Berjamaah Membangun Umat

Membaca beberapa tulisan Zahra di blog kami dalam rangka menyambut pernikahan kami rasanya agak sedikit lebay. Saya ber-husnudhon itu adalah doa dan harapan darinya untuk saya, jadi saya aamiiin-kan saja doanya. Dari sekian poin yang ditulis Zahra, saya sangat tertarik dengan visinya tentang membangun peradaban umat Islam. Jadilah, tulisan ini sebagai respon atas tulisannya.

Sebelum memulai tulisan saya, izinkan saya mengutip ayat yang mendeskripsikan sosok manusia yang luar biasa berikut ini,

(120) Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (121) (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (122) Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (123) Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Saya selalu kagum dengan sosok Ibrahim. Kedalaman tauhidnya sangat kuat sampai-sampai Allaah swt dengan jelas menyebutnya sebagai kekasih-Nya dalam Al-Quran. Banyak orang mengaku cinta Allaah swt, namun Ibrahim tak perlu membuat pengakuan, Allaah swt sudah jatuh cinta pada makhluk-Nya yang ini. Doanya memenuhi ruang-ruang langit. Bahkan saking kuatnya doa beliau, Allaah swt mengabadikan doa-doanya dalam Al-Quran. Berkat itu, anak-cucu keturunannya menjadi para pemimpin peradaban dunia atas izin Allaah swt.

Tercatat Bani Israel telah menjadi aktor utama dalam sejarah dunia dan para nabinya melalui keturunan Ishaq ibn Ibrahim. Sementara, ketika Bani Israel mulai digeser kedudukannya ke bawah oleh Allaah swt, Ibrahim telah menyiapkan keturunan lainnya melalui Ismail ibn Ibrahim untuk tetap memimpin peradaban dunia. Maka, kemudian kita mengenal sosok Muhammad ibn Abdullaah, tokoh paling berpengaruh di dunia yang mampu mengubah ke-jahiliyyah-an bangsa Arab menjadi zaman keemasan. Dan hari ini, lagi-lagi Bani Israel kembali menguasai dunia meski jumlah penduduknya terbatas.

Saya memulai tulisan ini dengan kisah dan deskripsi Ibrahim karena beliau menggambarkan dengan baik apa yang menjadi cita-cita Zahra. Bagaimana sebuah keluarga sanggup menjadi pondasi peradaban umat. Sebuah cita-cita besar nan utopis, apalagi bagi saya yang masih sangat miskin ilmu dan amal. Maka, ketika Zahra mengatakan itu kepada saya, saya hanya bisa terdiam dan merinding.

Berhari-hari saya berpikir bagaimana cara untuk menuju kesana. Saya menganggapnya begitu serius karena saya tahu Zahra tak pernah main-main dengan mimpi dan permintaannya. Sampai akhirnya, saya menemukan gambaran besar kehidupan Ibrahim ‘alaihissalaam cukup mewakili cita-cita besar Zahra. Bahkan, Ibrahim sudah lebih dulu melakukan itu melalui keturunannya yang berasal dari dua istrinya, (sepertinya satu tak cukup*eh).

Dan dari kisahnya, saya menangkap beberapa hal tentang bagaimana membangun keluarga sebagai pondasi peradaban. Pertama, adalah tentang kekuatan doa. Sebagaimana saya sampaikan diatas, Ibrahim adalah seorang nabi yang sangat gemar berdoa karena kecerdasan spiritualnya yang sangat luar biasa. Jika kita melihat doa-doa yang ada di dalam Al-Quran, hampir semuanya adalah doa Nabi Ibrahim. Dan doanya, kebanyakan adalah doa sapu jagad, bukan permintaan yang sepele dan remeh-temeh. Doa Ibrahim adalah sesuatu yang besar sebagaimana dirinya yang ditakdirkan Allaah swt menjadi orang besar. Maka, jika kita ingin menjadi orang besar, mari buat cita-cita yang besar dan merayu Allaah swt dengan doa-doa besar sembari berikhtiar. Begitu pula dengan membangun peradaban, satu manusia bahkan ribuan tak cukup untuk melakukannya jika tak ada kehendak dan ridho Allaah swt disana.

Kedua, adalah tentang aqidah yang lurus. Saya sempat hampir menangis ketika tasmi’ syarat akad nikah kemarin jika tidak saya tahan. Penyebabnya adalah ketika sampai pada ayat yang menceritakan betapa kekuatan tauhid Ibrahim dalam menghadapi kaumnya. Tauhid yang memunculkan keberanian untuk menentang kebodohan kaumnya, bahkan ayahnya sendiri. Ibrahim menjadi pemuda radikal yang kemudian menghancurkan patung berhala kerajaan dan menentang ke-jahiliyyah-an masyarakat seorang diri. Bahkan, kekuatan tauhidnya-lah yang meyakinkan dirinya untuk berani dibakar dalam api, hingga kemudian Allaah swt menolongnya. Maka, kekuatan tauhid harus menjadi modal utama dalam menghadapi semua masalah dan ujian kehidupan. Begitulah dalam membangun peradaban, tentu ujian “naik kelas”nya akan semakin besar.

Ketiga, adalah soal berjamaah. Ibrahim dan keluarganya adalah contoh terbaik inisiator kebaikan. Mereka membuat Ka’bah, membangun Makkah, dan mewariskan nilai-nilai kebaikan. Namun, yang banyak orang lupa adalah, Ibrahim dengan sangat baik mampu mentransformasikan gagasan kebaikannya pada orang-orang sekitarnya. Terbukti, anak-cucu keturunannya menjadi bangsa yang unggul dengan nilai-nilai dan adab yang dipegang kuat oleh keluarga dan keturunannya. Anak keturunannya akan hancur jika mereka meninggalkan nilai-nilai yang Ibrahim wariskan. Saya sadar betul, peradaban tak akan bisa terbentuk jika hanya ada satu keluarga yang baik. Butuh banyak orang-orang yang bercita-cita besar untuk membangun keluarga yang besar, baik dalam arti sebenarnya maupun kiasan.

Maka, dalam doa khatmul quran tasmi’ syarat akad kemarin, saya meminta khusus kepada Retas Aqabah, teman saya yang mendoakan kami, untuk memohonkan pada Allaah swt agar memunculkan banyak pasangan dan keluarga baru yang memiliki visi membangun peradaban umat Islam. Karena untuk membangun pondasi yang kuat, tidak bisa hanya menggunakan satu batu, tidak cukup hanya satu keluarga. Butuh sekian banyak batu bahkan kerikil. Maka, jika pun keluarga kami kelak tak mampu menjadi batu utama pondasi peradaban Islam, biarlah kami ikut memperkuat dengan menjadi kerikil yang mengisi ruang kosong pondasi agar lebih kokoh.

Lainnya, mungkin bisa dilihat kembali ayat yang saya kutip diatas. Disitu terdapat karakter manusia unggulan yang telah dididik oleh Allaah swt untuk menjadi pemimpin umat. Silakan cek surat An-Nahl ayat 120-123. Dalam hal ini, salah satu ikhtiar yang selalu saya usahakan dalam doa saya adalah doa berikut ini, barangkali jika ada yang berkenan, ikut meng-aamiiin-kan, menghafalkan, dan merutinkan doa berikut ini,

Allaahumma(i)j’alnaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa dzurriyyaatina wa azwaajanaa wa ikhwaaninaa wa akhwaatinaa wa ashdiqaa-anaa wa ashaabanaa wa asaatidzanaa wa masyaayikhanaa wa talaamidzanaa wa ‘umaraa-inaa wa wuzaraa-inaa wa liman lahu haqqun ‘alainaa wa liman ahsana ilainaa wa liman haulaanaa, min ahlil ‘ilmi wa min ahlil khairi wa min ahlil quran, wa min ahlisy syaakiriin wa min ahlish shaadiqiin wa min ahlish shaabirin wa min ahlil khaasyi’iin wa min ahlil qaanitiin wa min ahlil ‘aabidiin wa min ahlil muwahhidiin wa min ahlil mujaahidiin wa min ahlil muthii’iina bi syarii’atika wa min ahlika fid-dunyaa wal aakhirah.

Artinya kurang lebih berikut ini,

Yaa Allaah, jadikanlah kami, keluarga kami, anak-anak kami, keturunan kami, pasangan kami, saudara laki-laki dan perempuan kami, sahabat dan teman kami, guru-guru kami, para syaikh kami, murid-murid kami, para pemimpin kami, para menteri kami, dan mereka yang berhak atas kami, dan mereka yang pernah berbuat baik kepada kami, dan mereka yang ada di sekitar kami, agar menjadi orang yang ahli ilmu, ahli kebaikan, ahli Al-Quran, pandai bersyukur, berkata benar, kuat bersabar, khusyu’ dalam ibadah, rajin puasa, istiqomah ibadah, lurus tauhid, kuat etos kerjanya, taat terhadap syariat, dan menjadi keluarga-Mu di dunia dan di akhirat.

Allaahumma aamiin, wa shallillaahumma ‘alaa sayyidinaa muhammadin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *