Anak-Anak yang Dirindu Surga

Alkisah, saat perang Hunain, Rasulullaah beserta pasukannya sedang dalam kepungan musuh. Saat itu, pasukan kaum muslimin sedang banyak-banyaknya karena peristiwa Fathu Makkah yang terjadi sebelumnya. Karena jumlah yang banyak ini, kaum muslimin menjadi congkak dan sombong. Sampai kemudian, orang-orang kafir berhasil mengepung kaum muslimin dalam himpitan dua bukit. Kaum kafir seketika itu langsung melancarkan serangan ke arah kaum muslimin. Kaum muslimin menjadi kalut dan panik menghadapi serangan itu. Di tengah serangan dan kepanikan yang luar biasa, Rasulullaah berseru,

“Yaa, hamilaal Qur’an. Berdirilah dan buatlah barisan!”

Tunggu, apa maksudnya? Ya, Rasulullaah hanya mengundang para hamilul Qur’an atau para penghafal Qur’an untuk membuat barisan dan berjuang di titik darah penghabisan. Jumlah hamilul Qur’an saat itu tidaklah banyak. Tapi ternyata, para hamilul Qur’an yang sedikit inilah yang mampu menumpas musuh hingga kaum muslimin meraih kemenangan. Setelah peristiwa itu, turunlah Surat At-Taubah ayat 25-26 yang berbunyi,

( 25 )   Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.

( 26 )   Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.

***

Kisah perang Hunain ini menyiratkan bahwa para penghafal Qur’an adalah orang-orang terbaik yang siap berjuang bahkan di tengah kepanikan serangan kaum musyrikin. Mereka terdidik dengan begitu baik dalam prosesnya menghafalkan Al-Qur’an. Tidak hanya secara kognitif, tapi juga secara mental, kesabaran, kesucian hati, serta ketaqwaan kepada Allaah.

Itulah mengapa, dulu saat banyak penghafal Qur’an yang gugur, khalifah Abu Bakar As-Shidiq kalang kabut dan mencanangkan program kaderisasi untuk mencetak para penghafal Qur’an yang baru. Di saat itu pula, dibukukanlah Al-Qur’an sebagai sarana untuk mendukung program tersebut. Khalifah sadar betul bahwa para penghafal Qur’an ini merupakan tonggak agama ini, sehingga pembentukannya merupakan hal yang urgen untuk dilakukan.

***

Kesadaran akan pentingnya membentuk para penghafal Qur’an nyatanya tidak hanya di zaman khalifah saja. Saat ini, menghafalkan Qur’an seolah menjadi trend yang memiliki banyak followers. Kita tidak hanya mendapati sekumpulan orang menghafal di pondok pesantren saja, tapi juga di sekolah, di kampus, di kantor, di masjid kampung, di kedai kopi, bahkan di sosial media seperti grup whatsapp atau telegram.

Trend menghafalkan Qur’an juga hadir di lingkungan saya kini. Bahkan, to be honest, di tempat yang saya tinggali. Menikah dengan Fahmi, pada akhirnya, membawa saya ke Rumah Tahfidz Al-Falah Minomartani. Rumah Tahfidz ini dihuni oleh 18 santri mukim yang duduk di kelas 4 SD hingga 3 SMP, yang kesemuanya laki-laki. Karena namanya saja ‘rumah’, RTAF (begitu kami biasa menyingkatnya) berfungsi selayaknya rumah alih-alih seperti pondok pesantren.

Kedelapanbelas anak laki-laki tadi meski tinggal di RTAF, mereka tetap bersekolah di sekolahnya masing-masing. Mereka bangun di seperempat malam terakhir untuk shalat tahajjud dilanjut jama’ah subuh, setoran hafalan sampai syuruq, lalu siap-siap berangkat ke sekolah. Karena hampir semuanya tinggal dan bersekolah di daerah sekitar Minomartani, mereka dapat pergi ke sekolah dengan bersepeda atau diantar orangtuanya. Bagi yang diantar, orangtua mereka akan menjemput mereka dan mengantarkan ke sekolah. Pulang sekolah, orangtua mereka akan menjemput dan mengantarkan mereka ke RTAF lagi.

Setelah Ashar, anak-anak berkumpul di masjid untuk muroja’ah sampai jam makan malam. Muroja’ah dilanjutkan lagi setelah shalat maghrib sampai menjelang adzan Isya’. Setelah shalat Isya’, anak-anak masuk kelas untuk kelas tahsin, tajwid, tafsir, Bahasa Arab, atau akhlak yang diampu oleh para asatidz. Baru setelah itu, anak-anak mengerjakan PR atau belajar dengan dibimbing oleh beberapa sukarelawan. Setiap malam Minggu, ada kegiatan muhadharah atau latihan pidato. Mereka akan menampilkan pidato yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari dengan berbagai gaya. Hari-hari mereka selalu diakhiri dengan membaca surat Al-Mulk bersama-sama di kasur masing-masing, dan diawali kembali dengan gedoran triplek separator ruangan oleh anak-anak yang piket.

***

Kalau kita seringkali menemukan anak-anak sibuk dengan gadget-nya, atau menyanyikan lagu-lagu cinta orang dewasa, atau membeli jajan di pinggir jalan, di RTAF, pemandangan itu sama sekali tidak ada. Alih-alih mereka membawa HP ke mana-mana, mereka memilih mengangkat Qur’an mereka untuk mengulang kembali ayat-ayat yang telah disetorkan. Alih-alih mereka menyanyikan lagu cinta orang dewasa, mereka melantunkan ayat-ayat Qur’an, nasyid, atau shalawat. Alih-alih mereka jajan sembarangan, mereka lebih memilih makan makanan yang ada di dapur atau yang dibawakan orangtuanya.

Barangkali pemandangan seperti di RTAF mudah ditemui di pondok-pondok pesantren. Tapi anak-anak ini kebanyakan bukanlah berasal dari kalangan santri. Orangtua mereka kebanyakan bisa dikatakan sebagai kaum abangan. Lingkungan rumahnya pun kebanyakan selayaknya perumahan biasa, bukan lingkungan yang Islam-nya begitu terkondisi. Mereka tumbuh selayaknya anak-anak kelas menengah Indonesia tumbuh, begitu terbuka pada apa yang disebut dengan modernisme dan cenderung pada konsumerisme.

RTAF sendiri terletak di kompleks perumahan yang multikultur. Sedikit sekali warga sekitar yang dulu pernah nyantri. Bahkan banyak rumah yang memelihara anjing. Banyak pula ibu-ibu yanh belum berjilbab. Dari segi ke-Islam-an, tidak banyak sebetulnya yang menonjol dari lingkungan sekitar RTAF.

Tapi, RTAF itulah yang menjadi oase. Ukurannya boleh jadi kecil, tapi ia yang menghidupkan nuansa Islami di sekitarnya. Kehadiran dan lantunan ayat-ayat Qur’an anak-anak RTAF menjadi motivasi warga untuk juga gegap gempita menuju-Nya. Adzan jadi terdengar begitu renyah, bacaan imam jadi terdengar begitu indah, kajian menjadi sering, masjid menjadi ramai, dan kehidupan di sekitarnya menjadi lebih Islami. Di atas itu, tentu saja, RTAF menjadi mesin yang memproduksi para hamilul Qur’an, yang keberadaannya menjadi tonggak kemenangan sebagaimana yang terjadi pada Perang Hunain dulu.

RTAF hanyalah satu di antara ratusan rumah tahfidz lain di seluruh Indonesia. Tapi melihat perannya di masyarakat, rasanya perlu lebih banyak rumah tahfidz lagi untuk mengkatalis terwujudnya masyarakat madani dan memenangkan agama ini. Kalau perlu, bahkan, setiap masjid memiliki rumah tahfidz-nya sendiri untuk membina anak-anak dan warga di sekitarnya.

Pembangunan boleh jadi terus berlangsung di luar sana. Universitas boleh saja melahirkan ratusan hingga ribuan jurnal setiap tahunnya. Para pengusaha bisa saja lahir setiap detiknya. Tapi bahkan Rasulullaah SAW telah ajarkan, bahwa untuk mencapai kemenangan itu yang dibutuhkan adalah orang-orang terbaik yang begitu dekat dengan Rabb-Nya. Dan orang-orang terbaik ini, sejatinya dibentuk dengan hanya mengembalikan lagi mereka kepada sebuah manual book yang kita sebut Al-Qur’an.

Ah, semoga dikuatkan wahai kalian anak-anak yang dirindu surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *