Menjaga Perempuan

Tulisan ini adalah sebuah korespondensi dari banyaknya komentar yang masuk ke private chat saya tentang mengapa saya membatasi perempuan pergi keluar rumah. Sebelumnya, saya membuat tulisan berjudul Fitrah Perempuan di sini, lalu ada beberapa orang yang mempertanyakan, entah karena kurang puas atau tidak sepakat. Maka, di sinilah saya hendak menjelaskan mengapa saya memilih untuk membatasi perempuan keluar rumah khususnya istri saya, anak saya, dan orang terdekat saya. Bagi yang sepakat, silakan dilaksanakan, bagi yang tidak, mohon untuk mengikhlaskan saya menyampaikan (insyaaAllaah) kebaikan, dan menjaga orang-orang terdekat saya.

Here we go,

*****

Pertama, adalah soal pandangan mata. Kembali ke kisah seorang perempuan membonceng sepeda motor yang berpakaian seksi yang saya ceritakan di sini. Dalam buku Psikologi Suami-Istri karya Dr. Thariq Kamal An-Nu’aimi disebutkan sebuah fakta yang menarik. Laki-laki, sebaik apapun orangnya, ketika melihat perempuan berpakaian minim dan mengumbar aurat otomatis akan mengalihkan perhatiannya meski sejenak. Dan ketika itu terjadi, hasrat seksualnya akan keluar secara otomatis. Hal ini bahkan muncul seperti misalnya ketika seorang ikhwan melihat akhwat yang cantik atau semisalnya. Itulah fitrah seorang lelaki yang begitu melihat wanita, selalu ada pikiran tentang seks, meski hanya selingan. Berbeda dengan perempuan yang mudah teralihkan perhatian oleh laki-laki karena kepedulian dan kasih sayangnya.

Maka, di sinilah pentingnya laki-laki untuk mampu menjaga pandangan mata dan nafsu kemaluannya. Barangkali, itulah alasan Allaah swt menyebutkan perintah menjaga pandangan dan kemaluan kepada laki-laki lebih dahulu sebelum kemudian juga diingatkan untuk para perempuan (Lihat An-Nuur ayat 30-31). Di sini pula, barangkali kenapa Rasuulullaah saw menganjurkan bagi para pemuda yang sudah siap nafkah lahir batin untuk bersegera menikah. Kurang lebih, itulah alasan pertama saya untuk membatasi Zahra keluar rumah. Tujuannya adalah supaya menghindarkan dia dari pandangan mata yang buruk, pandangan mata setan yang berorientasi nafsu, dan lain sebagainya, na’uudzubillaah. Memang tidak semua laki-laki begitu, namun saya yakin bahwa setan selalu menunggu kesempatan untuk menggoda manusia, sehingga alangkah lebih baik mencegah adanya kesempatan daripada mengambil risiko yang terjadi, saddu adz-dzari’ah.

Kedua, adalah soal amanah. Dulu, ketika kecil, saya sering protes kepada Ibu saya, kenapa saya tidak boleh keluar malam, tidak boleh main jauh-jauh sendirian, harus pandai memilih teman, dan larangan ketat lainnya. Beliau menjawab tegas,

“Nak, kamu itu anak Ibu. Allaah swt memberikan amanah kepada Ibu untuk menjaga dan mendidik kamu supaya kamu menjadi hamba Allaah swt yang berbakti. Maka, seumur hidup Ibu, saksikanlah bahwa Ibu nggak akan ridho jika kamu bermaksiat kepada Allaah swt meski Ibu tidak tahu. Larangan-larangan itu adalah bagaimana cara Ibu menjagamu dari keburukan. Karena ketika kamu bermaksiat, kamu mendapat keburukan, maka itu berarti Ibu gagal menjagamu dan amanah yang Allaah swt berikan. Ibu mendapat dosa dari hal tersebut. Kalau kamu ingin seperti teman-temanmu yang dibebaskan orangtuanya ini-itu, dituruti semua kemauannya lalala, maka silakan pergi dan jadilah anak Ibunya yang seperti itu. Tapi, Allaah swt menakdirkan kamu menjadi anak Ibu, jadi sampai Ibu menghadap Allaah swt nanti, kamu masih tanggung jawab Ibu untuk menjaga dari keburukan dan kemaksiatan.”

Nyesss, rasanya sejak itu saya tak pernah berani membantah Ibu meski kadang kurang masuk akal kecuali pada hal yang sangat urgen.

Dan di sinilah saya, membatasi istri saya keluar rumah adalah cara saya menjaga istri saya. Sejak awal saya menganggap bahwa pernikahan ini adalah amanah Allaah swt melalui perantara mertua saya untuk menjaga Zahra. Maka, ketika saya melafalkan akad nikah dulu, itu berarti selama saya hidup, saya akan menjaga Zahra dari keburukan dan kemaksiatan. Salah seorang guru saya pernah berpesan,

“Ketika seorang ayah memiliki amanah seorang anak perempuan, lalu anak ini tak berhijab, auratnya dilihat oleh orang lain yang bukan mahram, bahkan sampai ada laki-laki yang membayangkan hal-hal yang tidak pantas dengan anak itu, maka ayahnya juga bertanggung jawab atas dosa karena tidak menjaga amanah itu dengan baik. Begitu juga seorang suami, ketika menikah, maka amanah penjagaan anak perempuan diberikan kepadanya sebagai istrinya. Maka, ketika istri tidak menutup aurat, bahkan sampai ada orang lain yang jatuh cinta padanya dan membayangkan hal-hal yang tidak pantas padanya, disitulah ada dosa atas suaminya karena gagal menjaga amanah menjaga istrinya.”

Itulah dosa yang saya takutkan akan terjadi seandainya Zahra sering keluar rumah, bahkan malam hari, ber-ikhtilat, berhias, dan lainnya. Maka, kewajiban saya sebagai suaminya adalah menjaganya agar tidak terjadi itu semua, na’uudzubillaah.

Ketiga, adalah soal family time. Ya, batasan untuk keluar rumah sebenarnya bukan hanya berlaku bagi Zahra. Batasan ini berlaku bagi saya juga. Hal ini bukan apa-apa, bukan sekedar biar adil, namun lebih karena kebutuhan kami dalam keluarga, yaitu family time. Maka, kami sepakat untuk membiasakan diri pulang sebelum maghrib dengan batas toleransi keterlambatan maksimal sebelum isya’. Kenapa? Selain karena hendak menetapi fitrah Allaah swt menciptakan malam yang gelap untuk istirahat dan beribadah intim dengan Allaah swt, juga untuk mempererat hubungan dengan keluarga.

Sejujurnya, saya begitu keras dengan aturan ini mengingat hari ini lingkungan kita berjalan dengan cara sebaliknya. Ketika malam hari, semakin malam malah semakin ramai, baik manusia maupun setannya. Hingga ketika dini hari, dimana merupakan waktu paling istimewa bagi seorang hamba untuk menyendiri dengan Rabb-nya, malah kebanyakan tertidur pulas. Dan paginya, tentu kehidupan baru akan dimulai ketika matahari sudah meninggi. Hasilnya, akan muncul manusia-manusia yang jauh dari tuhannya karena jarangnya interaksi yang berkualitas dengan tuhannya, materialistik. Inilah yang dikehendaki oleh musuh-musuh Islam, yaitu menjauhkan umatnya dari tuhan dan agamanya, sehingga imannya semakin menipis dan mudah untuk dipengaruhi. Maka, wajar jika hari ini jumlah umat Islam besar, namun yang beriman benar hanya sekian orang.

*****

Namun, meski saya membatasi, bukan kemudian saya melarang strict tidak boleh keluar rumah. Setidaknya, ada dua alasan yang saya bolehkan bagi Zahra jika ingin izin keluar rumah sebagaimana yang saya sebutkan di sini. Pertama, adalah meluruskan niat karena Allaah swt. Keluar pergi ke kampus untuk belajar lillaah, keluar untuk bisnis lillaah, bukan hanya untuk sekedar memuaskan diri dan mencari keuntungan dunia. Dan karena niatnya karena Allaah swt, maka tidak perlu harus berhias indah, hanya secukupnya dan pantas saja, karena tidak bertujuan mendapatkan impresi manusia, melainkan impresi dari Allaah swt. Kedua, tidak terjadi ikhtilat selama di luar. Khusus untuk ini, saya belum bisa sempurna membatasinya mengingat kepentingan Zahra untuk menyelesaikan studinya dan lingkungan di Indonesia yang bercampur-baur. Di sinilah, saya hanya bisa menitipkan Zahra pada penjagaan Allaah swt agar dijaga dari pandangan yang buruk, dan dijaga hatinya agar senantiasa tunduk terhadap syariat.

Mungkin, ada yang beralasan, bagaimana jika ada perempuan yang dia dijadikan sebagai tulang punggung keluarga atau dijadikan sandaran untuk menyejahterakan keluarganya? Saya jawab, maka di situlah letak tanggung jawab suaminya. Karena bakti perempuan akan berubah setelah menikah dari orangtuanya menjadi kepada suaminya. Sementara, bakti laki-laki juga akan berubah setelah menikah, yaitu menjadi kepada orangtuanya, kepada mertuanya, dan kepada istrinya. Maka, suami yang baik tentu akan memuliakan mertuanya sebagaimana memuliakan orangtuanya. Jika belum mampu, maka sebaiknya bersabar karena sungguh rezeki tiap manusia telah Allaah swt atur semuanya sebagaimana yang ditulis Zahra di sini.

Sampai sini, saya bersyukur mendapatkan orangtua yang dengan ikhlas dan serius menjaga saya sejak kecil bahkan hingga dewasa sekarang. Saya juga bersyukur memiliki istri yang shalihah dan mampu menjaga diri dengan baik kala tidak bersama dengan saya. Saya bersyukur pula mendapatkan keluarga mertua yang memahami agama dengan baik, lurus aqidahnya, dan mulia akhlaknya. Maka, sebagai bentuk rasa syukur saya atas nikmat ini semua adalah dengan menjaga mereka semua dari segala bentuk keburukan dan kemaksiatan. Mari sama-sama memohon kepada Allaah swt untuk menjaga kita semua dari keburukan dan kemaksiatan.

Allaahumma innaa na’udzuubika min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-aati a’maalinaa…
Ya Allaah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keburukan diri kami, dan kejelekan perbuatan kami…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *