Jangan Marah #2

Ada beberapa poin penting yang dulu saya ajukan sebagai prinsip keluarga, jangan marah salah satunya. Marah, dalam pandangan saya, hanyalah satu upaya represif untuk merubah keadaan. Sedangkan, mengubah keadaan sendiri dapat dilakukan dengan banyak cara. Maka, sebelum menjadi kemarahan, paling tidak gunakan dulu cara yang lain supaya keadaan itu berubah.

Misalnya begini, Fahmi benci sekali menyisakan makanan. Padahal saya terbiasa memilah-milah apa yang saya makan. Makan sop ayam, misalnya. Saya biasanya akan sisakan daun seledri dan daun bawangnya karena saya pikir dedaunan itu adalah herbs yang berguna sebagai perasa saja, bukan untuk dimakan. Tapi bagi Fahmi, apapun yang ada di piring, suka atau tidak suka, ya semua harus habis.

Saya paham Fahmi sebetulnya marah kalau saya menyisakan makanan. Tapi alih-alih marah, ia menceritakan latar belakang kenapa makanan harus habis. Dulu Fahmi pernah diajak jalan-jalan oleh Bapak dan menemukan ada dua anak kecil yang sedang memakan makanan yang mereka peroleh dari tempat sampah. Dari sana, Fahmi jadi bersyukur sekali dengan makanan yang ada di hadapannya. Ia akan merasa sangat bersalah kalau menyisakan makanan, karena ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan. Mendengar cerita ini, saya jadi membiasakan diri untuk tidak membuang-buang makanan, tanpa Fahmi perlu marah untuk membentuk kebiasaan itu.

Sometimes, cara merubah keadaan seperti di atas berhasil. Tapi tentu saja kadang-kadang tidak. Kadang, kita tidak bisa merubah keadaan sampai kesabaran kita habis. Di akhir kita merasa kesabaran habis itulah, rasa marah akan muncul. Dan ini tidak bisa dihindari dalam kehidupan berumahtangga seperti yang Fahmi bilang di postingan ini.

Ada satu pesan dari murobbi saya yang beliau sampaikan berulang-ulang kepada para mutarobbinya, yakni jangan pernah tidur sambil marah. Semarah apapun kita pada pasangan, teman, orangtua, atau siapapun, maafkan sebelum tidur. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi ketika kita tidur. Bisa jadi kita meninggal ketika tidur. Nah, jangan sampai kondisi kita dalam pengaruh rasa marah adalah kondisi di mana malaikat mencabut nyawa kita.

Pesan murobbi saya itu tertanam betul dalam pikiran saya. Sampai ketika saya atau Fahmi marah, saya akan upayakan untuk meredakan kemarahan itu sebelum tidur. Kalau saya marah, saya akan sampaikan pada Fahmi bahwa saya marah kalau suasana sudah cukup tenang. Ada 3 kunci untuk mengevaluasi pasangan, yakni dengan kata-kata: 1) When you…; 2) I feel…, dan; 3) I want….. Ketika saya ingin menyampaikan pada Fahmi, saya akan sampaikan semisal, “Waktu kamu tadi ….., aku ngrasa sebel banget sampe pengen teriak-teriak, aku pengennya kamu nggak ulangi itu lagi dan lain kali kalau mau kayak gitu mending kayak gini aja.” Plong, sudah. Biasanya Fahmi akan meminta maaf dan kami tidur dengan tenang.

Yang susah adalah kalau Fahmi marah. Apalagi kalau saya merasa tidak bersalah. Laki-laki terkadang susah sekali mengalah dan merasa salah. Menunggu Fahmi yang meminta maaf ketika ia marah adalah sebuah kemustahilan. Maka harus dipancing dulu supaya ia luluh. Sebagaimanapun saya merasa tidak bersalah dan merasa Fahmi yang salah, saya akan tetap meminta maaf terlebih dahulu demi dapat mewujudkan prinsip jangan pernah marah sambil tidur. Permintaan maaf itu secara otomatis akan diikuti dengan permintaan maaf dari pasangan. Percayalah, hal ini begitu berat. Kadang air mata harus tumpah dulu demi dapat menurunkan ego diri dan pasangan. Tapi di sinilah kami belajar untuk menjadi sebaik-baik penghambaan. Kalau berhadapan dengan manusia saja tidak bisa menundukkan ego, bagaimana di hadapan sang Kuasa?

Pada akhirnya, mengutip Mas Kurniawan Gunadi, menikah itu perlu untuk saling sabar. Sebab selama-lamanya kita harus saling beradaptasi. Kita harus saling percaya, saling menerima satu sama lain, saling mendukung, dan saling mengendalikan ego. Dan untuk melakukan itu semua, kita perlu untuk saling sabar. Dan, di atas itu, tentu rasa syukur harus terus dipanjatkan karena rasa syukurlah yang menjadi penguat di tiap-tiap sendi kehidupan. Allaah sendiri yang janjikan, “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”.

Keluarga itu adalah batu bata peradaban. Jangan sampai perkara remeh temeh dan kegagalan kita menurunkan ego menghancurkan batu bata itu sehingga hancur pula tatanan peradaban yang awalnya ingin kita bangun. Na’udzubillahi min dzaliik

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *