Fitrah Perempuan

Sayang, besok kalo udah lulus kuliah aku boleh kerja nggak?

Zahra tiba-tiba bertanya menembak saya pada suatu kesempatan. Sebenarnya kami pernah membahas masalah ini sebelum menikah pada sesi ta’aruf dulu. Dan sebenarnya, Zahra juga sudah tahu jawaban saya. Hanya mungkin dia ingin make sure atau ingin jawaban lain. Saya pun berhati-hati sekali dalam memberi jawaban walaupun sudah jelas, “TIDAK”. Titik. Namun karena satu-dua hal pertimbangan lain, saya memberikan batasan dari jawaban tidak diatas.

*****

Saya memulai dengan menunjukkan pada Zahra surat Al-Ahzab ayat 33,

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

Dari sini, Zahra langsung paham apa jawaban saya. Dan sesuai yang saya tebak, wajahnya menandakan penolakan dan berharap jawaban lain. Sebelum saya melanjutkan, saya akan menjelaskan kenapa ayat diatas menjadi pedoman saya untuk meminta istri saya tetap di rumah.

Ada beberapa hadits dan ayat yang menjadi catatan saya untuk mengambil jawaban diatas. Diantaranya adalah, “Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi).

Dan ini terjadi sangat jelas di masyarakat kita hari ini, bahkan saking seringnya terjadi sampai kita tak lagi aware terhadap masalah ini. Mari perhatikan Ali Imran ayat 14 ini baik-baik,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Perhatikan bahwa wanita secara khusus menjadi salah satu hal yang dijadikan indah di hadapan manusia, bukan lelaki. Maka, wajar jika kita melihat kebanyakan artis dan bintang iklan adalah para wanita, dan biasanya mengekspos dari segi fisik, baik wajah maupun kemolekan tubuhnya. Bahkan seringkali tak ada hubungan antara produk dengan bintang iklan karena hanya mencari daya tarik dari bintang iklan wanitanya.

Hal kedua yang kita maklumi bersama pula adalah, dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya, jika ada seorang perempuan dengan minimal salah satu kriteria berikut, wajah cantik, bau parfum wangi, berpakaian seksi, badan molek, rambut lurus, bibir sensual, suara merdu, akhlak yang baik, otak yang cerdas, dan kebaikan lainnya, maka otomatis dia akan jadi pusat perhatian orang. Saya pernah naik motor dibelakang perempuan berpakaian minimalis dibonceng seorang lelaki. Sepanjang perjalanan, alih-alih saya melihat si perempuan, saya mengamati orang di sekitarnya, sepanjang perjalanan, di lampu merah, ketika macet, dan sebagainya. Dan yang saya lihat adalah, semua lelaki bahkan hampir semua perempuan juga, baik tua, muda, maupun anak-anak fokus melihat paha si perempuan bahkan berusaha melihat wajahnya. Dan pandangan mereka mengikuti perjalanan si perempuan ini tadi. Astaghfirullaah.

Fenomena ini terjadi karena selain dijadikan indah, perempuan juga diikuti oleh setan yang menambah-nambah indah dan nafsu syahwat bagi orang-orang yang melihatnya. Itulah mengapa, fitrah wanita adalah di rumah, dan jika keluar harus menutup aurat secara sempurna atau hanya berkumpul bersama para perempuan lain, tidak ber-ikhtilath, campur-baur laki-laki dan perempuan.

Kedua adalah, bahwa ketika seorang perempuan berada di rumah, mendidik keluarga, menjaga kehormatan diri dan keluarga, mengelola rumah tangga, maka pahalanya setara dengan jihad fii sabiilillaah. Sebagaimana hadits Rasuulullaah saw yang diriwayatkan Anas ibn Malik dalam tafsir ayat 33:33 diatas.

“Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dengan mereka berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda : “ Barangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya, maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.”

Dan alasan saya ketiga adalah, bahwa wanita memiliki tugas besar membangun peradaban bangsa yaitu dengan memulai mendidik dan menjaga anak-anak dari rumah. Peribahasa arab al-ummu madrosatul uulaa, ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anak adalah benar adanya. Seandainya setiap ibu paham benar tentang tanggung jawabnya mendidik dan menjaga anak-anaknya, maka tentu akan muncul manusia hebat. Karena dibalik lelaki hebat selalu ada perempuan yang kuat.

*****

Sampai sini, Zahra mulai sedikit sepakat meski masih belum rela sepenuhnya. Saya menambahkan dengan sebuah perumpamaan. Saya selalu suka mengibaratkan suami-istri selayaknya peran gelandang penyerang dan gelandang bertahan di sepakbola. Tugas gelandang penyerang adalah menyuplai bola untuk para striker atau bahkan mencetak gol secara langsung. Sementara tugas gelandang bertahan adalah memotong serangan lawan dan memulai serangan kembali. Maka, kita bisa lihat dalam sepakbola, selalu yang terkenal adalah gelandang serang. Gelandang bertahan selalu dianaktirikan dan dicap buruk dengan sebutan, tukang angkut air, tukang tekel, pekerja kasar, dan lainnya karena tugasnya yang membuat dia seperti itu.

Sama halnya, suami yang bekerja dan mencari nafkah di luar akan tampak hebat dan terkenal. Sementara istri di rumah akan tampak seperti dilupakan begitu saja. Disinilah orientasi kita diuji, apakah amalan dan aktivitas yang kita lakukan ini semata karena Allaah swt atau ingin mencari pengakuan manusia. Sementara Allaah swt tak melihat apapun dari hamba-Nya selain dua hal, yaitu amal dan ikhlasnyA.

*****

Sampai sini, Zahra mulai tampak berpikir ulang dengan pilihannya. Saya mencukupkan penjelasan saya dan membiarkan Zahra menikmati pergulatan batinnya. Saya memaklumi pilihannya, karena potensinya yang luar biasa. Dan lebih dari itu keinginannya yang kuat membentuk dirinya menjadi hari ini. Memang kadang hal yang paling sulit adalah ketika menerima suatu aturan syariat yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kita akan berusaha mencari celah dan toleransi yang bisa dilewati. Disinilah keimanan kita diuji, apakah kita akan sami’naa wa atha’naa atau malah berusaha mencari celah terus-menerus seperti kebiasaan kaum munafik. Na’uudzu billaah. Karena pada dasarnya, apa yang menjadi ketentuan Allaah swt adalah lebih baik dan jika kita ikhlas menerimanya, tentu ada hikmah di baliknya.

Akhirnya, sebelum saya pergi, saya berikan sikap dan jawaban saya ke Zahra,

“Kamu hanya boleh bekerja dan beraktivitas di luar rumah jika orientasinya untuk dakwah keummatan dan ibadah jamaah. Dengan syarat urusan keluarga beres, anak-anak terjaga dengan baik. Kalau hanya untuk mencari karier dan kesenangan saja, maka sebaiknya kamu tetap tinggal di rumah.” Sepertinya, jawaban ini mengakhiri pergulatan batin Zahra. Dia pun tersenyum sambil memeluk saya erat.

Karena fitrah perempuan itu bukan dilindungi, tapi terlindungi. Terlindungi di dalam rumah atau dibalik hijabnya. Karena ketika ia keluar dan tak berhijab, maka ia harus dilindungi. Disini, perempuan telah keluar dari fitrahnya yang terlindungi, maka muncullah aturan-aturan dan kewajiban bagi laki-laki  atau sesama perempuan sebagai usaha untuk melindungi.

Allaahumma (i)hfidz lanaa quluubanaa wa ahlanaa fil iimaan…

Ya Allaah, jagalah hati-hati kami dan keluarga kami dalam keimanan…

3 thoughts to “Fitrah Perempuan”

  1. Saya berasa g perlu beli buku ttg pengalaman pernikahan atau fikihnya mungkin kalo sudah baca ini. Jadi bekal banget 😆
    Lanjutkan mba mas💪

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *