Kisah Ajaib dari Penjara

Judul Buku: Hari-hari di Sukamiskin
Penulis: Indonesian Writers Academy
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Tahun terbit: Mei 2016
Jumlah halaman: xxvii + 344 halaman
Ukuran buku: 14×23 cm
Genre: Pengembangan diri, catatan harian

Dalam beberapa kesempatan silaturrahmi dengan tokoh, saya beberapa kali dibuat kesal oleh beberapa jawaban abstrak. Ya, jawaban abstrak seperti, “Ndak tau, ya itu dari Allaah swt.”, “Ndak tau, tiba-tiba saja Allaah swt kasih itu.”, atau jawaban sejenisnya. Saya kecewa karena saya jadi tidak memahami bagaimana mereka menjadi atau mendapat capaian sesuatu. Namun, sejujurnya saya kagum dengan mereka, atas sebab apa Allaah swt muliakan mereka dengan pertolongan itu. Dan barangkali, begitulah gambaran besar isi buku ini.

Berbeda dengan buku pertama yang terkesan acak-acakan dan tak bertema khusus, buku ini mengusung tema baru. Di buku yang kedua ini, para anggota Indonesian Writers Academy memilih tema keajaiban yang dialami selama berada di penjara. Animo para anggota pun sangat positif dengan menghasilkan 36 karya. Namun karena pertimbangan tertentu hanya dipilih 24 karya yang masuk cetak. Sebab paling utama adalah karena waktu yang tidak cukup untuk melakukan editing tulisan.

Banyak pengalaman ajaib yang hendak diceritakan oleh para narapidana di Sukamiskin ini. Mulai dari ketakutan yang akhirnya tak pernah terjadi, sakit yang berangsur membaik ketika di penjara, spirit yang muncul dari hal yang sederhana, dan berbagai hikmah lainnya. Intinya, banyak dari mereka yang kemudian merasa bahwa penjara adalah lebih baik setelah mau menerima kenyataan dengan qanaah dan penuh keikhlasan.

***

Dimulai dengan pembukaan dan pengantar dari para “asatidz” di Sukamiskin yang begitu menggugah. Kemudian berurutan cerita-cerita menarik lainnya. Misalnya adalah kejutan-kejutan yang Allaah swt berikan kepada Sutjipto yang diceritakan dalam Blessing in Disguise. Kemudian ada cerita pengembaraan diri mengenal pribadinya dari cerita Gnothi Seauthon-nya Muchlis T. dan Kekuatan Kegelapan-nya Anung N. Atau cerita keajaiban kesehatan yang didapat di penjara sebagaimana yang diceritakan oleh Mahfudi Husodo dan Juhaeli. Sementara John Karubaba memilih untuk mempromosikan tanah asalnya, Papua, dalam tulisan-tulisannya untuk memanfaatkan waktu selama di tahanan. Bahkan, Hotasi Nababan bisa membuat suatu Pengantar Kuliah bagi para pembaca agar tidak terpeleset masuk ke dalam penjara.

Yang menarik dari buku kedua ini adalah, hampir semua catatan yang ditulis tidak hanya sekedar cerita curhat para narapidana. Lebih dari itu, ada hikmah yang bisa dipetik, ilmu yang bisa dipelajari, dan pengalaman yang mahal harganya. Hal itu tentu menambah kekayaan konten dari buku kedua yang menurut saya paling memberikan nilai plus dari buku yang pertama.

Hikmah yang ada berasal dari materi-materi yang diajarkan oleh para “asatidz” di Sukamiskin lalu disarikan kembali oleh para penulis sesuai dengan pemahaman dan pengalaman pribadinya. Ada cerita tentang Nabi Yusuf, Isra’ Mi’raj, dan lainnya. Ilmu yang didapat berasal dari wawasan para penulis, buku yang dibaca selama di penjara. Kebanyakan adalah tentang filsafat dan konsep diri. Sementara pengalaman yang mahal tentu adalah pengalaman yang dirasakan oleh para narapidana selama di penjara.

***

Dari semua cerita yang saya baca, ada satu hal penting yang saya pelajari dan benar-benar terpatri dalam benak saya. Hampir semua penulis narapidana merasa menyesal mengapa mereka tidak meluangkan waktu untuk beribadah dan belajar agama sejak dulu ketika masih bebas. Mereka menyesal karena baru bisa beribadah khusyu’, mempelajari agama, mendekatkan diri pada Allaah swt justru harus menunggu Allaah swt menyediakan waktu dengan hukuman penjara terlebih dahulu.

Maka, selepas membaca buku ini, saya langsung terpikir, “Jika hari ini saya tidak bersegera dan berlomba dalam kebaikan kepada Allaah swt, haruskah Allaah swt perlu memenjarakan saya terlebih dahulu baru saya bersedia untuk beribadah serius kepada-Nya?” Ya, pikiran itu terus menghantui dan mengingatkan saya betapa nikmat kebebasan yang Allaah swt berikan ini begitu berharga.

Yaa Allaah, mudahkanlah kami untuk beramal baik dan jagalah kami dari segala bentuk keburukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *