Tentang Persiapan

Ada tiga hal yang oleh Allaah swt disebut sebagai sebuah perjanjian yang berat, miitsaaqan ghaliidhaa. Pertama, adalah perjanjian Allaah swt dengan para Nabi dan Rasul-Nya. Kedua, adalah perjanjian Allaah swt dengan Bani Israel yang kerap membangkang. Dan yang terakhir adalah perjanjian pernikahan antar dua insan yang berbeda jenis. Mengingat besarnya konsekuensi dari perjanjian pernikahan ini, maka sudah sewajarnya setiap orang mempersiapkan sebaik-baiknya. Begitu pula saya berusaha mempersiapkan pernikahan sebaik mungkin bahkan prosesnya pun saya berusaha menjaga sebagaimana saya ceritakan dalam Memburu Keberkahan.

Jika saya ditanya sejak kapan mulai untuk mempersiapkan menikah, maka kalau tidak salah ingat, saya mulai mempersiapkannya sejak masa sekolah di MAN Insan Cendekia Serpong. Saat itu, kami diberi tugas oleh guru Aqidah Akhlak, Ust. Away Baidhowi, untuk membuat sebuah peta hidup. Saya kurang paham bagaimana teman-teman yang lain membuatnya, apakah serius atau sekedar menulis. Saya sendiri, meski yang saya tuliskan beberapa hanya sekedar asbun, namun ada satu-dua hal yang saya kemudian merencanakan dengan serius.

Pertama adalah tentang rencana pendidikan dan kedua adalah rencana pernikahan. Terkait dengan rencana pernikahan ini, saya membagi persiapan dalam dua hal. Persiapan yang bisa saya usahakan, serta persiapan yang Allaah swt akan berikan dengan katalis doa-doa saya dan orang lain yang mendoakan.

*****

Persiapan yang menjadi hak prerogatif Allaah swt antara lain antara dengan siapa saya menikah, kapan saya menikah secara pasti, dan kondisi ketika saya menikah, dalam artian kemapanan dan kesiapan materi. Maka, terkait ini, saya hanya bisa berdoa kepada Allaah swt agar diberikan yang terbaik sembari saya memantaskan diri untuk menyekufukan dengan kriteria yang saya minta pada Allaah swt.

Sementara persiapan yang bisa saya siapkan adalah kesiapan mental, ma’isyah, ekspansi kapasitas diri, kematangan personal, gambaran keluarga, dan rencana setelah menikah. Hal-hal inilah yang kemudian saya mengusahakannya sebaik mungkin. Diantara ikhtiar yang saya lakukan adalah membuat rencana, belajar, dan mencari pengalaman.

Saya mulai membuat rencana untuk menikah sejak akhir masa saya di MAN Insan Cendekia Serpong. Saya merencanakan bentuk dan deskripsi keluarga saya kelak seperti apa, rumah saya desainnya seperti apa, fasilitas apa saja yang disediakan di rumah, kegiatan rutin harian keluarga, dan detail lainnya. Bahkan, saya sampai merencanakan sekolah mana yang akan saya percayakan untuk mendidik anak-anak saya. Saya juga berusaha membuat target-target yang harus dicapai dan milestone tertentu untuk membuat arah keluarga saya mau dibawa kemana. Kenapa? Karena sebagai laki-laki, kelak saya akan menjadi pemimpin keluarga. Maka, saya harus memiliki arah yang jelas kemana mau melangkah.

Usaha saya untuk belajar dalam artian dengan membaca buku dan mengaji. Yang perlu digarisbawahi disini pembelajaran yang saya lakukan tidak hanya melulu soal menikah. Karena mempersiapkan pernikahan bukan melulu soal kesiapan ilmu menikah semata. Namun kematangan mental dan kapasitas diri lebih penting dikembangkan agar menjadi pribadi yang matang. Mengingat ujian dan tantangan setelah menikah akan lebih besar, maka pendewasaan seseorang sangat berperan dan sudah bukan waktunya lagi jiwa childish seseorang dipelihara. Maka, pada masa-masa di MAN dan kuliah, saya banyak membaca buku terkait self development dan biografi tokoh. Kenapa? Dari keduanya, saya mendapatkan banyak pembelajaran terkait nilai-nilai kehidupan yang menurut saya penting pendewasaan diri.

Mencari pengalaman bisa dilakukan dalam banyak hal. Diantaranya dengan mengobrol dan bertanya pada mereka yang sudah berpengalaman mengarungi kehidupan rumah tangga. Saya juga selalu mengusahakan untuk bisa mendatangi akad nikah jika diundang untuk hadir. Hal ini saya lakukan untuk ikut merasakan momen sakral dan kekhusyu’an prosesi akad. Dan yang paling penting adalah mencari pengalaman mempersiapkan ma’isyah.

Mengenai ma’isyah ini pun, seringkali menjadi alasan seseorang untuk menunda pernikahan, baik karena orangtua yang tidak menyetujui maupun laki-lakinya yang merasa tidak siap. Awalnya, sebagai seseorang yang berusaha selalu merencanakan yang terbaik, saya sempat ragu dan bimbang untuk menikah dengan ma’isyah yang terbatas. Namun, saya mengingat sebuah ayat yang hebat dan menumbuhkan keberanian saya untuk menikah, yaitu An-Nur 32,

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini bukan berarti kita asal-asalan menikah tanpa ma’isyah yang cukup. Namun, tetap perlu ikhtiar mencari dan merencanakan ke depan akan seperti apa. Dalam kasus saya, pertimbangan saya untuk menikah dengan ma’isyah yang terbatas adalah, minimal dengan ma’isyah yang saya miliki, saya bisa memenuhi kebutuhan primer sehari-hari. Setidaknya, kebutuhan primer keluarga terpenuhi dan bisa hidup selayaknya manusia. Asal itu terpenuhi, jika saya boleh sarankan, segerakan menikah, karena sisanya nanti Allaah swt yang akan memberi.

*****

Khoirul Fahmi

One thought to “Tentang Persiapan”

  1. Assalamuallaikum, mas fahmi adalah putri bu dokter sukiswati dan ustadz nur hadi wali kelasku di ma almukmin ngruki dulu, beliau sagat visioner, berkarakter, bersemangat, motivator dan kalau ngajar bahasa inggris sederhana mudah dimengerti dan aku merasa pelajaran bhs inggris sangat gampang. Semoga beliau bahagia di sana, melihat putra putranya yg tumbuh cerdas, visioner dan sikap positif yg lain, semua sangat menginspirasi.sala takdhimku untuk umi dokter diti sukiswati yaa, baarokallah, semoga bahagia selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *