Memberi dan Belajar Sepanjang Hayat

Mantan Presiden Besar USA, John F. Kennedy, pernah berkata dalam pidato pengukuhan kepresidenan beliau yang terkenal, “ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Terlepas dari isu plagiarisme beliau terhadap mantan kepala sekolahnya, beliau mengatakan hal tersebut untuk memotivasi rakyat Amerika agar mampu mengeluarkan sumbangsih terbaik untuk negaranya, daripada sekedar mengkritik dan berkeluh kesah. Tentu lebih baik menyalakan lilin daripada merutuki nasib dalam egelapan.

Begitulah, saya berusaha mendefinisikan konsep hubungan suami-istri. Supaya tetap harmonis dan berjalan lancar, saya membuat konsep, “jangan pedulikan apa yang bisa diberikan pasanganmu, tapi berikanlah yang terbaik untuk pasanganmu.” Sekilas, mudah untuk dilakukan, apalagi bagi pengantin baru yang masih anget-anget-nya merasakan kenikmatan dan kasih sayang yang meluap-luap. Namun, seiring waktu berlalu, akan muncul rasa bosan, konflik keluarga, masalah yang tak kunjung usai, dan hambatan lain yang seringkali mengancam kandasnya hubungan suami-istri.

Misalnya, setiap kali pulang dari kantor atau aktivitas harian, suami pulang dalam keadaan lelah. Awalnya, ketika rasa sayangnya masih meluap-luap, tanpa berat hati pun istri akan memijat dan membuat suami rileks. Beberapa waktu berlalu, mulai muncul rasa bosan, sehingga suami harus meminta atau menyuruh baru kemudian istri melaksanakan. Selang beberapa waktu lagi, mulai muncul rasa malas dan kesal, ketika suami minta untuk dipijati, Sang Istri malah balik mengomel, “Masak setiap hari aku yang mijitin kamu. Kapan aku juga dapat bagian pijat?” Dan timbullah cekcok yang berpotensi merusak hubungan suami-istri.

Percayalah, ini terjadi di kenyataan. Pernah suatu ketika, saya selesai beres-beres bersama Zahra. Sama-sama capek, lalu Zahra bilang, “Sayang, cuciannya udah numpuk tuh, tapi aku lagi nggak enak badan, rasanya lemes banget. Kamu mau nggak cuciin bajunya?” Awalnya, refleks dalam pikiran saya adalah, “Lho kok jadi aku yang harus nyuci baju, kan kemarin sudah aku yang nyuci, sekarang kan giliranmu. Males ah.” Alih-alih mengikuti jawaban kekanak-kanakan tersebut, saya tiba-tiba sadar dan akhirnya menjawab hanya dengan senyum mengiyakan. Tampaknya sepele dan mudah dilaksanakan, namun percayalah sikap kekanak-kanakan manusia tak akan pernah hilang sepenuhnya. Inilah yang sering kali menimbulkan perpecahan dan pertengkaran dalam rumah tangga karena menuruti ego yang sifatnya masih kekanak-kanakan, tak mau mengalah, gengsian, dan suka menghitung-hitung kebaikan atau pemberian pada orang lain bahkan pada pasangan.

Padahal, seandainya kita fokus pada apa yang bisa kita berikan untuk pasangan kita, maka disanalah terjadi keharmonisan. Suami akan senantiasa memberikan perlindungan dan penjagaan, sebaliknya istri memberikan pelayanan dan kenyamanan terbaik di rumah. Maka, tak perlu lagi ada pihak yang harus meminta. Karena pada hakikatnya, tak ada makhluk yang pantas untuk dijadikan tempat meminta. Allaahush shomad. Hanya pada Allaah swt-lah tempat meminta, sebaik-baik Dzat Yang Maha Mengabulkan Permintaan.

Konsep kedua yang saya pegang supaya menjaga hubungan baik yang sudah terjalin dengan Zahra adalah memahami bahwa menikah adalah sebuah proses pembelajaran sepanjang hayat. Pembelajaran untuk saling mengenal, saling men-support, saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling mendidik. Namanya pembelajaran, maka wajar jika terjadi kesalahan. Dengan memegang konsep ini, saya akan mudah menerima kesalahan yang dilakukan Zahra karena saya paham ia sedang belajar.

Dalam pembelajaran pun, kadang kala untuk dapat memahami suatu ilmu, perlu beberapa kali uji coba dan kesalahan. Ada yang harus beberapa kali salah baru paham, ada yang tiga kali, dua kali, sekali, atau bahkan one hit, begitu dijelaskan dan diajarkan, langsung paham. Begitu pula dalam pernikahan, kadang kala ada suatu masalah yang bisa kami atasi hanya dengan belajar dari teori atau pengalaman para senior. Kadang, perlu dua kali salah, tiga kali salah, atau bahkan gagal terus untuk bisa mencapai target. Bagi saya itu wajar selama masih dalam batas toleransi dan tidak fatal. Lalu toleransi kesalahannya seperti apa? Ini adalah persoalan yang sangat individual. Masing-masing orang berbeda cara dan kemampuan belajarnya.

Dalam kenyataannya misalnya, yang paling sering dalam kehidupan kami adalah, tentang saling mengingatkan kebiasaan buruk. Misal, saya punya kebiasaan melanggar lampu merah ketika fase transisi. Biasanya, ketika lampu indikator menunjukkan warna kuning setelah hijau, tandanya para pengendara harus mengurangi kecepatan untuk bersiap berhenti. Namun, bagi saya, alih-alih mengurangi kecepatan, saya malah menambah dan berusaha melewati traffic light tersebut. Akibatnya, kadang lampu sudah merah sekian detik saya baru melewatinya. Ini yang kadang membuat Zahra jengkel dan langsung mencubit pinggang saya. Sejak itu, saya insyaf dan berusaha tidak mengulanginya. Namun, dalam beberapa kesempatan, dimana saya butuh mengejar waktu, kadang saya melanggar kembali dan seperti biasa mendapat cubitan di pinggang lagi.

Ya, begitulah, dalam kehidupan pernikahan ini, kesalahan menjadi wajar. Toh, yang terpenting dari terjadinya suatu kesalahan bukanlah memarahi pelakunya. Yang lebih penting adalah munculnya keinsyafan dan kesadaran untuk tidak mengulanginya lagi sehingga tujuan dari Allaah swt menciptakan kesalahan tercapai, yaitu agar manusia saling memperbaiki diri. Kesalahan juga tidak akan membawa masalah besar kecuali kecelakaan yang fatal. Yang sering kali menimbulkan masalah besar adalah keputusan dan sikap yang diambil ketika terjadi sebuah kesalahan.

Misal, seorang anak kecil melakukan kesalahan, maka orangtuanya dihadapkan pada dua hal dengan konsekuensi berbeda. Pertama, jika orangtua bersabar dan mengajari kembali dengan kasih sayang, si anak akan berkembang dengan sikap pemaafnya. Kedua, jika orangtua memilih marah dan menyalahkan si anak, maka si anak akan berkembang dengan perasaan bersalah, sikap temperamental, dan kurang percaya diri. Inilah masalah yang lebih besar. Begitu pula dalam berkeluarga, kadang hanya karena masalah sepele, namun dihadapi dengan cara childish sehingga menimbulkan masalah yang lebih besar. Padahal jika dihadapi secara legowo dan dengan cara dewasa, maka akan selesai begitu saja.

Itulah tugas setan untuk mengkompori manusia agar selamanya bersikap kekanak-kanakan.

Ya Allaah, jadikanlah kami orang yang senantiasa bersabar dalam menahan diri dari maksiat dan dalam beribadah kepada-Mu, lembutkanlah hati dan lisan kami, jagalah anggota badan kami dari melakukan keburukan yang tidak Engkau ridhoi…

One thought to “Memberi dan Belajar Sepanjang Hayat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *