Tentang Kongkow Medika

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Ali Imran: 110

Ada satu potongan ayat yang begitu saya sukai dan menjadi motivasi saya untuk terus bergerak dan berjuang, yakni potongan ayat yang saya sebutkan di atas. Saya selalu terbayang-bayang akan dapat menempati posisi terbaik di mata Allaah. Bayangan itu melekat begitu erat sampai hanya dengan mengingatnya saya dapat menangis tersedu. Keinginan itu, mimpi itu, serasa mengharu-biru hari-hari saya.

Sampai pada suatu ketika, saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mengendarai mobil Abah. Tiba-tiba pipi saya hangat dan basah. Tiba-tiba tanpa saya berpikir apa-apa sebelumnya, muncul ketakutan yang amat sangat. Ketakutan yang mungkin tampak absurd bagi orang lain. Saya begitu takut tidak bisa masuk surga. Saya begitu takut menjadi penghuni neraka. Saya begitu takut akumulasi amalan saya sejak saya lahir sampai saat dipanggil kelak tidak menggerakkan Allaah untuk menjadikan saya ash-haabul maimanah, golongan kanan. Bayang-bayang akan kehidupan akhir yang menyedihkan tergambar jelas di benak saya kala itu. Saya menangis terisak sampai saya putuskan untuk menepi karena khawatir tidak fokus menyetir. Baru setelah tidak terisak lagi, saya meneruskan perjalanan pulang. Kejadian itu begitu absurd. Tapi anehnya terulang beberapa kali di kemudian hari.

Keinginan menjadi umat terbaik, sekaligus ketakutan hebat yang sering muncul tiba-tiba, akhirnya mendorong saya untuk melakukan sesuatu. Saya canangkan life goal dan life plan saya lebih rinci lagi. Saya berguru ke seorang mentor bisnis di lain kota. Saya buat beberapa gerakan untuk menyebarkan kebaikan. Saya memutuskan untuk mendaftar karantina menghafal Qur’an selama sebulan. Serta, saya mengajak sahabat saya untuk membentuk sebuah komunitas anak-anak medika yang kiranya punya kegelisahan yang sama dengan saya.

Setelah hubung-menghubungi, jadilah komunitas tak bernama itu di grup LINE. Ada 7 orang yang bergabung, yang saya kira begitu acak. Ada yang dulunya Presiden BEM KMFK, ada yang masih menjabat sebagai Ketua Senat FK, ada yang dulunya menjadi Ketua HIMAGIKA, ada yang masih menjabat sebagai menteri dan kabiro BEM KM, ada yang hafal Al-Qur’an 30 juz dan sedang menjabat sebagai kepala sekolah Tjokro. Semuanya adalah orang-orang keren, dan sebetulnya berasal dari latar belakang gerakan Islam yang berbeda-beda kendati militan di harakah-nya masing-masing. Sedang, saya sendiri sungguh saya bukan siapa-siapa. Saya cuma mahasiswa biasa yang gelisah berlebih menghadapi masa depan saya sendiri. Saya cuma ingin berkolaborasi dengan orang-orang keren, dengan harapan jangka panjang dapat menjadi pemersatu umat oleh karena latar belakang Islam kami yang berbeda-beda.

Grup itu awalnya begitu absurd. Orang-orang di dalamya bingung apa dan bagaimana grup itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk kopi darat terlebih dulu sebelum memulai semuanya. Setelah beberapa kali reschedule, akhirnya kopi darat pertama kami berhasil terjadwalkan. Tanggal 15 November 2017, jam 15.30, di Cafetaria Gelanggang.

Saya excited sekali dengan kopi darat pertama kami. Saking excited-nya, saya datang 30 menit sebelum waktu yang ditentukan. Sambil baca buku, saya amati orang-orang yang lewat, siapa tahu salah satu dari 6 anggota grup yang sebelumnya belum pernah saya temui. Tidak lama, muncul satu orang. Mmmm, tampangnya mirip foto orang di facebook yang di foto itu sedang diliput JogjaTV. Mmmm, mungkin ini yang namanya Fahmi.

   “Fahmi bukan?”

   “Iya, Jaden kan?”

Yay, 100. Sumpah sebelumnya nggak pernah kenal yang namanya Khoirul Fahmi. Cuma kenal nama, dan postingan-postingan di facebooknya yang gila parah likers-nya super banyak. Pernah juga tanya teman sekolahnya (alumni MAN Insan Cendekia) siapa sih dia nih, dan semua orang jawab beliau anak FK yang hafidz 30 juz. Sedikit banyak tahu juga Fahmi hobi baca buku-buku pemikiran dan biografi tokoh-tokoh pergerakan nasional. Dua genre yang sejujurnya saya masih susah pahami karena bahasanya begitu berat.

Setelah kenalan sedikit, eh tiba-tiba Fahmi udah nyerocos aja ngobrolin banyak hal, mulai dari latar belakang Islam dia, keluarganya, aktivitasnya, kekecewaannya pada organisasi dakwah sekarang, pendapatnya tentang teman-temannya, dan masih banyak lagi sampai saya lupa apa saja yang dibicarakan.  Alhamdulillaah, jadi nggak canggung. Tapi serius saat itu saya sampai kehilangan kata-kata bagaimana harus menghadapi Fahmi. Bukan karena nervous, tapi lebih karena kata-kata Fahmi yang meluncur deras tanpa jeda. Gila parah ni orang cerewet banget. Beruntung tidak lama datang teman-teman yang lain dan mulailah kopi darat pertama kami sore itu.

Sore itu begitu emosional, kala saya menyebutkan latar belakang mengumpulkan mereka semua. Bahkan seingat saya, saya menangis ketika menceritakan ketakuan yang menghantui saya hari-hari belakangan. Sejujurnya saya cuma membawa modal niat untuk berkolaborasi saja, tanpa gagasan apa-apa tentang arah gerak komunitas tersebut. Tapi beruntungnya, saya bersyukur sekali teman-teman saat itu excited dengan komunitas itu dan menyumbang ide-ide kegiatan komunitas. Akhirnya disepakati di awal-awal pembentukan, kegiatan kami adalah bersilaturrahim ke tokoh-tokoh kesehatan dan menulis report silaturrahim tersebut di sebuah blog bersama.

Kopi darat pertama itu berakhir setelah bercengkerama sejenak dan ada yang menghubungi beberapa tokoh untuk membuat janji. Ada bunga yang mekar dalam perjalanan pulang sore itu. Bukan karena bertemu dengan seseorang apalagi dengan Fahmi, tapi lebih karena ketakutan saya sedikit terurai dan ada secercah harap peluang kontribusi untuk hari kemudian.

***

Kegiatan Kongkow Medika di kemudian hari berjalan begitu mengasyikkan. Kami bersilaturrahim dengan para pegiat dunia medis yang luar biasa keren. Pernah kami mengobrolkan dunia pasca kampus dan kuliah di luar negeri bersama Giovanny van Empel (Presiden BEM KM 2012), menyelami kepemimpinan dr. Hasto Wardoyo (bupati Kulonprogo), mendapat ilmu baru tentang pengobatan ala nabi dari Ibu Ani Yuniarti (Loyal Executive Director PT. HPAI), tercengang-cengang dengan manusia setengah dewa di Wonogiri yang bernama dr. Rasyid Ridho, dan mengalami badai otak setelah mengobrol dengan dr. Siti Soekiswati, ibunya Fahmi.

            Selain bersilaturrahim, kami juga berbagi mimpi. Pernah dalam sebuah ­meet-up, kami kumpul lengkap bertujuh dan sharing tentang rencana hidup kami. Sharing hari itu benar-benar menyadarkan saya betapa saya masih begitu kecil. Mimpi saya belum ada apa-apanya dibanding mimpi-mimpi mereka. Selain mimpi mereka lebih besar dan strategis, mereka juga sudah merinci baby step yang untuk mencapainya dan bahkan sudah memulai baby step-baby step itu! Minder parah kala mendengar mimpi-mimpi mereka. Tapi keminderan itu justru menjadi motivasi yang kuat untuk terus bermimpi dan mewujudkannya. Such a dream team banget!

            Meski Kongkow Medika mengasyikkan dan tampak produktif, tapi sebagaimana kelompok-kelompok orang keren nan sibuk lainnya, anak-anak Kongkow Medika sedikit susah untuk berkumpul lengkap karena kesibukan masing-masing. Kami hampir tidak pernah lengkap berkumpul. Bahkan sebetulnya hanya saya dan Fahmi yang selalu hadir di setiap kegiatan (sebelum saya leave group).

            Fahmi rupanya sangat bersemangat untuk membesarkan Kongkow Medika. Tidak hanya ikut di semua kegiatan, ia juga rajin menulis dan mengisi blog dengan tulisan-tulisan reflektifnya. Bahkan saya baru sadari belakangan, hampir semua tulisan di blog adalah tulisan Fahmi. Fahmi jadi seperti motor utama yang menggerakkan Kongkow Medika. Walaupun mungkin otak awal Kongkow Medika adalah saya, tapi tanpa Fahmi yang begitu menggebu saya rasa Kongkow Medika tidak akan hidup.

            Bahkan sampai setelah saya leave group pun, kegiatan Kongkow Medika masih berjalan karena Fahmi. Meski saya tidak pernah dengan sengaja membuka blog Kongkow Medika, tapi ada saja orang yang share tulisan-tulisan baru blog itu di facebook. Yang tentu saja bisa ditebak, tulisan itu adalah tulisan Fahmi. Beberapa orang bahkan menjapri saya. Mereka suka sekali tulisan-tulisan di blog Kongkow Medika dan mengapresiasi kegiatan kami. Dibilang begitu saya cuma bisa meringis saja. Tidak lagi menjadi bagian dari mereka ternyata menyedihkan juga. Bukan ‘menyedihkan juga’ sih sebenarnya, tapi menyedihkan sekali. Saya begitu rindu berkumpul dengan orang-orang yang ‘gelisah’, saya rindu belajar bersama pemburu hikmah, saya rindu berada di tengah-tengah anak-anak yang dipilih Tuhan untuk bersama mengemban beratnya titipan amanah.

“Sebaik-baik kawan kamu ialah mereka yang mengingatkan kamu kepada Allah SWT bila melihatnya dan menambahkan ilmu kamu oleh percakapannya serta menyemarakkan semangat kamu untuk menambah bekal akhirat.” _H.R. Tarmizi

            Ah, saya sungguh begitu rindu. Allaah, mohon sampaikan aku untuk kembali bersua dengan mereka.

Zahratul Iftikar Jadna Masyhida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *