Fahmi-Zahra Tailor

Ada satu prinsip yang selalu Fahmi pegang dan coba untuk istiqomah laksanakan, yakni adalah “kerjakan sendiri pekerjaan yang dapat dilihat dengan mata”. Maksud pekerjaan yang dapat dilihat dengan mata adalah pekerjaan rumah dan segala ketrampilan tangan rumahan seperti mencuci, menyetrika, memasak, menjahit, memperbaiki sepatu, desain grafis, merawat diri, mencuci kendaraan dan segala ketrampilan lain. Mungkin memang sudah semestinya seseorang menguasai pekerjaan-pekerjaan itu. Tapi hari ini, pekerjaan-pekerjaan itu makin jarang kita kerjakan.

Kini, saking sibuknya seseorang dengan profesinya, ia jadi tidak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Mengurus diri sendiri berarti melakukan pekerjaan-pekerjaan di atas seorang diri. Sekarang baju dicucisetrikakan pegawai laundry, makan dimasakkan oleh koki rumah makan, baju tinggal beli atau dijahitkan oleh penjahit, motor dicucikan oleh pegawai cucian motor, wajah dan kulit dirawat oleh pegawai salon, and so on. Kita tinggal membayar dan menerima jadi apa-apa yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri. Bahkan yang sudah berkeluarga pun, kini sudah mengandalkan para penyedia jasa untuk mengurus keluarganya. Meski mudah, tapi membayar orang dapat melemahkan kemampuan kita menangani pekerjaan-pekerjaan itu.

Hal yang kini lumrah itu, menjadi pantangan untuk Fahmi dan keluarganya. Kala belum menikah dulu, Ibu (Ibu Fahmi maksudnya) pernah bercerita panjang lebar tentang bagaimana beliau menjalankan peran sebagai Ibu. Saat itu beliau menceritakan tentang kisah Fatimah Az-Zahra.

Fatimah, putri baginda Rasul, tentu memiliki derajat yang mulia. Tapi kemuliaan yang dialamatkan tidak berbanding lurus dengan harta yang keluarga Fatimah dan Ali miliki. Rumah mereka begitu sederhana dan bahkan tidak memilili perabot. Fatimah mengurus sendiri anak-anaknya, menggiling gandum, membuat adonan roti, membereskan rumah, mencuci, dan sederet pekerjaan rumah lain. Fatimah yang sejak kecil sakit-sakitan suatu hari merasa begitu letih dan mengadu kepada Aisyah untuk meminta budak.

Saat itu, Rasulullaah tentu saja dapat dengan mudah memberi budak untuk Fatimah. Tapi, beliau lalu menemui Fatimah dan berkata, “Maukah kalian kuberi sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta? Sebelum naik ke pembaringan, maka bertakbirlah 33 kali, bertasbih 33 kali, dan bertahmid 33 kali. Semua itu lebih baik daripada seorang pembantu”.

Fatimah dan Ali menaati Rasulullah, meski keletihan mendera keseharian Fatimah. Fatimah, putri Rasulullaah, dengan kesabaran dan keikhlasannya mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Padahal, jika ditarik ke masa kini, derajatnya sama atau bahkan lebih tinggi daripada putri raja. Tapi ketaatannya pada Rasul melebihi harkat hidupnya.

Dalam hal berrumahtangga, Ibu begitu meneladani Fatimah. Meski kini Ibu mengajar di Universitas, kuliah S3 sekaligus S1, dan praktek di rumah, tapi tetap pekerjaan rumah Ibu lakukan dengan efektif dan efisien.

Setelah subuh, Ibu langsung menyiapkan sarapan dan mencuci. Sebelum pukul 6 pagi, sarapan sudah siap dan baju sudah terjemur. Setelah sarapan sekitar jam 6 pagi, langsung siap-siap ke kampus untuk mengajar dan kuliah serta mengantar sekolah anak. Sore hari, Ibu baru pulang sekaligus menjemput adik Fahmi. Ganti baju sebentar, Ibu langsung ke ruang praktek untuk melayani pasien-pasiennya. Malam hari, Ibu mendampingi anak-anak belajar sembari mengerjakan tugas.

Ibu jarang sekali membeli baju. Ibu lebih memilih menjahit sendiri baju untuk keluarganya. Bahkan dengan kesibukan yang begitu rupa, beliau tetap istiqomah membuatkan seragam keluarga setiap menjelang lebaran. Barang-barang yang sekiranya dapat dibuat sendiri pun, Ibu akan buat sendiri.

Kata Ibu, “kita nggak pernah tau gimana proses bikin makanan di luar. Kita juga nggak tau gimana akhlak orang-orang yang bikin barang atau makanan yang kita beli di luar, apalagi keuntungannya digunakan untuk mendukung Islam atau tidak. Dengan kita bikin sendiri sembari mulut dzikir dan berdoa, InsyaaAllaah apa yang dimakan dan dipakai sama keluarga kita jadi berkah dan baik”.

Terinspirasi dari Ibu yang begitu multitalent dan ditantang oleh Fahmi, saya memutuskan untuk mencoba menjahit sendiri baju lebaran kami berdua. Kebetulan kami memiliki kain sarimbit hadiah akad dari teman-teman. Jadilah 3 hari sebelum lebaran kami habiskan untuk memotong kain, menjahit, dan finishing.

Saya bersyukur Fahmi sering membantu Ibu menjahit. Sehingga sedikit-sedikit bisalah dia membuat baju. Kami benar-benar bekerjasama dalam menjalankan misi itu.

Di awal, Fahmi menggambarkan desain baju yang ia inginkan, dan bahkan baju yang ia ingin saya kenakan. Kami banyak berdebat di sini karena saya rasa selera Fahmi begitu aneh sedang Fahmi rasa selera saya begitu mainstream.

Perdebatan tidak berhenti sampai tahap desain saja. Kami menghabiskan waktu dari Dzuhur sampai Maghrib hanya untuk memotong kain. “Ih kok kayak gitu sih?“, “Ih harusnya nggak gitu”, “harusnya gini”, “aku nggak suka yang kayak gitu”, “udah gini aja gampang kan”, “ya enggaklah, harusnya gini”, jadi kalimat-kalimat yang menghiasi siang kami waktu itu. Allahu akbar, setelah selesai memotong kain, rasanya letih sekali. Bukan karena memotongnya, tapi karena berdebat dengan Fahmi seems nggak ada habisnya.

Besoknya, kami bergantian menjahit kain yang sudah dipotong. Dalam tahap menjahit pun, kami tetap tidak berhenti berdebat. Bahkan diwarnai dengan butiran air mata. Sampai akhir tahapan, barulah kami dapat menarik nafas begitu panjang. Legaaaaaaa sekali rasanya menyelesaikan 4 baju dalam 3 hari. Lelah yang tadinya membuncah seakan hilang tidak tersisa kala mencoba baju yang sudah jadi. Ini baru 4 stel, padahal setiap tahun Ibu mengerjakan minimal 8 stel sendirian. Sendirian men, sendirian. MaasyaAllaah.

:)))))

Menerima tantangan itu, saya baru benar-benar sadar Fahmi truly melaksanakan prinsipnya yang harus menguasai apa-apa yang terlihat mata itu. Ia benar-benar tahu bagaimana cara membuat baju dari awal sampai akhir. Meski caranya sedikit berbeda dengan cara saya, tapi sebagai laki-laki, kemampuannya bolehlah kalau mau buka tailor sendiri. Di kesempatan lain, Fahmi bahkan bisa membuat bantal dan kerajinan-kerajinan tangan yang lain. Di kesempatan lain lagi, Fahmi benar-benar mencuci motor, mencuci baju, memperbaiki barang-barang elektronik, dan pekerjaan rumahan lain sendirian. Semuanya berkat penanaman nilai yang begitu kuat di keluarganya.

Fiuh, sebagai perempuan saya jadi merasa malu dan tertantang untuk juga menguasai ketrampilan-ketrampilan itu. Karena sebetulnya hal ini bukan perkara ‘penghematan’ semata. Tapi adalah tentang bagaimana kita memberikan yang terbaik untuk keluarga dalam rangka beribadah kepada-Nya, sebagaimana pesan Rasulullah kepada Fatimah.

“Fatimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”

“Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikannya dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.”

“Fatimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.”

“Fatimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.”

“Fatimah, bila wanita mengandung, malaikat akan memohonkan ampunan untuknya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit saat akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Mujahidin di jalan Allah.

Jika dia melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila dia meninggal saat melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah akan memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan.

Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.”

“Fatimah, tidaklah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga.

Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga. Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.”

Betapa mudah sebetulnya seorang perempuan masuk surga, yakni hanya dengan berbuat yang terbaik untuk keluarganya. Tetapi hari ini, fitrah itu seolah terlupa sehingga muncullah wanita-wanita karier yang dengan santainya meninggalkan rumah dan anak-anaknya. Padahal di apa-apa yang ditinggalkan itulah, Allaah janjikan surga bagi para perempuan. Aih, semoga kita senantiasa menjadi orang yang mendapat petunjuk-Nya. Aamiin

 

N.b. penasaran bagaimana Ibu Fahmi mendidik anak-anak yang hafidz dan langganan juara kelas? Coba buka https://kongkowmedika.wordpress.com/2017/02/19/sekolah-utama-keluarga/

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *