Totalitas Seorang Guru

Judul Film: Teacher’s Diary
Judul Bahasa Thai: คิดถึงวิทยา Khit Thueng Witthaya
Sutradara: Nithiwat Tharathorn
Pemeran: Laila Boonyasak sebagai Ann, Sukrit Wisetkaew sebagai Song, Sukollawat Kanarot sebagai Nui, Chutima Teepanat sebagai Nam, Witawat Singlampong sebagai Pacar baru Nam.
Tanggal rilis: 20 Maret 2014
Durasi: 90 menit
Genre: Romance

*****

Layaknya anak-anak, ketika kecil dulu saya ditanya tentang cita-cita, saya selalu berganti-ganti jawaban. Kadang menjadi polisi karena melihat polisi itu gagah, lalu berubah jadi dokter bedah karena tampak keren, atau tiba-tiba menyebut ingin jadi pilot karena bisa terbang. Tak satu pun saya menyebut ingin menjadi seorang guru. Hingga ketika saya beranjak dewasa, saya sekolah di MAN Insan Cendekia, di sanalah worldview saya banyak berubah, termasuk dalam hal cita-cita.

Ya, sejak bersekolah di MAN Insan Cendekia, saya jadi sadar betul betapa mulianya menjadi seorang guru. Para guru di sana mengajar dengan penuh dedikasi dan totalitas mengabdi. Bahkan, meski berstatus PNS, mereka pernah telat menerima gaji selama beberapa bulan karena kasus korupsi di departemen pusatnya. Dan yang luar biasa, tak ada perubahan sedikitpun, baik cara mengajar maupun kesabaran mereka mendidik para siswa. Mereka benar-benar mampu menjaga situasi sampai para siswa tak tahu masalah tersebut. Sejak itu, saya bertekad dan bercita-cita kuat untuk menjadi seorang guru. Ya, orang yang mendidik dan mengajarkan ilmu itu.

*****

Ada sebuah film yang mengingatkan saya betapa menjadi guru itu sungguh suatu profesi yang mulia. Seorang guru harus total dalam mengajar dan mendidik siswanya. Ia harus tahu dan paham betul masalah yang dialami siswanya agar para siswa bisa belajar dengan baik. Dan dalam melakukan pekerjaannya itu, ia bahkan tak boleh menceritakan masalah yang dialaminya ke siswa. Ia harus menutup rapat dan bersikap profesional di hadapan siswanya. Dan kurang lebih begitulah, apa yang hendak disampaikan Nithiwat Tharathorn dalam filmnya, Teacher’s Diary.

Film ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang bernama Song, diperankan oleh Sukrit Wisetkaew. Song merupakan seorang mantan pegulat yang memutuskan beralih profesi menjadi guru karena cedera yang membuatnya harus pensiun dini. Dalam ceritanya, Song, yang dalam uji fit and proper test dengan Kepala Sekolah ternyata tidak memiliki keahlian dan pengalaman mengajar sama sekali, akhirnya ditunjuk untuk menjadi guru di Sekolah Kapal. Pertimbangan sang Kepala Sekolah hanyalah karena Song bisa berenang.

Di hari pertamanya mengajar, Song bahkan tak tahu bagaimana cara tinggal di Sekolah Kapal tersebut. Tak ada orang lain, tak ada siswa. Hingga ketika ada nelayan yang tahu bahwa Song adalah guru baru di sana, nelayan tersebut mengantar Song untuk menjemput para siswa ke rumah masing-masing dengan perahunya. Total siswa berjumlah empat orang dan berbeda tingkatan kelas semua. Song pun bingung tak karuan, ia berusaha beradaptasi dan mengajar semampunya.

Dalam masa adaptasi itu, Song menemukan sebuah buku diary yang ternyata ditulis oleh guru pendahulunya, yaitu Ann, yang diperankan oleh Chermarn Boonyasak. Kisah Ann ditempatkan disana pun berbeda dengan Song. Ann merupakan guru yang hebat dan anti-mainstream. Ann dipindahtugaskan oleh Kepala Sekolah karena ia tak mau menghapus tato tiga bintang di lengan kanannya. Pada akhirnya, Ann memutuskan untuk pindah tempat mengajar ke sekolah lain atas bujukan tunangannya.

Sementara Song yang datang belakangan pun bersyukur mendapatkan buku diary tersebut. Song menjadi lebih mudah dalam mengatur dan mengajar anak-anak nelayan. Song juga belajar secara naluriah bagaimana berkomunikasi dan mengajarkan ilmu pada anak-anak yang berbeda usia dan kemampuan. Mulai dari praktek langsung, menghafal, bermain sambil belajar, bahkan yang paling gila adalah menarik Sekolah Kapal dengan perahu untuk menjelaskan prinsip kereta api kepada siswanya.

Kelanjutannya seperti apa, silakan tonton filmnya, dijamin tidak ngantuk dan bisa jadi berurai air mata. Hehe.

*****

Kisah guru Song dan Ann mengajar di Sekolah Kapal benar-benar mengingatkan saya para guru di MAN Insan Cendekia dalam bentuk dan fasilitas yang lain. Mereka merupakan guru yang luar biasa, mengajarkan materi dengan cara yang anti-mainstream. Tidak hanya terpaku pada nilai di atas kertas dan hitam-putih, tapi fokus pada pembentukan karakter para siswa tanpa meninggalkan pentingnya penyampaian dan pemahaman materi.

Seorang guru yang baik tak bisa hanya menjadi pengajar materi saja. Ia harus mampu menjadi pendidik untuk memebentuk karakter siswanya. ia juga harus mampu memecahkan masalah bersama yang dialami para siswa. Selain itu, ia juga harus mampu menjaga keutuhan dan keberlangsungan kehidupan keluarganya. Di masyarakat, sebagai orang terpandang, ia juga harus mampu menempatkan dirinya. Bahkan, jika mampu, seorang guru harus menjadi inspirasi para siswanya agar berani bermimpi dan bercita-cita lebih jauh dan besar daripadanya.

Maka, di sinilah saya, sekarang sedang menjalani pendidikan profesi dokter dan nyambi mengajar anak-anak di Rumah Tahfidz Al-Falah. Yang kontradiktif adalah, di kedokteran saya belajar dan membayar meski saya tidak benar-benar menyukai belajar di sana. Sementara, di rumah tahfidz, saya dibayar untuk mengajar, dan saya sangat menyukai semua yang saya lakukan di sana. Ya, mengajar anak-anak, membantu mereka belajar menyelesaikan masalahnya, menyelami dunia dan karakter masing-masing anak adalah hal yang jauh lebih menyenangkan dibanding berkutat dengan materi dan diktat kuliah yang menumpuk.

Entah mana nanti yang akan menjadi karir masa depan saya, yang jelas keduanya, dokter dan guru, bagi saya adalah profesi mulia dan bermartabat. Dan sampai hari ini, cita-cita saya masih tetap sama, yaitu ingin menjadi guru yang berkesan dan menginspirasi bagi para siswanya. Allaahumma taqabbal aamalanaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *