Ketika Baik Pun Tak Cukup

Judul: Good to Great ( HC )
No. ISBN: 9786020304434
Penulis: Jim Collins
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: Agustus – 2014
Jumlah Halaman: 380 halaman
Berat Buku: 700 gram
Harga: Rp120.000,-
Jenis Cover: Hard Cover
Kategori: Manajemen
Teks: Bahasa Indonesia

*****

Dalam hidup ini manusia secara umum terbagi dalam dua kelompok besar yaitu, baik dan buruk. Di masing-masing ujungnya, tentu akan muncul dua kelompok lagi yang jumlahnya tak seberapa, mereka ini kita sebut dengan kelompok ekstrim, lagi-lagi masih tentang ekstrim baik dan ekstrim buruk.

Kelompok ekstrim ini muncul karena sifat manusia yang tak pernah puas akan sesuatu hal yang dicapai. Ketika satu milestone tercapai, ia akan mengejar milestone lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullaah saw,

“Seandainya anak Adam memiliki emas sebesar Gunung Uhud, maka ia pasti akan mencari emas lainnya.”

Inilah fitrah manusia dalam memenuhi kebutuhannya, tak pernah puas. Maka, muncullah kelompok ekstrim baik yang selalu lapar dengan kebaikan dan kelompok ekstrim buruk yang tak pernah menginsyafi keburukannya.

Buku Good to Great ini adalah salah satu contoh yang menjelaskan bagaimana membuat sesuatu menjadi lebih dari sekedar baik, menjadi hebat dan luar biasa. Awalnya memang Jim Collins membuat buku ini berdasarkan penelitian untuk manajemen perusahaan agar menjadi hebat. Namun, konsep yang diajarkan sepertinya cocok untuk dipraktekkan dalam konteks yang lain seperti kepribadian, organisasi, dan lainnya.

Di awal buku ini, tak tanggung-tanggung, Jim Collins langsung menyerang sesuatu yang baik dengan dianggap sebagai musuh. Kenapa? Karena mereka yang merasa telah cukup baik biasanya akan mudah berpuas diri dan tenggelam dalam comfort zone. Maka, sebelum terlalu jauh, beliau langsung menyerang konsep bahwa menjadi baik itu tidak baik.

Setidaknya ada enam hal yang dijelaskan dalam konsep bagaimana menjadi hebat dalam buku Good to Great ini. Pertama adalah soal pemimpin. Perusahaan atau organisasi yang ingin menjadi hebat, maka harus memiliki Pemimpin Level 5. Begitu pula kepribadian, yang ingin memiliki pribadi hebat, maka belajarlah dari karakter Pemimpin Level 5. Karakter Pemimpin Level 5 intinya adalah pemimpin yang tidak hanya hebat dalam mengatur anggotanya, namun ia mampu menggerakkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin baru. Ia bekerja dalam diam dan kerendahan hati. Ia memberi inspirasi bagi para anggotanya namun tak pernah menonjolkan dirinya. Tak ada one-man-show, yang ada hanyalah teamwork yang kompak. Jika ada prestasi, maka ia akan mengatakan bahwa itu adalah kerja keras dan usaha team-nya, sementara dalam kondisi terpuruk atau gagal, maka ia mengambil tanggungjawab untuk berdiri menjadi tameng dan segera mulai membangun ulang tanpa banyak bicara.

Kedua adalah soal siapa orang yang tepat untuk naik ke dalam bus. Jika pemimpin sudah baik, maka anggotanya juga harus orang yang tepat, the right man in the right place. Ibarat sekelompok penumpang dalam sebuah bus, jika semua orang yang di dalamnya paham betul kemana arah tujuannya, maka sopir tak perlu lagi bingung memilih jalur mana dan tujuan kemana dulu. Biarkan saja penumpang bekerja memilih tempat duduknya sesuai tujuannya berurutan hingga akhir dan memberikan informasinya. Tentu jalur yang dilewati akan efisien. Maka, dalam perusahaan yang hebat, jarang terjadi pertikaian yang tak perlu. Bahkan, perusahaan berani membayar mahal untuk mereka karena loyalitas dan etos kerjanya. Sementara mereka merasa bahagia bekerja di sana karena diberikan peran yang sesuai dengan keinginannya. Dengan begini, maka tentu akan mudah klop antara Pemimpin Level 5 dan Penumpang yang tepat di dalam bus.

Ketiga, adalah tentang memahami realitas bahkan dalam kondisi yang paling buruk. Kadangkala, beberapa orang yang visioner memiliki idealisme yang sangat kuat. Namun, lagi-lagi konsep segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik terbukti. Bahwa orang yang terlalu idealis dan menafikan fakta-fakta yang tidak sesuai dengan idealismenya ibarat pemberi harapan palsu. Untuk menjelaskan tentang prinsip ini, Jim Collins bahkan harus menceritakan kisah Admiral Jim Stockdale yang ditangkap oleh Viet Kong selama masa puncak perang Vietnam dan akhirnya dibebaskan di akhir perang. Kisah tersebut diabadikan dalam teori prinsip bertahan dalam kondisi terburuk yang disebut Paradoks Stockdale. Dengan mengetahui kondisi dan kemungkinan terburuk, maka seseorang tidak akan banyak membuat harapan dan target semu. Ia akan berusaha melakukan sesuatu yang realistis untuk bertahan dalam kondisi terburuk sembari menunggu peluang hingga akhirnya bisa membalikkan keadaan dan menjadi yang terbaik.

Ada metode praktis yang diajarkan Jim Collins dalam buku ini diantaranya adalah memimpin dengan pertanyaan, bukan dengan jawaban. Dengan begini, semua orang akan berusaha, berdiskusi, dialog, debat, dan lainnya untuk menentukan jawaban kemana arah kepemimpinan akan dituju. Semua suara akan didengar bahkan tentang fakta yang paling buruk. Sehingga visi yang dibentuk adalah visi bersama. Langkah ini akan jauh lebih mudah jika pemimpinnya adalah Pemimpin Level 5 dan anggotanya adalah Penumpang yang Tepat di atas Bus. Sebaliknya, bisa menjadi bencana jika langkah pertama dan kedua belum dilaksanakan.

Keempat, adalah tentang bagaimana menjadi landak. Landak adalah binatang yang tak memiliki banyak pilihan. Untuk bertahan hidup, hanya ada satu alat pertahanan dirinya yaitu duri di sekujur tubuhnya. Sekuat apapun musuhnya, diserang dari arah manapun, landak hanya akan mengulung tubuhnya menjadi sebuah bola berduri yang otomatis akan menyakiti mereka yang mengenainya. Pertahanan landak hanya satu jenis, namun ia begitu menguasai tekniknya sehingga menjadi aman dan survive.

Bagi Jim Collins, teori menjadi landak dalam buku ini dijelaskan dalam konsep Tiga Lingkaran. Lingkaran pertama adalah tentang apa yang memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik. Lingkaran kedua adalah tentang gairah, keinginan, passion, atau nilai terbesar dalam diri atau perusahaan. Lingkaran ketiga adalah tentang bagian mana yang paling profitable, menghasilkan keuntungan dengan variabel tertentu. Dari ketiga lingkaran itu jika disusun overlap maka akan terbentuk irisan di tengahnya. Irisan tengah itulah yang menjadi tujuan dan visi yang harus dikejar untuk dicapai. Sekilas memang mudah, namun kenyataannya sangat sulit untuk bisa konsisten dalam menjadikan konsep Tiga Lingkaran sebagai acuan.

Kelima, adalah bagaimana membuat suatu manajemen disiplin diri yang baik tanpa memaksa. Untuk menjadi lembaga atau pribadi yang hebat, maka kedisiplinan akan selalu menjadi kunci utama dalam pembahasan. Dalam hal ini, kita tidak hanya dibutuhkan sekedar menjadi orang disiplin. Lebih dari itu, harus terbentuk pemikiran yang disiplin dalam diri kita yang kelak akan melahirkan tindakan yang disiplin. Inilah yang dilakukan oleh perusahaan atau orang yang berusaha menjadi hebat. Daripada membuat aturan-aturan dan menyusun birokrasi untuk mendisiplinkan, mereka lebih suka mengajarkan dan membiasakan pemikiran disiplin supaya terbentuk kesadaran untuk berbudaya disiplin dalam segala hal tanpa harus ada paksaan berupa hukuman atau lainnya.

Keenam, adalah tentang akselerator perubahan. Dalam buku ini, dijelaskan yang menjadi akselerator adalah perkembangan teknologi karena penelitiannya dilakukan di penghujung abad ke-20 dan transisi abad ke-21. Jim Collins mengajarkan kita untuk pandai membaca situasi dan kondisi sebelum menggunakan suatu variabel akselerator. Karena, jika salah dalam memakai atau memilihnya, malah akan berujung kehancuran. Dalam menjelaskan prinsip ini, Jim Collins mengingatkan agar jangan sampai menjadikan suatu variabel akselerator perubahan untuk menjadi momentum lompatan prestasi. Namun, sebaiknya tetap berusaha konsisten dan disiplin dalam konsep Tiga Lingkaran yang menjadi prinsip landak. Dengan begitu, maka suatu variabel akselerator benar-benar akan bekerja sesuai namanya.

*****

Buku setebal 360 halaman ini menceritakan tentang bagaimana perbandingan perusahaan-perusahaan dunia  mengalami masa pasang dan surut. Awalnya perusahaan yang mendominasi, namun berakhir dijual atau diakuisisi. Meski begitu, ada beberapa perusahaan pencilan yang bisa lolos seleksi dan menjadi perusahan hebat dalam jangka waktu panjang. Perusahaan pencilan inilah yang kemudian menjadi objek penelitian bagi Jim Collins untuk menyusun buku ini.

Ia ingin mencari tahu alasan mengapa sejumlah perusahaan berhasil membuat lompatan dan bertahan lama, sementara yang lain gagal atau tenggelam seiring zaman. Worth it banget buat dibaca meski bukunya agak tebal, untuk self development atau building self-concept. Enjoy your reading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *