Kata Tersakti Se-Dunia

Kali ini saya mencoba menggunakan bahasa yang sering oleh Zahra jika kagum pada sesuatu. Ya, dia dia akan langsung mengatakan, “…the most ….. thing in the world“. Maka, begitulah saya menggunakan kalimat itu untuk judul tulisan kesekian ini, Kata Tersakti Se-Dunia. Apa itu? Sangat singkat, terdiri dari empat huruf dengan double huruf vokal yang sama, yaitu Maaf.

*****

Ceritanya bermula ketika saya menemukan pakaian saya yang salah setrika, atau Zahra masak makanan yang kurang saya suka, atau misalnya Zahra terlambat pulang karena suatu udzur syar’i, Zahra akan mengatakan, “Maaf, Sayaang. Aku tadi….“. Atau sebaliknya, misalnya ketika tanpa sengaja saya menumpahkan makanan mengenai pakaian Zahra, lupa menyimak hafalannya karena sibuk co-ass, dan kesalahan yang tak terhindarkan lainnya, maka refleks akan mengatakan, “Maaf, sayaang. Aku….

Barangkali karena kami terbiasa saling memaafkan, pernah suatu ketika saya usil membalas pernyataan Zahra dengan jawaban, “Terus, kalau misalnya aku nggak memaafkan, kamu mau gimana?” Sekali saya jawab begitu, Zahra cuma diam lalu memohon maaf ulang dan mengatakan, “Ya, mau gimana lagi…,” atau yang semisalnya. Dua kali masih melakukan dan mengatakan hal yang sama. Berikutnya pun begitu.

Sampai akhirnya kemudian ia bisa memberikan jawaban yang saya harapkan. Jawaban yang menjadi sebab kata “Maaf” menjadi kata tersakti se-dunia. Waktu itu, Zahra bilang,

“Yaa, sebenarnya maaf disini bukan berarti aku minta maaf saja, Sayaang. Tapi, maaf di sini juga berarti bahwa aku tidak bermaksud melakukan kesalahan itu. Kesalahan itu terjadi karena ketidaksengajaan, ketidakmampuan, atau memang tidak ada pilihan lain. Jadi, selain minta maaf aku juga menyesal atas kesalahan yang terjadi. Aku minta maaf yaa.”

Ketika kata itu keluar, rasa kesal, marah, gemas, dan sebagainya yang muncul karena kesalahan tiba-tiba lenyap begitu saja. Itulah kenapa kata “Maaf” adalah kata paling sakti se-dunia. Jika diucapkan dengan tulus, bisa mengubah hati dan sikap seseorang.

*****

Terkait kata “Maaf” ini, ternyata ia juga menjadi salah satu karakter ketaqwaan seseorang yang akan membawa ke surga. Allaah swt berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 133-134,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa maaf ini menjadi sedemikian penting sampai ia menjadi salah satu karakter yang bisa membawa pemiliknya ke surga?

Mari kita mengingat kisah Nabi Muhammad saw ketika berdakwah ke penduduk Thaif berharap diterima oleh kerabat jauhnya. Kenyataannya, beliau malah dihina, diusir, dan dilempari batu sampai berdarah-darah. Dalam perjalanan pulang, ketika sedang istirahat, Malaikat Jibril datang kepada beliau dan berkata kurang lebih begini, “Muhammad, kalau kamu mau aku bisa angkat dua gunung di depanmu itu dan aku timpakan pada mereka yang membuatmu begini. Gimana?” Rasulullaah saw hanya menjawab, “Jangan, Jibril. Biarkan mereka hidup, karena siapa tahu di sisa usianya mereka akan mendapatkan hidayah dari Allaah swt. Aku akan mohonkan ampun mereka pada Allaah swt.” Lalu beliau memanjatkan doa, “Yaa Allaah, ampunilah kaumku. Karena sungguh mereka belum tahu tentang agama-Mu.

Lihatlah betapa Rasulullaah saw mampu menahan amarahnya dan malah memaafkan orang-orang yang mendzaliminya di saat ada kesempatan untuk membalas. Barangkali, jika kita di posisi Rasulullaah saw, akan mudah bagi kita mengatakan, “Silakan, hancurkan saja mereka. Diajak kebaikan malah ngelunjak.” Atau bahkan, na’udzuubillaahi disertai ucapan sumpah serapah lainnya.

Inilah yang kemudian membuat sifat maaf menjadi istimewa. Orang yang memilikinya karena keimanan kepada Allaah swt, maka Allaah swt akan memuliakannya dengan balasan surga. Maka, yuk mari biasakan meminta maaf dan memaafkan serta bertaubat alias tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga dengan kebiasaan itu, kelak kita bersama-sama dikumpulkan bersama para pemaaf di surga. Aamiiin.

Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fuannaa yaa kariim…
Yaa Allaah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemaaf serta Maha Mulia, Engkau menyukai maaf. Maka, maafkanlah kesalahan kami, Wahai Dzat Yang Maha Mulia…

2 thoughts to “Kata Tersakti Se-Dunia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *