Tampak Kotor, Bersih Hakikat

Kurang lebih dua minggu menjelang hari akad, program beasiswa belajar saya di Pare selesai sudah. Saya memutuskan untuk pulang lebih cepat demi menghadiri wisuda kakak (kembaran) saya. Akhirnya, saya dan adik saya pulang berdua larut malam berboncengan sepeda motor.

Perjalanan sepertinya akan berjalan lancar tidak seperti sebelumnya. Pertama kali saya menempuh perjalanan Pare-Solo ditemani dengan hujan deras, begitu pula ketika kembali Solo-Pare, terhambat macet arus balik long weekend. Sementara hari ini, semuanya tampak baik-baik saja. Jalan tak terlalu ramai dan cuaca cukup cerah.

Di jalan, motor saya geber dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam, sambil merapal murojaah, doa, atau kalimat thayyibah. Sudah menjadi tradisi di keluarga kami, ketika perjalanan kami akan memaksimalkan waktu untuk berdzikir, berdoa, atau murojaah. Bukankan salah satu doa yang tidak tertolak adalah doa orang yang safar?

Qadarullaah, malam itu Allaah swt berikan saya pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati ketika berkendara malam hari. Melewati sebuah tikungan di sepanjang hutan Ngawi, saya terkejut ketika bayangan sebuah bus masuk jalur untuk mendahului sebuah truk. Motor pun saya rem untuk mengontrol supaya tetap bertahan di sisa jalur. Namun, sayangnya angin gerakan bus sangat kencang sehingga melemparkan saya dan motor saya ke rerumputan sekitar. Tak pelak, saya dan adik saya terjatuh. Kaki saya terjepit motor, sementara adik saya sedikit memar kakinya.

Satu kejadian rupanya belum cukup. Saya masih memburu waktu agar sampai rumah lebih cepat supaya bisa istirahat dan ikut acara wisuda kakak saya. Namun Allaah swt rupanya memang hendak memberikan pelajaran untuk saya. Dalam sebuah kesempatan, saya mencoba mendahului sebuah truk tronton lewat jalur kiri karena tampak cukup lebar, mobil pun masih cukup untuk lewat. Namun, qadarullaah ternyata jalan berbelok menikung ke arah kiri. Truk yang awalnya melebar ke kanan tiba-tiba memepet saya hingga keluar jalur.

Dalam kecepatan yang masih cukup tinggi, saya dan adik saya terpelanting untuk kedua kalinya dari motor. Kali ini tentu lebih parah akibatnya, kaki saya tak bisa dilipat, luka lecet di kaki-tangan bagian kanan, dan baju serta celana jeans saya yang koyak beradu dengan aspal melindungi badan saya. Adik saya, tangannya tak sengaja masuk rantai, beruntung hanya berdarah tidak rusak struktur rangkanya. Selain itu, badan kami tentu juga memar-memar tak karuan.

*****

Dua kejadian, satu malam, yang kemudian membuat saya berpikir ada hal lain yang sebenarnya ingin Allaah swt berikan lewat sini adalah, karena saya masih diselamatkan oleh Allaah swt bisa melanjutkan perjalanan hingga ke rumah. Mengapa? Karena jika hendak menghukum, tentu efeknya akan lebih parah. Saya bersyukur masih bisa mengendarai motor sampai ke rumah menjelang shubuh setelah dua insiden yang jika bukan karena penjagaan-Nya, barangkali saya sudah tak bernyawa.

Saya teringat, bahwa akhir-akhir ini saya sering berdoa kepada Allaah swt untuk dibersihkan dari dosa-dosa saya sebelum kemudian melangkah ke jenjang berikutnya, yaitu menikah. Bahkan, saya juga memintakannya untuk keluarga saya. Hal ini saya lakukan karena saya ingin memulai sesuatu dalam keadaan yang terbaik secara fisik, mental, maupun spiritual. Husnudhon saya, malam itu, Allaah swt ingin membersihkan dosa-dosa saya melalui perantara sakit akibat kecelakaan tersebut. Bukankah mereka yang sakit akan digugurkan dosanya jika ia bersabar? Bukankah Rasulullaah saw telah menghibur mereka yang sakit dengan sabdanya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya,┬ámelainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya.”

Kemungkinan kedua, Allaah swt ingin menguji keistiqomahan saya dalam beramal, apakah dalam kondisi sakit, amalan saya tetap tidak berubah atau kemudian malah menurun drastis. Sebab, ada dua hal yang saya minta kepada Allaah swt dalam proses kenaikan kelas ini, yaitu supaya saya diajarkan tentang ikhlas dan istiqomah. Dalam hal ini, Rasulullaah saw pernah mengajarkan kepada kita dalam sebuah haditsnya, “Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, ‘Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.”

*****

Terlepas dari itu semua, saya bersyukur masih bisa selamat dari dua insiden kecelakaan malam itu. Meski kemudian beroleh luka-luka lecet sehingga tampak mengotori penampilan, namun saya yakin sepenuhnya, bahwa inilah cara Allaah swt membersihkan dosa-dosa di kaki-tangan saya. Barangkali dulu sering menjadi tukang pukul, mengerjai orang, melangkah pada arah keburukan, dan sebagainya. Tampak kotor di luar, namun pada hakikatnya Allaah swt sedang membersihkan diri saya. Semoga Allaah swt senantiasa mengampuni dosa-dosa kita dan mengajarkan hikmah-Nya dalam setiap kejadian.

Allaahumma(i)ghfirlanaa dzunuubanaa…

2 thoughts to “Tampak Kotor, Bersih Hakikat”

  1. Ya Allah, gak kebayang bagaimana cara dosa saya dibersihkan Allah nantinya, jika seorang Fahmi harus menghadapi demikian, bagaimana dengan saya yang suka bermaksiat ini? allahummaghfirlii :”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *