Muzzammil +++

Beberapa pekan lalu, sosial media ramai sekali memberitakan akad nikah seorang qari’ Indonesia yang sedang naik daun. Hafidz, suaranya indah, muda, gaul, charming, anak ITB pula. Seems dunia dan akhirat sudah di genggaman beliau. Tidak heran pernikahannya menjadi trending topic dengan tagline Hari Patah Hati Akhwat Nasional. Selama beberapa hari setelah pernikahan Mas M itu, meme-meme dan tulisan-tulisan tentangnya masih beredar di lini masa media sosial saya. Teman-teman di grup juga masih membahasnya hingga ratusan notifikasi masuk ke whatsapp. Betapa, sosok seperti beliau hari ini menjadi idola banyak perempuan di negeri ini.

Kalau saya belum menikah, mungkin saya juga akan mengikuti arus dengan mengidolakan Mas M dan komplotannya. Tapi Alhamdulillaah setelah menikah, terpikir untuk mengoidolakan mereka saja tidak. Karena ternyata banyak kejutan yang Allaah berikan melalui sosok Fahmi.

Dipikir-pikir, sebetulnya Fahmi tidak kalah jika dibandingkan dengan Mas M. Hafidz, suaranya indah, charming, calon dokter pula. Dibanding Mas M, Fahmi kurangnya cuma satu. Yaitu kurang terkenal. Kalau misal Fahmi di-branding sedikit saja, bisalah dia jadi idola jutaan akhwat juga. Tapi ketika saya mengutarakan hal ini, sungguh saya merasa begitu beruntung dididik Allaah dengan cara yang begitu indah melalui Fahmi.

“Sayang, kamu nggak mau apa dibranding gitu biar booming kayak M*******?”

“Buat apa sih emang? Aku takut niatku jadi berubah. Aku takut menjual ayat-ayat Allaah demi dunia.”

Fahmi lalu menceramahi saya panjang lebar tentang hal ini. Bahwa, menjadi hafidz, memperbaiki bacaan Qur’an, berikhtiar menuntut ilmu bukanlah untuk menjadi tenar. Fahmi benar-benar takut dengan pujian orang, karena pujian itu bisa sangat mudah menjerumuskan Fahmi ke dalam sifat riya’.

Saya jadi ingat, dulu Fahmi pernah membuat tulisan cukup panjang tentang ‘Obat Sombong’ di halaman facebooknya. Tulisan itu begitu viral hingga meraih ribuan likes. Mestinya Fahmi senang karena mampu menginspirasi banyak orang. Tapi responnya ketika digoda karena tulisan viralnya itu adalah, “Wah aku jadi takut banget sumpah. Pengen tak hapus aja itu tulisannya”. Alih-alih senang dan bangga, Fahmi justru takut kalau-kalau tulisan itu membuahkan penyakit di hatinya.

Pernah juga saya ikut Fahmi tarawih di masjid sebelah. Kebetulan Fahmi diminta menjadi khatib di sana. Sepanjang khutbah, ibu-ibu di samping saya mengobrolkan tentang Fahmi. Fahmi yang hafidz-lah, yang calon dokter-lah, yang suaranya bagus-lah, yang ceramahnya menyentuh-lah, yang tawadhu karena mau urus masjid-lah, dan lain-lain. Ketika saya menceritakan cerita Ibu-Ibu itu, Fahmi sama sekali tidak terkesan. Bahkan responnya hanya, “Banyak-banyak istighfar ya, sayang”.

Dalam kesempatan lain, saat setoran muroja’ah, Fahmi mengingatkan saya akan sebuah ayat di Surat Al-Baqarah.

“Dan berimanlah kamu pada apa (al-Qur’an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir padanya. Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah, dan bertaqwalah hanya kepada-Ku” – Al-Baqarah : 41

Hidup ibarat perniagaan dengan Allaah. Menjual amal untuk membeli surga. Surga itu mahal sekali, maka amalannya yang dijual juga harus mahal. Salah satu amalan yang mahal adalah hafal qur’an. Allaah sudah mengingatkan betul di ayat tersebut, jangan sampai kita menjual ‘harta’ berupa ayat-ayat Allaah dengan harga murah. Harga murah itu ya meliputi ketenaran, harta benda, jabatan, dan hal-hal keduniawian lain. Maka di sinilah, Fahmi benar-benar berhati-hati dengan ‘harta mahal’-nya itu.

Saya banyak belajar tentang kesederhanaan dan pentingnya menjaga niat dari Fahmi. Banyaaaak sekali. Selain yang secara verbal Fahmi katakan, ia nyatanya benar-benar menerapkan kedua hal itu almost in every single thing dalam kesehariannya. Mulai dari apa yang ia gunakan, bagaimana ia mengatur uang, bagaimana ia makan,  pandangannya tentang banyak hal, semuanya ia letakkan sesuai porsinya tanpa berlebih dan dengan niat lurus yang selalu ia perbaharui. Rupanya inilah cara Allaah untuk mendidik saya menjadi pribadi yang lebih baik. Maka ke depan, adalah tugas sejati saya untuk belajar dari partner hidup saya sendiri.

Mas M, Mas B, Mas T, dan Mas-Mas lain yang berdakwah dengan membranding dirinya secara personal tidaklah salah. Bahkan patut diapresiasi karena menginspirasi para pemuda untuk hijrah dan mulai menghafalkan Al-Qur’an. Namun yang saya garis bawahi di tulisan ini adalah, bahwa apa yang tampak di mata kita bisa jadi berbeda dengan apa yang dinilai oleh Allaah. Bisa jadi si A, B, atau F kesolihannya tidak tenar, tapi seluruh penduduk langit tahu kesolihan mereka. Karena kembali lagi, sejatinya hidup ini adalah perkara ‘membeli’ akhirat dengan ‘menjual’ amalan kita di dunia. Tidak penting orang tahu amalan kita di dunia, yang penting amalan itu diterima dan ‘laku’ untuk ‘dijual’ di akhirat. Wallahu ‘alam bis shawab

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *