Membunuh Angsa

 

Tersebutlah seorang petani yang memiliki seekor angsa. Pada suatu hari, petani itu menemukan angsanya menelurkan telur emas. Bukan main gembiranya petani itu. Ia kaya dengan cepat. Sampai di suatu titik, ia tidak sabar lagi menunggu angsanya bertelur. Ia bunuhlah angsa itu supaya mendapatkan lebih banyak telur emas. Tapi alih-alih menemukan telur emas, petani itu akhirnya menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkan telur emas lagi.

Kisah tadi mungkin sudah sering kita dengar atau baca. Tapi analoginya masih terus relevan untuk dikontemplasikan. Terlebih dalam kehidupan organisasi, pendidikan, maupun rumah tangga.

***

Saya dan Fahmi beberapa kali membahas cerita angsa emas dan berusaha memetik serta menerapkan hikmah itu. Kami menganalogikan diri kami sebagai angsa atau si petani, sedang telur emas berarti improvement yang kami buat.

Misalnya Fahmi ingin saya mengatur keuangan dengan baik. Dulu, bisa dibilang Fahmi ribut sekali masalah uang . Sampai-sampai, ia atur lembar uang mana yang harus lebih dulu, atau pecahan uang yang mana yang harus keluar lebih dulu. Ia begitu rinci in every single thing. Mendapati begitu, saya jadi kurang nyaman karena saya jadi merasa kurang dipercaya. Padahal, mengatur keuangan adalah jelas-jelas tugas saya.

Di case ini, analogi itu kami pakai untuk mengevaluasi. Fahmi sebagai petani, saya sebagai angsa, dan mengatur uang dengan baik adalah telur emasnya. Petani sebetulnya cukup merawat dengan baik si angsa untuk mendapatkan telur emas. Atau dengan kata lain, Fahmi cukup instruksikan saya mengatur uang dengan baik, dan saya akan berusaha sebaik mungkin menjalankannya. Tapi, memberi instruksi terlalu banyak dan rinci akhirnya menjadi tindakan membunuh angsa. Karena membuat saya tidak belajar secara mandiri dan menumpulkan kemampuan saya untuk berinisiatif.

Banyak kasus-kasus sejenis yang mungkin terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Terkadang, kita ingin anggota keluarga kita berubah menjadi seperti ini dan itu. Kita merasa tahu cara merubah seseorang dan menyuruh orang tersebut berubah sesuai cara kita. Tapi karena keinginan untuk berubah tidak datang dari diri orang tersebut, maka alih-alih orang tersebut berubah, justru hubungan di antara keduanya menjadi tidak harmonis lagi.

***

Di sinilah pentingnya berbagi peran. Masing-masing orang harus memiliki perannya sendiri. Selain supaya tidak timpang, juga supaya masing-masing merasa dipercaya dan merasa bermanfaat.

Ada saat di mana Fahmi menjadi guru san saya menjadi murid (atau sebaliknya), misal ketika Ma’had Lail atau setor hafalan. Karena ilmu agama saya masih jauh di bawah Fahmi, maka saya akan menerima ilmu yang Fahmi ajarkan. Fahmi tidak akan segan-segan untuk menegur saya kalau hafalan saya salah atau saya lalai muroja’ah. Saya pun tidak boleh marah kalau diingatkan.

Ada saat di mana Fahmi menjadi rival, misal dalam amalan yaumiyah. Kami benar-benar bersaing sengit untuk dapat menang. Terkadang bahkan kami saling mengejek karena ketidakmampuan kami melakukan ibadah sunnah. Dengan masing-masing berperan sebagai saingan, maka masing-masing akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengimprove diri.

Ada pula saat di mana kami menjadi partner kerja. Pembagian tugasnya jelas, Fahmi mencari nafkah, saya mengatur keuangan dan urusan rumah tangga. Dalam hal ini, kami menggunakan prinsip Lufi si bajak laut. Kamu mengerjakan urusanmu, aku mengerjakan urusanku, kita mengerjakan urusan yang perlu dikerjakan bersama.

Ada pula saat di mana ada yang menjadi bos dan ada yang menjadi bawahan. Misal ketika memasak. Saya akan menjadi bosnya, sedang Fahmi karyawan saya. Saya akan menginstruksikan Fahmi untuk melakukan a, b, c, d, dan Fahmi benar melakukannya untuk saya.

Peran-peran di atas menjadi patokan dan opsi metode kami dalam meng-improve diri kami. Misal kami ingin lebih produktif. Nah, salah satu cara yang kami gunakan adalah dengan berperan sebagai rival. Kami membuat life goal dan membreakdownnya menjadi life plan bulanan dan mingguan. Life plan itu kemudian menjadi to-do-list harian yang dibuat di malam hari sebelumnya. To-do-list itu kemudian dichecklist sebelum tidur. Yang paling banyak persenan checklist hijaunya, ia yang menang. Cara ini cukup efektif meningkatkan produktivitas kalau istiqomah.

Memilih peran yang tepat untuk memperbaiki diri dan pasangan sangatlah penting. Karena salah mengambil peran, bisa jadi akan membuat kita membunuh angsa alih-alih mendapatkan telur emas. Pun kami sadar, ketika kelak memilili anak, pendidikan anak tidak selamanya terpaut pada satu peran saja supaya lebih efektif. Maka, sekaranglah saat yang berharga untuk belajar memilih peran dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *