Just Appreciate It

Ada satu hal yang selalu saya coba untuk budayakan dalam keluarga, yaitu tentang memberi apresiasi. Seringkali, saya memaksa orang untuk memberi apresiasi pada orang terdekat saya atau sebaliknya, meski hanya sekedar, “hmmm…okey”, “oooh, gitu” ketika berbicara, atau sekedar “terima kasih” saat dibantu sesuatu, dan ungkapan penghargaan lainnya. Bagi saya, budaya apresiasi ini adalah suatu yang sederhana namun bermanfaat besar untuk maintenance sebuah hubungan. Sesederhana menemukan kebahagiaan melihat mentari pagi, semudah menyunggingkan senyum kepada orang-orang yang kita sayangi.

Apresiasi, sekecil apapun bentuknya, jika dilakukan dengan ikhlas akan menimbulkan suatu efek yang positif. Pernah suatu ketika, saya membersihkan kamar dan ruang keluarga yang tampak berantakan karena saya dan Zahra disibukkan dengan urusan masing-masing. Kebetulan hari itu saya libur dan belum ada kegiatan, jadilah saya rapikan sendiri. Selepas itu, tentu badan saya rasanya sangat lelah dan capek. Tiba-tiba Zahra yang baru pulang berucap, “Makasih banyak, Sayaang. Sudah membersihkan semuanya. Baik banget, deh.” Katanya sambil senyum-senyum. Dan, byar, efeknya langsung terasa instan, rasa lelah yang mendera seakan hilang begitu saja. Positif.

Barangkali pula, faktor apresiasi inilah yang menyebabkan Rasuulullaah Muhammad saw mampu teguh dan tegar di jalan dakwahnya meski ditentang oleh masyarakat, bahkan orang terdekatnya. Beliau tahu betul bahwa semua yang ia usahakan dan dakwahkan akan diapresiasi oleh Allaah swt. Beliau sibuk “menjual” amalnya untuk mengejar apresiasi Allaah swt hingga baginya apresiasi manusia tak lagi menarik. Mari┬ámengingat ketika Muhammad diapresiasi oleh Allaah swt melalui beberapa wahyunya, diajak jalan-jalan dengan isra’ mi’raj, diyakinkan bahwa ia dilindungi dan dijamin keselamatan oleh Allaah swt. Disanalah beliau yakin, bahwa setiap kesulitan yang beliau hadapi ada nilainya di sisi Allaah swt.

Ini sebenarnya sangat manusiawi sekali, yaitu ketika seseorang diberikan apresiasi atas usahanya, maka biasanya ia akan menjadi semakin kecanduan terhadapnya atau melakukan apresiasi balik. Ada mekanisme yang bisa menjelaskan secara ilmiah kenapa ini terjadi. Menurut Dr. Janae Weinhold di sini, bahwa orang yang memberikan apresiasi akan melepaskan hormon endorfin dalam tubuhnya, begitu pula orang yang diberi apresiasi. Hormon endorfin ini seringkali disebut hormon kebahagiaan. Fungsinya mirip dengan kerja morfin dan narkotika yang menimbulkan kecanduan, namun alami. Ketika hormon ini keluar, maka akan muncul sensasi bahagia, ringan, dan tenang. Sistem-sistem tubuh akan bekerja maksimal, memperkuat sistem imun, memperbaiki sel yang rusak, bahkan hingga mengurangi rasa nyeri.

Maka, orang yang sering memberikan apresiasi biasanya tampak lebih sehat dan bugar. Begitu pula, anak yang sering diapresiasi akan tumbuh dan berkembang lebih baik dan memikiki sifat yang apresiatif. Rasuulullaah saw dan para sahabat adalah orang yang paling tahu bagaimana mengapresiasi dan bagaimana rasanya diapresiasi. Mari mengingat lagi bagaimana para sahabat yang mengapresiasi nikmat Allaah swt dengan memilih mengerjakan sholat sunnah dua rakaat sebagai anestesi untuk menahan nyeri ketika akan dicabut anak panah yang menancap di tubuhnya. Atau ketika Aisyah RA heran dengan Rasuulullaah saw yang sholat malam hingga bengkak kakinya. Beliau saw hanya berkata dengan retoris, “Tak bolehkah aku menjadi hamba yang apresiatif (‘abdan syakura)?”

Ya, apresiasi adalah soal bersyukur, bersyukur kepada Allaah swt yang memberikan kebaikan untuk kita dan bersyukur kepada manusia atau makhluk lain yang menjadi perantara kebaikan Allaah swt. Itulah kenapa, budaya apresiasi ini menjadi penting untuk diajarkan. Selain menambah kebahagiaan, menambah kebaikan, juga menjadi candu untuk terus melakukan hal sebaliknya, yaitu mengapresiasi balik. Di sinilah kita bisa memaknai surat Ibrahim ayat 7 tentang apresiasi, “Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengajarkan, jika kamu mensyukuri nikmat-Ku, maka niscaya akan Aku tambahkan untukmu. Dan jika kamu ingkar atas nikmat-Ku, maka sungguh azab-Ku benar-benar sangat keras.” Semakin candu dalam mensyukuri nikmat, maka akan semakin banyak limpahan nikmat yang akan Allaah swt berikan.

Kita bisa melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang apresiatif, pribadi “‘abdan syakura”, dengan membiasakan diri melakukan apresiasi setiap pagi hari. Apresiasi yang pertama kita mencoba untuk mensyukuri nikmat yang Allaah swt berikan hari ini seperti kesehatan, dimudahkan melakukan kebaikan, dan dikumpulkan dengan orang-orang yang baik. Apresiasi yang kedua adalah mensyukuri kebaikan yang dilakukan orang-orang di sekitar kita seperti dibantu berangkat ke kantor oleh sopir, dimasakkan sarapan oleh orang tersayang, dan lainnya. Apresiasi yang ketiga adalah mensyukuri hal baik yang ada di sekitar kita seperti melihat pemandangan yang indah atau diberikan tempat tinggal yang aman dan damai.

Misalnya, saya biasa melakukan renungan apresiasi ini setiap pagi ketika perjalanan ke kampus seperti ini,

“Alhamdulillaah, pagi ini Allaah swt berikan kesehatan, kemudahan beribadah tepat waktu, bisa sarapan yang sehat dan enak, hidup bersama istri yang shalihah dan berbakti, tinggal di tempat yang nyaman untuk tidur, belajar, dan beramal, bisa bersekolah di fakultas kedokteran, dan diberikan kesempatan menjaga amanah hafalan Al-Quran sampai hari ini. Allaahumma zidnaa ‘ilman naafi’aa, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalaa.”

Maka, jika sudah rutin membiasakan renungan apresiasi ini, rasa husnudhan kita kepada Allaah swt akan semakin besar. Jika pun pada hari itu terjadi hal yang tidak menyenangkan, seakan itu tak ada bandingnya dengan kenikmatan yang sudah kita terima. Kenapa? Karena rangsang perasaan buruk yang terjadi jauh telah kalah oleh banyaknya kebahagiaan yang dihasilkan daei sekresi hormon endorfin pada pagi harinya.

Fa bi ayyi alaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan…
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan…

Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. Rabbii auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardlaahu wa ashlih lii fii dzurriyyatii, wa adkhilnii bi rahmatika fii ‘ibaadikas shaalihiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *