Elon Musk, A Review

 Seorang pendeta bernama Thomas Robert Malthus pernah mengeluarkan statement terkenal mengenai kehidupan di muka bumi ini. Adalah bahwa pertambahan jumlah penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan jumlah makanan mengikuti deret hitung. Daya dukung dan daya tampung lingkungan dipastikan akan terus menurun seiring dengan bertambahnya jumlah manusia. According to Smith dalam bukunya yang berjudul The World in 2050, diprediksi penduduk bumi mencapai 8 miliar pada tahun 2017. Padahal, idealnya bumi hanya mampu menampung 3-4 miliar manusia (worldpopulation.org). Jika sekarang populasi penduduk dunia sudah mencapai 7,4 miliar, maka overpopulation tidak terjadi 2 bulan lagi, tapi sudah kita alami sejak beberapa tahun terakhir. Berbagai solusi sudah dicanangkan untuk mengatasi hal ini, termasuk yang paling feasible dan konkrit adalah menekan angka kelahiran . Tapi ada lagi satu solusi menarik, yakni migrasi manusia ke luar angkasa. Solusi terakhir itu mungkin terdengar utopis dan ‘kartun abis’, tapi ada satu anak manusia yang mendedikasikan dirinya untuk benar-benar mewujudkan hal tersebut dengan langkah-langkah nyata tanpa meninggalkan aspek paling manusiawi. Nama orang itu adalah Elon Musk.

Here’s a review of Elon’s biography written by Ashlee Vance

Elon Musk lahir pada tahun 1971 di sebuah kota besar di sebelah timur laut Afrika Selatan. Ibunya, Maye Musk, adalah penggila matematika dan sains. Walaupun Maye Musk seringkali disebut kutu buku, tapi kecantikannya mampu membuat Maye menjadi finalis Miss South Africa dan melejitkan karirnya sebagai model pada usia 16 tahun. Maye menikah dengan ayah Elon, Errol Musk, yang bekerja sebagai insinyur elektro dan mesin. Dari mereka berdua, Elon memiliki seorang saudara laki-laki bernama Kimbal dan saudara perempuan bernama Tosca.

Masa kecil Elon sulit untuk dikatakan normal. Elon hampir divonis tuli karena ia seringkali tidak merespon lingkungannya dan terlambat bicara. Keantisosialannya ini ternyata disebabkan karena Elon sibuk memproses gambar-gambar serta teori sains yang berputar-putar di otaknya. Kecerdasannya, selain memang karena given, adalah juga karena hobinya membaca. Elon kecil dapat membaca buku selama 10 jam per hari, dan bahkan di akhir pekan ia bisa membaca hingga 2 buku per hari. Sangat mudah menemukan Elon jika ia menghilang, ia akan berada di toko buku atau perpustakaan untuk membaca.

Meski cerdas, Elon tidak menjadi bintang kelas di sekolahnya. Elon lebih memilih untuk bermain game, coding, atau membaca buku alih-alih mempelajari semua mata pelajaran. Sistem pembelajaran konvensional rupanya tidak cocok untuk Elon yang sejak kecil sudah memiliki ketertarikan yang besar pada fisika. That’s why, Elon pindah ke Kanada untuk meneruskan kuliah. Afrika Selatan menurutnya bukanlah tempat yang tepat untuknya berkembang.

Di Kanada, Elon took Queen’s University in Kingston, Ontario for undergraduate study. Setelah berkuliah selama 2 tahun, Musk mendapat beasiswa untuk berkuliah di University of Pennsylvania. Ia mengambil gelar ekonomi dan fisika secara bersamaan. Sejak di Penn, Musk beberapa kali membuat paper tentang penggunaan energi matahari untuk pengganti fuel. Musk tidak berhenti berpikir mengenai hal ini. Tidak hanya berhenti pada kemungkinan penggunaan energi matahari, Musk juga memikirkan bagaimana model bisnis yang mungkin digunakan untuk mewujudkan hal tersebut.

Zip2

Pada tahun 1995, Elon dan saudaranya Kimbal mendirikan sebuah start-up bernama Zip2. Konsep Zip2 semacam yellowpages online di mana orang dapat mengetahui tempat dan orang lengkap dengan denahnya. Saat itu adalah tahun 1995, tapi Elon dan Kimbal sudah memikirkan dan merancang apa yang kita kini sebut Yelp dan Google Maps. Saat itu internet belum terlalu dikenal. Mereka bahkan ditertawakan ketika menawarkan iklan gratis online, karena hal tersebut tampak konyol dan tidak berguna. Tapi Elon sama sekali tidak menyerah, ia bilang, “My mentality is that of a samurai. I would rather commit seppuku than fail.” Elon rela lembur berjam-jam hingga tidur di kantor hanya demi membangun Zip2. Akhirnya, berawal dari US$ 28.000 yang diberikan oleh ayahnya, Zip2 diakuisi oleh Compaq senilai US$ 307juta.

PayPal

Setelah menjual Zip2, Elon mendirikan X.com. X.com adalah bank online yang memungkinkan orang membeli barang-barang online tanpa sama sekali uang cash. Idenya mungkin terdengar usang saat ini, tapi ketahuilah bahwa X.com adalah cikal bakal dari PayPal. Mulanya, X.com merge with Confinity, start-up pembayaran online yang dimiliki oleh Max Levchin dan Peter Thiel (penulis Zero to One). Kedua start-up itu berubah nama menjadi PayPal yang dikepalai oleh Elon. Oleh karena krisis yang terjadi di PayPal, saat Elon bulan madu dengan istrinya yang bernama Justine Musk, terjadi kudeta sehingga Peter Thiel diangkat menjadi CEO menggantikan Musk. Meski tidak lagi menjadi CEO, Elon tetap menjadi salah satu pemilik saham terbesar di PayPal. PayPal akhirnya dibeli oleh eBay dan pada tahun 2014, perusahaan tersebut nilainya mencapai US$ 32 miliar.

About Mars

Sejak masih di PayPal, Elon sering membaca buku tentang luar angkasa. Tidak hanya membaca, ia juga membicarakan topik ke-luarangkasa-an pada teman-temannya. Ia memiliki keinginan besar untuk bepergian keluar angkasa dan merubah dunia. Keinginan Elon ini mendorongnya untuk menghubungi Robert Zubrin, kepala Mars Society. Mars Society adalah sekumpulan orang yang tertarik pada luar angkasa. Mars Society memiliki sebuah proyek untuk dapat menerbangkan tikus ke planet Mars dan melihat apakah tikus itu dapat kembali ke bumi atau tidak. Elon turut serta dalam proyek ini dengan menyumbangkan dana sebesar US$ 100.000. Tidak hanya menyumbang dana, Elon mencari kendaraan yang tepat untuk proyek tersebut dengan menghubungi NASA dan Rusia. Elon ditertawakan oleh Rusia karena misi konyolnya. Hingga ketika ia pulang dari Moscow setelah gagal bernegosiasi untuk membeli roket dari Rusia, ia menunjukkan spreadsheet yang telah ia buat tentang rincian dana membuat roket. Elon memutuskan untuk membuat roket sendiri demi menjalankan misinya.

SpaceX

Ide membuat roket sendiri pada akhirnya mendorong Elon untuk membangun perusahaan aerospace. Ia tidak lagi sekedar ingin menerbangkan tikus, tapi lebih jauh, Elon bervisi untuk dapat membuat manusia dapat tinggal di planet Mars. Bersama Tom Mueller, pada tahun 2002 di Los Angeles, Elon Musk mendirikan perusahaan aerospace bernama SpaceX.

Visi SpaceX

Produk awal SpaceX adalah roket bernama Falcon 1. Berbeda dari roket yang ada, yang hanya dapat dipakai sekali, Falcon 1 didesain dapat kembali ke bumi setelah meluncurkan ke luar angkasa. Falcon 1 berhasil meluncur pada September 2009 untuk mengorbitkan satelit. Setelah kesuksesan Falcon 1 yang berdarah-darah, SpaceX membuat Falcon 9, sebuah roket dengan 9 mesin. Falcon 9 membawa SpaceX menjadi mitra NASA untuk menjadi vendor kendaraan pengirim cargo ke ISS. Pada tahun 2012, Falcon 9 sukses mengorbitkan Dragon ke International Space Station (ISS). Dragon adalah kendaraan luar angkasa yang dapat mengirimkan cargo ke ISS. Saat ini, Dragon sedang dikembangkan untuk dapat membawa manusia ke luar angkasa.

SpaceX adalah perusahaan yang belum lama berdiri. Usianya masih 14 tahun. Tapi bahkan NASA, sebuah badan resmi pemerintah yang bertanggungjawab atas program luas angkasa negara sebesar Amerika Serikat sejak 58 tahun yang lalu, kini bergantung kepada SpaceX untuk mengirimkan barang ke ISS. Misi mereka mungkin tidak seutuhnya sama, tetapi masih dalam satu jalur yang sama. Satu hal yang membedakan keduanya adalah bahwa SpaceX adalah perusahaan komersil sedangkan NASA tidak berorientasi sedikitpun pada materi. NASA menghabiskan banyak uang untuk membuat spacecraft karena ia di-backup oleh raksasa besar.

Cost untuk membawa cargo ke luar angkasa menurun tajam sejak munculnya SpaceX (Thiel dkk., 2011)

SpaceX awalnya hanyalah sebuah start-up kecil, sehingga ia harus mengetatkan anggaran sekecil mungkin untuk sekedar membuat sebuah produk. Kompetitor terbesar SpaceX, United Launch Alliance (sebuah joint venture Boeing dan Lockheed Martin), menghabiskan US$ 380juta untuk sekali terbang. Sedangkan SpaceX hanya memerlukan US$ 90 juta untuk sekali terbang. Pun, dengan anggaran yang sudah diketatkan tersebut, ia harus dapat meraup keuntungan untuk bisa bertahan. Efisiensi SpaceX adalah sebuah angin segar untuk dapat mewujudkan manusia sebagai multiplanetary species. Merujuk pada sebuah manifesto yang dibuat oleh Peter Thiel dkk. yang berjudul “What Happened to the Future”, jika cost untuk penerbangan ruang angkasa dapat ditekan serendah-rendahnya, akan sangat banyak hal yang bisa dilakukan di luar angkasa, dari mulai telekomunikasi hingga pembangkit listrik. Kalau sudah begitu, nampaknya kita memang perlu bersiap-siap pindah dari bumi dan hidup di planet mars.

Tesla

Jika Steve Jobs berhasil mensukseskan 2 perusahaan (Apple dan Pixar), begitu juga dengan Elon. Selain mengepalai SpaceX, Elon juga mengepalai perusahaan mobil elektrik bernama Tesla Motor. Tesla mulanya didirikan oleh Martin Eberhard dan Marc Tarpening pada tahun 2003. Bervisi mengurangi penggunaan minyak bumi, Tesla menggunakan baterai lithium sebagai bahan bakarnya. Oleh karena krisis internal perusahaan, Elon Musk didaulat menjadi CEO Tesla. Di bawah kepemimpinannya, krisis yang dialami Tesla oleh karena biaya produksi yang tinggi berhasil tertangani.

Banyak pemain lama dalam industri otomotif yang mengeluarkan seri mobil listrik. Tesla adalah perusahaan baru, baru sekitar 13 tahun berdiri. Tapi kehadirannya berhasil mengalahkan mobil listrik dari perusahaan-perusahaan pendahulunya. Tesla masih menduduki peringkat pertama penjualan mobil listrik dengan 164.000 unit mobil listrik terjual sejak tahun 2008.

Apa yang membuat Tesla begitu sukses? Adalah karena paradigma yang dibangun. Jika perusahaan mobil lain membuat mobil listrik sebagai produk untuk meraup keuntungan, Tesla berfokus untuk menjadi perusahaan yang fokus pada inovasi energi. Visinya jelas, adalah untuk menyelamatkan energi minyak bumi. Oleh karena paradigma yang dibangun itu, Tesla berusaha memproduksi mobil yang efisien namun tidak melupakan aspek kecanggihan (canggihnya Tesla silahkan dikepo di sini, niscaya kalian akan tercengang). Saat ini Tesla memiliki 4.625 supercharger (stasiun pengisi bahan bakar listrik) yang tersebar di seantero Amerika Serikat. Pengemudi Tesla dapat mengisi bahan bakar secara mandiri di rumah maupun di supercharger dengan gratis (kecuali untuk Model 3). Jika mobil biasa membutuhkan US$ 2,7 per galon, Tesla hanya membutuhkan US$ 0,12 per KWh. Demi mendorong produksi mobil listrik oleh lebih banyak pemain, Tesla membuka paten teknologinya ke publik. Tesla, sebuah perusahaan yang masih seumur jagung, berani-beraninya menantang perusahaan lain untuk bersaing. Sebuah kebijakan yang berbahaya saya kira, tapi sekali lagi, paradigma yang dibangun Tesla bukanlah sekedar meraup untung dengan menjual mobil listrik, tapi membangun dunia yang lebih baik.

Summary

Sebenarnya Elon Musk tidak hanya berperan di 4 perusahaan yang saya sebutkan di atas. Ia juga membangun SolarCity dan Hyperloop. Tapi di biografi yang ditulis Ashlee, 2 perusahaan terakhir tidak secara rinci diceritakan. Sama dengan pendahulunya, SolarCity dan Hyperloop adalah juga perusahaan berteknologi tinggi yang kehadirannya akan menolong tidak cuma manusia, tetapi juga bumi ini. Elon Musk adalah seorang pemikir besar yang tidak cuma berpikir, tapi ia konkrit berbuat dengan yang saya sebutkan di awal, aspek paling manusiawi (bisnis maksudnya). Karena penemuan sehebat dan secanggih apapun, tanpa ia diproduksi dan dibeli serta dikonsumsi, hanya akan menjadi angan tanpa ada yang mewujudkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *