Menjadi Washilah

Ada sebuah hadits tentang birrul walidain yang selalu saya ingat karena peringatannya yang keras. “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk surga.” (H.R. Muslim dan Ahmad). Jika hadits tadi boleh saya pakai dalam konteks suami-istri, maka alangkah ruginya seseorang yang telah Allaah swt sempurnakan agamanya namun ia tak mendapat nikmat surga. Hal ini disebabkan, peluang mendapatkan keutamaan yang besar dari interaksi suami-istri sama halnya dengan interaksi orangtua-anak.

Jika Allaah swt menyebutkan bahwa berbakti pada kedua orangtua bagi anak adalah salah satu amalan utama, selaras dengan kewajiban menafkahi dan mendidik keluarga bagi orangtua. Begitu pula Rasulullaah saw menyebutkan kewajiban istri menaati suami, selaras dengan kewajiban suami menjaga kehormatan istri dan menyayanginya. Pada kedua hal itu terdapat keutamaan yang besar sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits, bahkan beberapa menyebutkan setara atau lebih utama dibanding jihad fii sabiilillaah.

Dan begitulah selayaknya seorang suami berlaku terhadap istrinya, vice versa. Bagi suami, sebelum berangkat kerja atau melakukan aktivitas di pagi hari, sempatkan untuk mencium istri dengan penuh kasih sayang, sampaikan salam dan doa kebaikan. Maka, istri yang baik tentu akan membalas dengan mengiringi keberangkatan suaminya untuk beraktivitas dengan iringan doa kebaikan, keberkahan, dan keselamatan. Sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan hati di pagi hari.

Begitu pula selama beraktivitas dan bekerja keras mencari nafkah, ada pahala yang besar menanti untuk suami yang ikhlas dan serius menafkahi keluarganya. Kata Rasulullaah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, “Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah..” Bahkan, dalam sebuah kisah ketika Rasulullaah saw melihat tangan salah seorang sahabatnya, Saad ibn Muadz yang kasar, beliau saw bertanya, “Kenapa telapak tanganmu menjadi begitu kasar?” Kemudian Saad ibn Muadz menjawab, ”Saya gunakan tangan ini untuk membajak tanah di ladang kurma untuk menafkahi keluarga saya, Yaa Rasulullaah.” Mendengar jawaban itu Rasulullaah saw mencium tangan sahabatnya tersebut dan berkata, ”Tangan ini tak akan disentuh api neraka.”

Bagi istri pun tak kalah luar biasanya keutamaan yang Allaah swt janjikan sebagaimana disebutkan dalam hadits. Ketika itu, ada seorang wanita datang menemui Rasulullaah saw kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah?” Mendengar hal itu, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala berjihad di jalan Allah.” Lihatlah, bagaimana Allaah swt mudahkan bagi para istri untuk masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa di bulan Ramadhan, serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.”

Oleh karena itu, hubungan suami-istri seharusnya bukan lagi sekedar hubungan biologis saja, sekedar bisa nafkah lahir saja, atau bahkan, na’udzuubillaah, hanya hubungan administratif saja, sekedar ada buku nikah. Sudah seharusnya disadari bahwa hubungan suami-istri adalah suatu hubungan saling menjadi sarana, washilah, untuk masuk surga. Suami harus terus berusaha memperbaiki diri agar bisa masuk surga dan menjaga istri serta anaknya supaya masuk surga juga. Begitu pula istri, menjaga kehormatan dirinya, mengingatkan suaminya, dan mendidik anak-anaknya agar sekeluarga masuk ke surga bersama.

Maka benarlah pesan Rasulullaah saw kepada para suami dan istri, “Ketahuilah bahwa kalian mempunyai hak atas istri kalian dan istri kalian juga mempunyai hak atas kalian.” Hubungan yang terbangun dalam rumah tangga hendaknya adalah hubungan saling, saling menjadi washilah untuk menuju surga-Nya. Saya jadi teringat pesan Umi, (Ibunda dari Zahra) ketika melepas kami untuk hidup mandiri bersama, “Umi titipkan dan percayakan Dek Zahra sama Mas Fahmi. Tolong di jaga ya, Le. Tolong dibimbing dan dibawa bersama-sama ke surga.” Umi mengucapkannya sambil tampak menahan air mata. Hal yang sama disampaikan Ibu saya ketika sungkeman pasca akad nikah dulu. Sungguh suatu amanah yang besar untuk dipikul, namun akan terasa ringan jika bersama istri yang shalihah.

Allaahumma (i)j’alnaa mimman yarhamuka wa tarhamuhu, wa (i)j’alnaa minal faaiziina fil jannah…
Ya Allaah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang senantiasa mencintai-Mu dan Engkau cintai, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menang di surga kelak…

One thought to “Menjadi Washilah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *