Haruskah Pacaran?


“Sudah pacaran berapa lama?” Tanya Pak Lurah sambil tersenyum.
“Wah, maaf, Pak. Kami tidak pacaran.”
“Lho, sek ndak bisa gitu. Ini dijodohin berarti? Atau dipaksa?” Tanya Pak Lurah lagi mendadak berubah tampak kurang senang.
“Iyaa, Pak. Dijodohin sama Allaah.” Jawab saya sambil cengengesan.
“Lha ini, yang begini ini, yang nggak pakai pacaran gini yang seringkali jadi kawin-cerai. Baru nikah sebentar, ada masalah, marahan, langsung cerai. Soalnya nggak pakai kenalan dulu, lihat cocok atau nggak, langsung asal nikah saja.”
“Hmmmm,…” Saya hanya diam.

*****

Kurang lebih begitulah keadaan potongan percakapan saya dengan Pak Lurah ketika meminta izin untuk menikahi Zahra beberapa waktu yang lalu. Ya, di beberapa daerah memang ada aturan untuk menghadap Pak Lurah dan meminta izin terlebih dahulu sebelum menikah dengan salah seorang warganya. Tujuannya pun baik, untuk membekali calon pengantin agar lebih siap menikah dan menerima baik maupun buruknya. Namun, dalam sesi itu, percakapan diatas sedikit mengganggu saya, bahkan sampai hari ini melihat lingkungan di sekitar saya yang banyak dengan pemuda-pemudi yang berpacaran.

Maka, saya mulai tulisan ini dengan judul langsung ke inti, Haruskah Pacaran?

Sejujurnya, saya agak kasihan dengan mereka yang “mewajibkan” pacaran sebelum menikah. Pacaran sekitar setahun, dua tahun, atau beberapa waktu terlebih dahulu. Jika nanti sepakat dan cocok, maka dilanjutkan dengan jenjang berikutnya yaitu menikah. Jika tak cocok, maka hubungannya berakhir sampai pacaran saja. Untuk pernikahannya, bisa mencari calon lain yang lebih cocok, biasanya juga dengan pacaran lagi. Sangat lama dan tidak efektif.

Ibarat orang yang akan berjual-beli, ia sudah mengambil barangnya, dicoba-coba dulu, jika cocok dibayar, jika tidak dikembalikan. Rugikah pedagangnya? Tergantung pola pikir mana yang kita pakai. Jika logikanya untuk marketing mungkin tidak akan merugi karena tentu akan membuat dagangannya semakin laris. Namun, jika logikanya untuk sebuah pernikahan? Untung atau rugikah? Lagi-lagi tergantung. Karena ada beberapa daerah yang memiliki paham bahwa semakin sering kawin-cerai, semakin sering putus pacaran, maka semakin mahal perempuan tersebut.

Lalu, kalau tidak dengan pacaran, bagaimana cara kita mengenali pasangan kita? Tentu tidak ada mertua yang mau membeli kucing dalam karung. Tidak ada pula seorang pun yang mau menikah dengan anonymous atau stranger. Secara, kita semua berharap pasangan kita adalah orang yang akan membersamai kita sampai akhir hayat sehingga harus tahu dan kenal dulu siapa dia. Islam pun tidak mengajarkan untuk menikah ujug-ujug tanpa mengenal dan mengetahui calon pasangan terlebih dahulu. Hanya, sebatas apa kita boleh mengenal calon pasangan kita, itu ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Maka, di sinilah konsep ta’aaruf menjadi suatu penawar yang menarik.

Ta’aaruf secara bahasa artinya berkenalan, akar katanya dari mengetahui. Jadi untuk sampai ke tahap memilih pasangan, kita hanya cukup tahu dan kenal, tak perlu sampai dekat. Karena kalau sampai dekat, makan bareng, pulang-pergi bareng, namanya bukan ta’aaruf, tapi taqaarub. Apalagi kalau sampai jatuh cinta duluan, kepikiran terus-menerus, berbagi kasih sayang padahal belum ada ikatan pernikahan, namanya tentu bukan ta’aaruf tapi tahaabub. Jadi, ta’aaruf itu cukup mengenal dan tahu minimal tentang empat perkara. Pertama, tentang agamanya, bagaimana sholatnya, hubungannya dengan Allaah swt, akhlaknya pada orangtua dan tetangganya, siapa temannya, dan sebagainya. Kedua, tentang fisiknya. Ini pun ada batasnya, cukup wajahnya saja, tak lebih. Tak perlu tahu body-nya, kulitnya, dan lain sebagainya. Ibarat buah yang dijual di toko, cukup melihat kulit luarnya saja, tak perlu mengupas dulu baru membeli. Ketiga, tentang keturunannya, siapakah bapak-ibunya, siapa kakek-neneknya, apakah kalangan orang yang baik-baik, dan sebagainya. Jika perlu, cari tahu tentang riwayat penyakit keluarganya. Dan yang terakhir, adalah tentang “hartanya”, apakah ia pandai mengelola harta, apakah ia suka berbelanja barang mahal, dan sebagainya. Cukup sampai sana, karena hanya mengenal dan mengetahui.

Jika ta’aaruf hanya untuk mengetahui empat perkara di atas, maka tentu tidak membutuhkan waktu yang lama dan ribet. Bahkan, kadang tidak perlu bertemu langsung, hanya dengan perantara bisa selesai. Jadi bisa meminimalisasi pertemuan sebelum menikah. Pengalaman saya ber-ta’aaruf dengan Zahra sepertinya tak jauh dari kesan begitu. Ketika sudah memutuskan akan menikah, saya dan Zahra pun saling membatasi hubungan, bahkan tidak pernah. Jika ada yang perlu disampaikan, kami menyampaikannya lewat perantara, pun kami tidak saling kepo satu sama lain.

Bandingkan jika untuk menikah harus dengan pacaran. Untuk biaya traktir makan, biaya antar-jemput, biaya menemani jalan-jalan, dan lainnya. Belum lagi waktu yang harus disediakan untuk nge-date. Sudah tidak efektif, koleksi dosa pula. Bahkan, kalau dipikir logis, pacaran itu menyakitkan. Sudah habis modal waktu dan uang banyak, ketika ada masalah atau bosan, lalu putus, dan hilang begitu saja. Sedangkan jika menikah, ada masalah atau bosan, tentu akan berpikir ulang jika harus cerai karena besar konsekuensinya, sama-sama saling sadar dan bertanggungjawab.

Kalau pun dalih pacaran bukan untuk persiapan menikah, tapi untuk berbagi kasih sayang, maka ini sungguh kasihan. Biasanya, mereka ini kurang mendapatkan kasih sayang dan kepedulian dari orang tua atau saudaranya sehingga kurang merasakan kasih sayang ataupun kurang mendapat tempat melimpahkan kasih sayangnya. Kadang saya tak habis pikir, jika pacaran itu bukan bertujuan untuk persiapan menikah dan hanya untuk berkasih sayang saja, maka sungguh kasihan mereka yang akan menikahi si mantan. Mereka akan menikahi bekas pacar orang yang kadang sudah second, sudah dipegang-pegang, atau bahkan, na’udzuubillaah, lebih dari itu. Ada teman saya, orangnya ganteng, keturunan orang kaya, otaknya encer, tapi dia tidak mau pacaran. Alasannya,

“Kasihan istri gua kalo gua pacaran. Ntar dia dapet bekasnya orang. Gua pingin ngasih diri gua ke istri dalam keadaan baru, masih disegel, fresh dari orangtua gua.”

Maka, sampai sini saya rasanya sepakat sekali dengan judul bukunya Ust. Felix Siauw yang menyindir orang-orang yang pacaran itu, “Udah, putusin aja!”

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’ 32).

3 thoughts to “Haruskah Pacaran?”

  1. kak mau nanya, gimana kalau ada seorang cewek yang deket sama anak cowok karena dia merasa nyaman cerita sama dia, masalahnya menurut dia kalau dia cerita sama anak cewek itu orangnya gak bisa diem pasti di umbar-umbar.. mereka juga saling berbagi cerita gak cuman ceweknya ke cowoknya tapi cowoknya juga ke cewek, tapi diantara mereka gak ada rasa suka.. itu boleh atau nggak kak, termasu zina gak?

    1. Sebaiknya dihindari saja ya. Mungkin bisa cerita ke orangtua atau sebaya yang mahram. Atau jika memang tidak perlu ya tidak usah diceritakan. Karena kondisi itu paling sering menjadi pintu masuk setan untuk mengajak kepada pacaran. Kalo masih nggak yakin bener atau salah, kata Rasul saw, tanyakan pada nuranimu. Kan di ayat terakhir sudah jelas agar tidak mendekati zina. Semoga dimudahkan yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *