Dari Korban Menjadi Penggerak dan Pelontar

Judul buku: Sukamiskin’s Springboard

Penulis: Indonesian Writers Academy
Penerbit: Progressio
Tahun terbit: April 2016
Jumlah halaman: xlviii + 318 halaman
Ukuran buku: 14×21 cm
Genre: Pengembangan diri, catatan harian

Saya ingat suatu ketika membaca postingan di salah satu media sosial milik Ust. Salim A. Fillah tentang kunjungan beliau ke Lapas Sukamiskin. Saya tak yakin itu hanya kunjungan biasa mengingat kapasitas beliau. Tebakan saya adalah, beliau men-training para narapidana untuk membuat tulisan-tulisan yang bersifat reflektif dan menarik.

Yang paling saya ingat waktu adalah pernyataan beliau yang kurang lebih begini,

Murabbi, bukanlah hanya soal mengajar dan mendidik, namun juga tentang amal dan karakter. Murabbi, dimanapun tempatnya akan senantiasa menjalankan peran dan fungsinya. Begitulah, gurunda Luthfi Hasan Ishaq, yang tetap menjadi murabbi dan menggerakkan para narapidana untuk tetap produktif dan saling menjaga keimanan.” Beliau mengunggah sebuah foto bersama Ust. Luthfi Hasan Ishaq dan para narapidana di Lapas Sukamiskin.

Ya, sejak Ust. LHI masuk ke Sukamiskin, kehidupan di sana menjadi lebih produktif. Beliau sering mengisi ceramah shubuh dengan materi yang menggugah dan menggerakkan para warga narapidana untuk tidak banyak meratap dan mengeluh. Terlebih kebanyakan adalah orang-orang yang cerdas dan terpandang sebelum masuk ke Sukamiskin. Maka, daripada menyia-nyiakan waktu menyesali nasib, alangkah baiknya memanfaatkan waktu untuk kegiatan produktif seperti membaca, menulis, olahraga, beribadah, diskusi, dan aktivitas postif lainnya.

Salah satu kegiayan yang Ust. LHI perhatikan adalah Kelas Menulis. Beliau mendatangkan rekanan dan jaringannya untuk mengajari para warga narapidana agar mampu menulis. Dari beberapa kali kelas pelatihan menulis tersebut rupanya membuahkan hasil. Para warga narapidana Sukamiskin berhasil menelurkan sebuah buku bersama, yaitu buku Springboard’s Sukamiskin ini, dan menyusul kemudian jilid kedua. Bahkan, ada beberapa narapidana yang selama di penjara sangat produktif menulis buku sendiri sampa belasan buku. Barangkali, kebiasaan baik para pendahulu bangsa ini, yang memaksimalkan waktu selama di tahanan untuk membaca dan menulis menjadi motivasi bagi para narapidana yang kebanyakan adalah korban dari sistem licik para bedebah.

Jika kita membaca isi buku ini, mungkin kebanyakan kita akan merasa biasa saja bahkan akan nyinyir pada mereka. Namun, jika kita berusaha melihat dari sudut pandang para penulis, yaitu para narapidana, maka buku ini adalah suatu prestasi luar biasa. Dimana mereka belajar menerima nasib dan kondisi lalu merubah pola pikir dari korban menjadi penggerak sehingga melahirkan berbagai kegiatan positif.

*****

Membaca buku ini, saya jadi teringat kisah Nabi Yusuf as yang diceritakan Allaah swt dalam kisahnya di Al-Quran surat Yusuf ayat 33,

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Ya, barangkali banyak di antara warga narapidana di Sukamiskin ini seperti Nabi Yusuf as. Mereka lebih rela dikriminalisasi dan dibunuh karakternya dengan dijebloskan ke penjara daripada melanjutkan atau mengikuti sistem dan cara main para bedebah yang mempermainkan negeri ini. Sekilas di mata masyarakat mereka akan tampak seperti sampah, namun di mata Allaah swt, who knows, Dia-lah Yang Maha Tahu.

Dan begitulah kenyataannya, banyak di antara warga narapidana yang menemukan Tuhannya ketika di dalam penjara. Mereka bisa rehat dari kesibukan dunia yang menipu. Mereka fokus beribadah dan bercengkrama dengan Tuhannya. Banyak hikmah dan nilai-nilai yang baru mereka, atau barangkali kita kelak, pelajari selama berada di penjara. Ya, kenyataannya penjara tidak seburuk yang terbayang sedemikian rupa.

Bahkan, tercatat dalam sejarah, banyak karya monumental yang lahir dari dalam penjara. Misalnya Tafsir Fii Dhilaalil Quran karya Syaikh Sayyid Quthb, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, Indonesia Menggugat karya Ir. Soekarno, dan yang mungkin masih asing bagi kebanyakan orang adalah kontributor utama dari kamus legendaris Oxford Dictionary adalah seorang narapidana.

*****

Sekali lagi, lahirnya buku ini patut diapresiasi dengan baik karena menggambarkan pergolakan batin yang hebat para penulisnya sekaligus bentuk kemenangan mereka melawan konflik dengan dirinya yang mengajak menyerah kalah. Memang jika dilihat dari sisi profesionalitas, buku ini masih jauh dari dikatakan baik mengingat tata letaknya, bahasa yang digunakan, dan kesalahan sepele lainnya masih banyak. Namun, jika dilihat dari sudut pandang penulis dan isinya, buku ini memang sesuai dengan judulnya, Sprinboard’s Sukamiskin. Buku ini selain menjadi simbol pergerakan di Sukamiskin, juga menjadi sarana bagi para penulisnya untuk melontar bangkit dari lubang keterpurukan karena dipenjarakan oleh sistem.

Pelajaran terbaik yang saya dapatkan dari buku ini adalah, seburuk apapun masa lalu kita, kita masih memiliki masa depan yang bersih dan bisa kita tulis dengan lembaran baru. Pilihan hanya ada di kita sendiri, apakah mulai mengisi kontennya dengan kebaikan atau tetap meratapi keterpurukan. Jadi, bagi teman-teman yang sedang membutuhkan semangat atau motivasi untuk bersyukur, buku ini adalah buku yang cocok untuk dibaca dan cobalah ikut merasakan pergolakan batin penulisnya.

Selamat menyelami buku reflektif ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *