Menyatukan Umat Lewat Keluarga

Kurang lebih sepuluh hari sudah saya dan Zahra resmi menjadi pasangan suami-istri. Ada hal-hal baru yang saya pelajari dalam kehidupan semi-rumah tangga ini. Saya katakan semi karena pada hakikatnya, kami belum berumahtangga secara utuh, kami masih ingin pacaran dulu dan menikmati masa-masa awal pernikahan. Memang benar kata orang, bahwa menikah itu jika tepat waktu dan jodoh maka akan menyenangkan proses dan pascanya. Dalam hal ini, saya ber-husnudhon bahwa pernikahan saya dengan Zahra adalah di waktu dan dengan jodoh yang tepat. Alhamdulillaah, sampai hari ini kami masih terus berbahagia dan berbagi kebahagiaan.

Sekian hari kami tinggal dan hidup bersama, sampai-sampai seperti kunci dan gembok, tutup dan botol, atau analogi yang lain yang intinya, dimana ada Fahmi, disitu ada Zahra. Minimal jika tak hadir fisik, ada hati yang terikat dan saling mengisi satu sama lain. Baru sebentar berpisah, misalnya Zahra kuliah, rasanya sudah rindu ingin bertemu lagi, maklum orang sedang kasmaran. Namun, ini hanya bagian yang tampak bahagianya. Tentu ketika ada bahagia maka ada lawannya, sebagai konsekuensi sunnatullaah. Maka, begitulah dalam keluarga yang baru kami bangun bersama ini. Ada hal-hal yang kemudian kami kecewa, menyesal, dan tak menyangka terjadi begitu saja.

Salah satunya adalah tentang menyatukan visi keluarga. Meski sebelum akad nikah kami pernah membahas ini bersama dalam waktu yang panjang dalam forum mediasi oleh perwakilan keluarga, nyatanya masih saja kami membahas, merevisi, dan mempertajam pasca akad. Tantangan terbesarnya sebenarnya bukan pada besarnya visi yang kami buat, melainkan bagaimana menyatukan visi personal menjadi visi keluarga.

Jika kami jujur, berintrospeksi, dan merefleksikan kehidupan baru ini dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya, maka tentu ada hal-hal yang bersifat menurun. Paling mudah dilihat indikatornya adalah amalan-amalan dalam mutaaba’ah yaumiyah. Saya pun merasakan begitu, ada kebiasaan-kebiasaan baik yang saya tinggalkan demi menyesuaikan dengan kebiasaan baik Zahra. Misalnya, biasanya setiap pagi ba’da shubuh, saya akan melanjutkan dengan dzikir pagi, muroja’ah, mengajar anak-anak, kemudian ditutup dengan sholat syuruq dan doa kebaikan. Sementara Zahra membiasakan untuk melanjutkan dengan membaca Al-Ma’tsuuraat dan Al-Waaqi’ah, lalu persiapan ziyaadah. Maka, ketika kami kemudian hidup bersama, harus ada salah satu kebiasaan yang melebur dan menyesuaikan satu sama lain. Kami bahkan pernah berdiskusi tentang dzikir apa yang harus dibaca, apakah Al-Ma’tsuuraat atau dzikir pagi/sore biasa. Belakangan kami sepakat untuk tetap menggunakan dzikir kami masing-masing. Ini masih dalam hal yang sepele, kami pernah sampai berdebat tentang kebiasaan mandi, sikat gigi, sarapan, baca buku, dan hal-hal kebaikan yang ternyata untuk menyatukannya tidak semudah teori.

Disini saya pun kembali berpikir ulang, bahwa ternyata gagasan kolaborasi kebaikan tak semudah yang diucapkan dalam teori. Kenyataannya, harus ada pengorbanan yang dilakukan untuk berubah dan merubah kebaikan yang lama menjadi kebaikan yang baru. Praktek kolaborasi kebaikan tak selamanya melulu, satu kebaikan ditambah dengan satu kebaikan menjadi dua kebaikan yang lebih baik. Seringkali tetap menjadi satu masing-masing tak bisa lebur, atau menegasikan salah satu, atau bahkan na’udzubillaah menegasikan keduanya. Namun, jika pengorbanan yang dilakukan sesuai, acuan visi besarnya kuat, maka kolaborasi kebaikan akan menghasilkan ribuan kebaikan lain yang menginspirasi.

Dalam konteks yang lebih besar, saya berpikir rupanya seperti inilah yang terjadi pada umat Islam di Indonesia. Masing-masing golongan dan ormas Islam memiliki khitthah, AD/ART, nilai dasar, atau apapun itu namanya yang menjadi andalan dalam perjuangannya. Yang saya tahu pasti, bahwa kesemuanya selalu mendasarkan pada sesuatu yang ideal dan baik. Namun, nyatanya untuk menyatukan semua kebaikan yang terkandung di dalam khitthah golongan atau ormas tersebut tidak semudah menyampaikan gagasannya secara lisan. Padahal di Al-Quran pun jelas perintahnya,

(101) Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (102) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (103) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Sebanyak apapun perbedaan pendapat dan pandangan dalam beragama Islam, Allaah swt perintahkan untuk bersatu dalam jamaah. Maka, masyhur-lah sebuah ujaran, kami bersepakat dalam asas dan berbeda dalam hal furu’. Seharusnya inilah yang menjadi pedoman dalam perbedaan pandangan beragama yang terjadi di Indonesia. Bukan sebaliknya saling mengkafirkan, menegasikan, menghalangi dakwah, bersaing memperebutkan kekuasaan, memperebutkan nama, memperebutkan masjid, dan segala bentuk intrik dan politik lainnya.

Maka, ketika sudah sampai tahap saling mendiskreditkan seperti kebanyakan sekarang ini, perlu kita tanya kembali ke diri sendiri, perjuangan yang kita lakukan ini adalah demi tegaknya izzul Islaam wal muslimiin atau demi tenarnya nama organisasi yang kita bawa (hizbiyyah), atau taqlid buta pada organisasi (ashobiyah), atau demi ego kita yang tak mau mengalah (nafsiyyah), atau demi cari muka di hadapan penguasa, atau alasan naif lainnya. Begitulah yang saya lakukan ketika saya dan Zahra berdebat tentang sesuatu hal, apakah saya mempertahankan pendapat itu demi ego saya, rasa tak ingin kalah, nafsu, atau karena mempertahankan visi dakwah dan ibadah keluarga yang dibangun. Maka, ketika jelas acuannya adalah visi keluarga, ada sama-sama sikap saling memahami, disitulah akan muncul rasa tafaahum dan tawaazun dalam beribadah dan bermuamalah.

Saya bersyukur menyadari ini lebih awal untuk belajar dari hal yang paling sederhana, menyatukan dua pribadi baik untuk menjadi luar biasa, sebelum kelak menyatukan umat dalam kebaikan untuk memberi dampak besar pada dunia. Allaahumma taqabbal du’aa-ana, wa hashshil maqaasidanaa, wa ittashil aamalanaa.

 

One thought to “Menyatukan Umat Lewat Keluarga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *