Yang Kamu Sebut Keramaian

Perjalanan ke Wonogiri bersama Fahmi, Mbak Mutia dan Mas Wiwid, saya rasa menjadi perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan. Terlalu banyak inspirasi yang muncul dari perjalanan itu. Mulai dari cerita Fahmi di mobil, menggali hikmah di Rumah Sakit Amal Sehat, mengobrol dengan Ibu Fahmi, semuanya meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Hikmah perjalanan itu bisa dibaca lebih lanjut di sini dan di sini.

Terlepas dari hikmah dari kisah-kisah yang tertuturkan, ternyata banyak juga hikmah yang datang setelah perjalanan itu terlaksana. Fahmi jadi tahu rumah saya, Abah saya, Ummi saya, Budhe saya, Simbah saya, bahkan juga rumah Budhe saya di Gunungkidul. Saya pun jadi tahu rumah Fahmi, Ibu Fahmi, kakak Fahmi, adik-adik Fahmi, serta bagaimana pola pendidikan yang diterapkan di keluarga Fahmi.

Sepanjang perjalanan, rasanya tidak ada detik di mana Fahmi tidak berbicara. I’ve told you that Fahmi doyan ngomong. Dan ternyata, dalam perjalanan ke Wonogiri itu, kami (saya dan Mbak Mutia) sepakat bahwa Fahmi memang cerewet. Ia bercerita segala hal mulai dari riwayat hidup ayahnya, ibunya, bagaimana ayah dan ibunya berjumpa, pendidikan yang diterapkan kedua orangtuanya, mimpi-mimpinya, dan banyak hal lain yang kalau saya sebutkan di sini akan menjadi terlalu panjang. Saya sampai tidak habis pikir ada laki-laki yang begitu cerewet seperti Fahmi. Saya sampai tidak punya kata-kata untuk menanggapi dan bahkan sebetulnya tidak punya celah untuk sekedar bicara. Gila parah cerewet banget, nggak bakal kuat kalau terus-terusan deket sama Fahmi.

            Dari banyak yang ia ceritakan itu, sebetulnya dalam hati saya merasa banyak hal yang sama di keluarga saya dan keluarga kami. Bahkan Mbak Mutia, sepupu saya sampai berbisik, “ini mah sama aja kayak keluarga kamu kan, Tul. Tapi dia bisa mengungkapkan dengan sangat bangga aja”. Keluarga kami sama-sama multi-fikroh, kendati sekarang lebih condong ke Muhammadiyah. Bahkan Abah saya dulu mondok di pesantren yang sama dengan pesantren Fahmi. Prinsip-prinsip yang ditanamkan keluarga Fahmi juga mirip-mirip dengan keluarga saya. Saya tidak punya firasat apa-apa, sampai kemudian saya membaca komentar Retas Aqabah di link report perjalanan yang di-post Fahmi hari berikutnya.

Saya baru benar-benar sadar bahwa kami mirip di banyak hal. Apa yang dikatakan Retas itu banyak benarnya, walaupun sebetulnya saya belum pantas disebut hafidzah dan penulis kisah yang memikat, pencerita yang handal, apalagi pegiat dakwah yang militant itu. Retas, sebagaimana saya kenal ia sebelumnya, membuktikan sekali lagi kemampuan persuasinya yang luar biasa. Tapi frontal banget Retas nih parah.

Saya membaca komentar Retas berkali-kali sampai saya ketakutan sendiri. Saya ingat saya pernah bermimpi menikah dengan Fahmi tahun lalu. Saya takut sekali komentar Retas itu menjadi pembenaran akan mimpi itu dan membuat hati saya condong kepada Fahmi. Padahal, sebelumnya saya nekat menantang orang melamar saya hanya demi membersihkan hati. Saya tidak ingin komentar Retas itu mengotori hati saya dan mencederai niat saya untuk bebersih diri.

Komentar itu juga seolah ‘mendahului takdir’. Ia dengan jelas sudah sebut-sebut ‘putra-putri’, padahal terpikir untuk menikah dengan Fahmi saja tidak. Wah, ini artinya asumsi orang di luar sana terhadap kami berdua bisa jadi sama seperti Retas. Jangan-jangan interaksi kami yang hanya sebatas teman dianggap sebagai sarana untuk PDKT. Saya takut komunitas yang saya bangun karena ketakutan saya akan hari akhir, justru menjadi sumber fitnah dan dosa. Maka, saya putuskan untuk leave group Kongkow Medika dan tidak akan masuk sebelum dapat menjaga diri dengan lebih baik, yakni dengan menikah. Saya juga block semua akun social media Fahmi untuk menjaga hati.

Sejujurnya saya terpukul sendiri dengan apa yang saya lakukan. Saya bertanya-tanya apakah tindakan saya benar atau tidak ke beberapa orang. Saya bahkan sempat menangis di depan anak-anak asrama karena kebingungan saya. Diare yang saya alami sebulan terakhir menjadi semakin parah, sampai-sampai saya bisa ke kamar mandi sampai puluhan kali sehari. Saya sampai demam dan tidak sanggup bangun seharian saking kepikirannya.

Sampai kemudian, saya mendapat kabar itu dari Ummi sebelum berangkat kuliah besok paginya, “Fahmi kemarin ke rumah nemuin Abah”. Ummi ternyata mengutus Mbak Mutia untuk mengajak saya makan siang dan menceritakan duduk perkaranya. “Fahmi nelfon aku kemarin pagi mau nemuin Abah. Dia mau minta maaf sekalian ngelamar kamu, Tul”. He? Mimpi apa gue semalem? Saya tahu betul Fahmi tidak punya rencana menikah dalam waktu dekat, ia berencana menikah bahkan setelah sumpah dokter. Berani-beraninya dia ngelamar orang tanpa persiapan.

“Jadi, gimana? Adek suka nggak sama Fahmi?”, tanya Abah besok paginya. Heu, ditanyain begitu saya langsung kebayang cerewetnya Fahmi yang tidak bisa saya tanggulangi.

“Hmmm, biasa aja Bah. Tapi kalau Abah ridho, aku nggak masalah.”

            “Yaudah bismillaah ya, kita tunggu proposalnya.”

            Beberapa hari kemudian, proposal itu masuk ke e-mail Aqwamu Qila. Buset, ni proposal panjang banget sampe 27 halaman. Kami sekeluarga mempelajari proposal itu dan tercengang dengan betapa luar biasanya orang bernama Khoirul Fahmi ini. Dengan sedikit tertekan karena bagusnya proposal Fahmi, saya berusaha membuat proposal balasan dengan alur dan konten yang sama.

Saya tulis proposal itu di musholla kampus, di kelas, di mobil, di perjalanan menuju Semarang, di perjalanan menuju Solo, pokoknya di manapun saya bisa menulis. Saya nggak punya waktu untuk duduk diam mengerjakan proposal karena saat itu sedang hectic menyelesaikan tugas-tugas lain sebelum menghadiri seminar di Semarang dan lamaran kakak di Solo. Akhirnya jadi juga proposal balasan saya sepanjang 22 halaman dengan banyak kalimat tidak sesuai eyd dan banyak typo. Nggak papa deh, daripada kelamaan nanti mendzalimi yang lain. Ummi mengoreksi proposal saya sampai jam 2 pagi dan mengirimnya ke Fahmi. Bismillaah, semoga Allaah ridho.

Zahratul Iftikar Jadna Masyhida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *