Antara Istri dan Teman

“Mi, sejak kamu nikah, kayaknya kita nggak pernah main bareng lagi. Kamu susah dihubungi, susah diajak jalan-jalan, kaya udah ngelupain kita deh.” Ucap seorang karib saya dengan nada mengeluh suatu ketika.

Ya, memang benar, selepas menikah saya jadi orang yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Hubungan dengan kawan merenggang, keakraban dengan saudara-saudara sedikit berkurang. Hal ini karena saya lebih banyak atau bahkan sangat banyak menghabiskan waktu berdua bersama istri saya.

Keluhan ini pun sepertinya juga dialami oleh mereka yang baru saja menikah, terutama mereka yang menikahnya tergolong As-saabiquunal awwaluun, orang yang menikah awal mendahului kebanyakan sebayanya. Dan penyebabnya pun biasanya tak jauh berbeda, yaitu hanya karena hadirnya sosok pasangan hidup. Setidaknya ada dua alasan yang membuat saya merubah cara berinteraksi sosial. Alasan pertama boleh dibilang bercandaan, sementara alasan kedua sebaliknya. Jadi, boleh dibilang jika tulisan ini adalah sebuah pembelaan, klarifikasi, dan sejenisnya.

*****

Saya akan membuat ilustrasi sederhana untuk menjelaskan alasan pertama. Dulu, sebelum menikah saya selalu menghabiskan waktu luang bersama teman-teman saya. Waktu itu, saya niatkan untuk silaturrahmi biasanya dengan membawa buah tangan atau jalan-jalan bareng ke suatu tempat. Harapannya adalah agar saya tidak hanya bersenang-senang saja tapi tetap ada pahalanya. Sementara setelah menikah sekarang, saya lebih sering menghabiskan waktu untuk “pacaran” bersama istri saya. Pergi berdua, makan berdua, ibadah berdua, jalan-jalan berdua, ya kemana pun selalu bersama. Sampai hampir tak ada waktu untuk teman, bahkan waktu untuk saudara-saudara saya juga berkurang kuantitasnya. Dan yang saya yakini adalah, memperbanyak waktu bersama istri adalah pahala yang besar mengingat itu adalah kewajiban suami untuk menafkahi secara batin maupun lahir. Maka, pahala amalan wajib menafkahi istri tentu jauh lebih besar daripada amalan sunnah bersilaturrahmi dengan kawan.

Alasan kedua yang saya sebut alasan serius adalah, bahwa setelah menikah maka sebagai laki-laki saya bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan keluarga. Maka, konsekuensinya adalah saya harus lebih serius dalam mencari nafkah harta, nafkah ilmu, dan lainnya. Tidak ada lagi waktu bercanda berlebihan, kongkow tak jelas sepanjang malam, dan lainnya. Saya rasa semua laki-laki akan merasakan momen ini kelak pada waktunya masing-masing. Terlebih saya bukan terlahir dan mendapat istri dari keluarga kaya. Saya juga belum memiliki pekerjaan yang tetap dengan penghasilan yang cukup. Maka, disitulah seringkali saya sampaikan ke teman-teman bahwa setelah menikah, hidup tak lagi mudah untuk dijalani, tapi lebih enak untuk dilalui.

*****

Meski begitu, tidak lantas kemudian kami memutus silaturrahmi dengan semua kawan kami sebelumnya. Bahkan, kami membuat jadwal rutin untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi ke keluarga, teman, jaringan, tokoh, dan lainnya. Kegiatan rutin inilah yang seringkali bahkan selalu menjadi sarana bagi kami untuk belajar hikmah, bercermin pada pengalaman mereka yang lebih senior, dan sumber ilmu lainnya. Hanya kuantitas waktunya tak akan pernah se-intens kemarin. Jadi, ya memang begitulah konsekuensi dari sebuah pernikahan. Ada kewajiban dan hak baru yang harus dipelajari dan dipahami terlebih dahulu. Penyesuaian yang kemudian membuat orang harus memilih, waktu untuk siapa yang dikorbankan, orangtua, saudara, atau teman-teman. Saya sendiri adalah tipe yang tak pernah bisa mengorbankan keluarga, jadilah waktu untuk kawan-kawan karib saya harus dikurangi.

Sebagai penutup, saya hanya mengutip sebuah hadits yang barangkali bisa memperkuat positioning saya tentang hal ini. Intinya adalah bahwa setelah menikah, hampir semua aktivitas kita bisa bernilai ibadah dengan pahala yang besar terlebih jika dilakukan bersama istri. Bahkan, pada hal-hal yang dulu jika dilakukan sebelum menikah menimbulkan dosa yang juga besar. Barangkali itulah makna bahwa menikah menyempurnakan separuh agama.

Dari Abu Dzar, Nabi Muhammad saw bersabda, “Dan hubungan intim di antara kalian adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa mendatangi istri dengan syahwat (disetubuhi) bisa bernilai pahala?” Raasuulullaah saw bersabda, “Bagaimana pendapatmu jika ada yang meletakkan syahwat tersebut pada yang haram (berzina) bukankah bernilai dosa? Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat tersebut pada yang halal mendatangkan pahala.” (H.R. Muslim No. 1006).

Jadi, mohon maaf jika kesannya kami menarik diri dari pergaulan. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dilakukan dan dinikmati. Semoga Allaah swt kumpulkan dan pertemukan kita lagi dalam kesempatan yang lebih baik, berkah, dan berbahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *