Kisah Sang Pembaharu

 

 

Judul Buku: The Untold Story K.H.R.Ng. Ahmad Dahlan; Pembaharu, Pemersatu, dan Pemelihara Tradisi Islam
Penulis: Ahmad Sarwono bin Zahir & Shofrotum binti Husein al-Aydrus
Penerbit: Mitra Pustaka Nurani (MATAN)
Cetakan Pertama: Juli 2013
Tebal: xxx + 426
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp100.000,-
Kategori: Biografi, Islam

*****

Muhammad Darwisy namanya. Lahir pada 1 Agustus 1868 saat penjajah begitu kejam menyiksa rakyat hingga umat Islam tampak sangat buruk, kumuh, dan miskin. Seakan Dzat yang mengirimnya ke dunia memberi isyarat bahwa bayi ini akan menjadi salah seorang yang membawa perbaikan. Hari ini kita mengenalnya sebagai K.H. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah dan Pembaharu Pemikiran Umat. Beliau merupakan pelopor dan pendiri Muhammadiyah, identik dengan sosoknya yang mencerahkan, maka logo Muhammadiyah adalah matahari, mencerahkan umat lewat pendidikan dan pemberdayaan.

Beliau lahir di lingkungan ulama keraton. Sejak kecil beliau adalah anak yang cerdas dan rajin mengaji. Beliau sering dikirim oleh ayahnya untuk berguru kepada beberapa kiai di Nusantara. Bahkan, ketika usianya baru menginjak 15 tahun, beliau meminta izin untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah sekaligus selama kurang lebih 5 tahun.

Layaknya santri yang baru lulus dari pesantren, rintangan dakwah pertama K.H. Ahmad Dahlan adalah adat dan kebiasaan masyarakat. Salah satu perseteruannya yang paling sengit adalah tentang perubahan arah kiblat Masjid Kauman yang terkenal kisahnya itu. Meskipun begitu, beliau masih menjaga hubungan baik dengan para ulama’ keraton dan ulama’ nusantara lainnya. Disinilah yang menjadi kelebihan beliau rahimahullaah, yaitu mudah bergaul dan disukai banyak orang karena akhlaknya yang baik.

Beliau adalah orang yang sangat dermawan dalam dakwah. Terbukti beliau banyak mengorbankan waktu bahkan menjual perabotan rumah tangga dan buku-bukunya untuk mendanai amal Muhammadiyah pada awal perjuangan. Beliau mengingatkan kepada semua penerusnya,

“Hidup-hidupilah Muhammadiyyah, dan janganlah kalian mencari penghidupan dari Muhammadiyyah.”

Sesuatu yang menurut saya kadang tampak kontradiktif dengan kondisi Muhammadiyyah hari ini.

Beliau juga membenci orang yang memperturutkan hawa nafsunya, berfoya-foya dengan nikmat dunia yang fana. Bahkan di meja kantornya, beliau menulis ayat yang berbunyi, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” dalam rangka untuk mengingatkan dirinya.

Satu kalimatnya yang terkenal tentang Muhamadiyah adalah,

“Muhammadiyyah bukan agama. Tidak ada maksud Muhammadiyyah untuk menyebarkan agama sendiri. Muhammadiyyah sebagai perkumpulan justru menerima orang-orang dari berbagai kalangan dan madzhab, sepanjang mau terus mencontoh Nabi Muhammad saw.”

Kalimat ini beliau ucapkan ketika beliau dianggap membuat aliran Islam sesat karena memodernkan sistem pendidikan seperti sistem pendidikan Belanda.

*****

Sesuai judulnya, buku ini benar-benar menceritakan The Untold Story dari sosok K.H. Ahmad Dahlan berupa milestone dan hal unik seperti beliau memiliki istri empat, memiliki aliran fiqih yang kurang lebih sama dengan K.H. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri NU, mengingat mereka berasal dari satu guru yang sama, dan lainnya.

Sayangnya, Buku setebal 420 halaman ini lebih menceritakan sejarah perkembangan gerakan Islam sejak zaman penjajahan hingga hari ini. Dari total 12 bab, hanya 4 bab yang membahas the untold story dan sejarah hidup K.H. Ahmad Dahlan. Meski begitu, dari buku ini, ada banyak hal baru yang saya dapat terkait asal-usul “konflik” Muhammadiyyah dengan NU, isu perpecahan dan wahabi di tubuh Muhammadiyah, penyebab kemunduran umat Islam Indonesia, strategi kaum munafik dan musyrik merusak kerukunan umat di Indonesia, dan isu agama lainnya.

Meskipun begitu, untuk sekelas buku biografi, buku ini terkesan sangat subjektif karena penulis banyak sekali memberikan tanggapan dan pemikiran pada hal-hal tertentu dalam sejarah hidup K.H. Ahmad Dahlan. Dan menurut saya, judulnya pun jadi kurang relevan dengan apa yang menjadi isi dari keseluruhan buku ini. Bahasa yang digunakan juga terlalu berat dan asing bagi awam. Saya cukup kesulitan dan butuh selingan bacaan hingga akhirnya bisa menyelesaikan. Dan yang paling mengagetkan adalah, ada bantahan dari pihak Muhammadiyah yang mengatakan bahwa kebanyakan isi buku ini adalah kebohongan, bisa dicek di sini.

Terlepas dari itu, gagasan dan tesis yang dibangun penulis melalui pemaparan sejarahnya cukup mengena untuk membentuk pola pikir yang lebih terbuka dan menerima perbedaan pendapat dan khilafiyah dalam beragama. Hanya, menurut Muhammadiyah, isi buku ini cenderung memojokkan Muhammadiyah sebagai penyebab munculnya khilafiyah dan perpecahan umat di Indonesia. Cukup worth it lah mengeluarkan uang untuk membeli buku ini. Saya beli dengan harga Rp100.000,- namun karena harga teman, jadi Rp125.000,-

Selamat menyelami dan meneladani kehidupan Sang Pembaharu dalam versi yang lain, K.H. Ahmad Dahlan! Hati-hati dalam membaca dan selalu biasakan membaca sumber lain agar berimbang dan tidak terlalu terbawa subektivitas penulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *