Selayaknya Sebuah Keluarga

“Sayaaang, udah makan beluuum?”

“Sayaaang, lagi ngapain?”

“Sayaaang, nanti aku pulang agak sorean yaaa.”

Sejak menikah, saya jadi sering mendengar suara merdu tapi cempreng lucu ini. Rasanya enak banget kalau suaranya masuk telinga. Bahkan pernah saya berencana merekam suara Zahra supaya jika suatu saat jauh dan kangen bisa diobati dengan mendengar suaranya.

Ya, mendengar suara merdu istri adalah salah satu hiburan tersendiri bagi suami. Pulang dari beraktivitas seharian dan lelah, tiba-tiba ketika membuka pintu rumah dan mengucap salam dijawab dengan jawaban yang sangat merdu sekali. Percayalah, itu benar-benar obat lelah dan sumber semangat lagi. Maka, wajar jika Rasuulullaah saw menyebut istri yang shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Kita tak perlu tukang pijat atau obat stamina untuk menghilangkan lelah, cukup mendengar suara istri saja sudah menghilangkan itu semua.

Itulah kenapa suara perempuan itu menjadi aurat, kecuali bagi suaminya dan mahramnya. Karena suara perempuan itu bisa memberikan efek yang luar biasa, menenangkan yang marah, mudah diterima dan sulit menolak, dan bahkan membangkitkan nafsu syahwat. Maka, Allaah swt dengan tegas melarang perempuan untuk berbicara lemah lembut dengan orang yang bukan mahramnya, kalau perlu tegas. Karena merdu dan lemah lembutnya suara perempuan ditumpangi oleh setan.

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (Al-Ahzab:32).

Ayat diatas kadang menjadi kontradiktif dengan fenomena di masyarakat sekarang ini. Banyak perempuan yang malah berbicara lemah lembut pada orang lain, sementara dengan suaminya terkesan sangat ketus dan kasar. Sebaliknya, banyak laki-laki yang melakukan hal demikian, lemah-lembut pada orang lain, namun galak dan kasar pada istri, anak, bahkan orangtuanya. Wajar, jika keluarga semacam ini tak panjang umur dan hilang sakinah-nya. Karena mawaddah yang menjadi sebab turunnya rahmah, untuk membentuk keluarga sakinah, tak pernah dilakukan.

Hal inilah yang selalu saya wanti-wanti di keluarga saya. Saya akan tampak dingin, pendiam, dan tegas di depan mereka yang belum saya kenal atau belum mengenal saya. Sebaliknya, saya akan tampak ramah pada teman-teman yang mengenal saya. Dan saya akan lebih terbuka, lemah-lembut, suka bercanda, dan menyenangkan pada orang-orang terdekat saya yaitu keluarga saya sendiri, orangtua, kakak-adik, dan tentu istri saya.

Sekilas tampak aneh, tapi saya merasa ini cukup adil, they deserve that from me. Zahra bahkan pernah bertanya kepada saya saking anehnya,

“Sayaang, kamu kok aneh sih, di depan santri-santri dan orang-orang jadi diem dan tegas banget sih. Galak gitu kesannya. Kenapa emang?”

“Soalnya, lemah-lembutnya, ramahnya, dan baiknya sikapku tak utamakan khusus buat kamuuu.” Jawab saya sambil nyengir.

Barangkali, mereka yang merasa tak nyaman di rumah, tak betah berkumpul dengan keluarga, karena mereka tak pernah melakukan mawaddah. Terbalik-balik dalam memberikan mawaddah. Sikap yang baik, lemah-lembut, suara merdu, bercandaan, memberi hadiah, saling senyum dan sapa, adalah bentuk mawaddah yang akan membuat Allaah swt menurunkan rahmah, rasa cinta dan kasihyang mengikat keluarga. Sehingga keluarga akan senantiasa nyaman, damai, dan rukun, itulah yang dinamakan sakinah.

Allaahumma yassir lanaa mawaddah, wa anzil ‘alainaa rahmah, wa (i)j’al ahlanaa sakiinah…

Ya Allaah, mudahkanlah kami melakukan mawaddah, dan turunkanlah atas kami rahmah, dan jadikanlah keluarga kami sakinah…

2 thoughts to “Selayaknya Sebuah Keluarga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *