Menikah, Sebuah Taqwa Booster

Benar kata orang, bahwa menikah itu enaknya tiga hari, sisanya enak banget. Setelah dua minggu kurang sedikit menjalani kehidupan pernikahan, rasanya hidup jadi jauh lebih bahagia sejuta kali lipat. Seems nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dalam hidup ini, semua bawaannya ringan dan menggembirakan. Hampir semua orang yang saya temui berkomentar saya sekarang berbeda. Jadi lebih sumringah, katanya. Alhamdulillaah.

Kata orang, seseorang baru bisa dibilang jatuh cinta kalau ia tidak tahu alasan kenapa ia mencintai.  Allaah kiranya turunkan rahmat dan cinta-Nya, sehingga cinta itu datangnya bukan dari diri, melainkan langsung dari Ilahi. Jadi memang tidak perlu alasan manusiawi kenapa kita mencinta, lha wong yang kasih cinta itu Allah kok.

   Meski begitu, ada satu alasan kenapa saya berbahagia dengan pernikahan ini. Anas bin Malik pernah meriwayatkan sebuah hadist yang berbunyi, “Ketika seorang hamba menikah, berarti ia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka, bertaqwalah kepada Allaah pada setengah sisanya”. Tugas seseorang yang telah menikah, kemudian adalah bertaqwa. Walaupun taqwa bukan hanya tugas pengantin baru, tapi bertaqwa setelah menikah seolah menjadi isyarat bahwa memang menikah itu menjadi sarana menambah ketaqwaan kita. Nah, bahagianya saya, adalah karena setelah menikah beribadah jadi lebih indah.

Untuk mewujudkan tugas bertaqwa itu, saya dan Fahmi mencanangkan beberapa prinsip dalam keluarga kecil kami. Salah satunya adalah untuk ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Saya dan Fahmi membuat daftar amalan dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dan bekompetisi untuk memenuhi amalan itu sebanyak mungkin. Kami membuat grup whatsapp berdua dengan nama “Amalan Yaumiyah”. Di grup itu, ada sekitar 30-an checklist amalan harian yang dievaluasi di akhir hari. Amalan yang terpenuhi kemudian dihitung dan dibandingkan siapa yang paling banyak membubuhkan tanda centang hijau. Hasilnya kemudian direkap selama seminggu, dan bagi yang kalah maka ia wajib mentraktir yang menang. Gamifikasi ibadah seperti ini menyenangkan sekali, sungguh. Rasanya ibadah jadi begitu ringan dan begitu ingin untuk terus ditingkankan.

Sarana taqwa booster yang lain adalah program Ma’had Lail. Kami membuat kurikulum belajar selama seminggu. Ada pembahasan tafsir, hadist, sirah, tahsin, parenting, dan thibbun nabawi yang dijadwalkan selama satu jam setiap malam. Saya bersyukur sekali Fahmi is a person yang paripurna dalam Ilmu Agama. Fahmi mengajari saya banyak hal, banyak sekali hal. Pengetahuan dan pemahamannya yang begitu dalam menyihir saya sampai kadang saya bisa menangis berderai-derai ketika ia menceritakan kisah Rasulullaah atau membahas sebuah ayat.

Program taqwa booster yang lain lagi adalah tahajjud berjama’ah 11 rakaat. Seriously, program ini menyenangkan sekali. Diimami Fahmi, kami mentarget satu rakaat membaca setengah halaman Al-Qur’an sekalian untuk Fahmi muroja’ah dan saya menyimak. Dengan bacaan yang mendengarnya saja jadi terharu saking bagusnya, tahajjud yang tadinya sebelum nikah bawaannya ngantuk, jadi sekarang rasanya nggak pengen berhenti shalat.

Satu lagi program taqwa booster yang paling saya takuti sebenarnya adalah ziyadah (menambah hafalan) dan muroja’ah (mengulangi hafalan). Karena pasca karantina hafalan saya amburadul, maka saya memutuskan untuk men-ziyadah ulang. Saya mentargetkan untuk setoran ziyadah 2 halaman perhari dan setoran muroja’ah paling tidak 5 halaman per hari. Disimak Ustadz Fahmi, saya masih sering gagal (untuk tidak mengatakan belum pernah berhasil) memenuhi targetan itu karena beliau strict sekali dalam meng-acc setoran saya. Saya sering dimarahi karena salah, dan kadang kesel juga karena disuruh mengulangi terus dari awal ayat atau awal surat. Tapi justru saya bersyukur karena hafalannya jadi lebih lengket. Selain lengket karena setorannya diulang-ulang, juga karena yang disetorin bikin bahagia hehe.

Beberapa program taqwa booster yang saya tuliskan di atas sebetulnya masih belum terlalu istiqomah dijalankan karena hari-hari ini kami masih sibuk ke sana ke mari untuk urusan keluarga dan pindahan. Pun, juga belum tahu setelah negara api menyerang (baca: koass), akan bagaimana jadinya kehidupan kami. Kami hanya berharap semoga ikhtiar ini Allaah mudahkan dan terima sebagai amal pemberat kebaikan kami kelak.

Man sanna fiil Islami sunnatan hasanatan fa lahu ajruha wa ajru man ‘amila bihaa, barangsiapa yang mengajarkan kebiasaan yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahala amalnya dan orang-orang yang mengikuti kebiasaan baiknya. Allahumma fasyhad, kami niatkan ini untuk mencari ridho-Mu dan mengajarkan kebaikan pada saudara-saudara kami.

Zahratul Iftikar Jadna Masyhida

 

5 thoughts to “Menikah, Sebuah Taqwa Booster”

  1. Masya Allah Jadeen, sukaak bangeet kangeen jaden ih jadinyaa ><

    Ternyata SIPP ndak sia2 ya Jed, jd inspirasi buat bikin wa grup kek gtu, semoga Allah istiqomahkan dan selali berkahi kalian berdua.

    Inspiring alwaays deaaar :')

  2. Assalamu’alaikum Mba. Saya tiap hari stalk, lho, tapi belum ada post terbaru:”) ditunggu kisah inspiratif lainnya ya Mba! 😀 Suka banget sama kiriman-kirimannya, hehehe.

    1. Maaaf, soalnya beberapa waktu yang lalu sedang banyak kegiatan masing-masing. Btw, makasih banyak stalking-nya, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *