karena kami tidak pernah memasak. Makanan sudah tersedia tiga kali sehari di tempat kami tinggal, jadi tinggal makan saja. Hanya, kemudian menyeleksi dan mengambil makanan yang ada sesuai rule kami.

Saya membayangkan, akan sangat menyenangkan kelak jika benar-benar bisa memasak untuk keluarga. Selain bisa memastikan semuanya sehat, seperti kata Ibu, memasak sendiri juga memungkinkan kita untuk “membumbui” makanan dengan dzikir dan do’a. Sehingga makanan itu akan membawa berkah berkali lipat dan turut membentuk karakter luhur keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *