Someone that I Can Always Lookup

Saya sering berdo’a supaya di dekatkan jodohnya, jodoh that I can always look up. Saya sadar saya adalah orang yang kompetitif dan terkadang kurang bisa menerima kekurangan orang lain. Saya ingin hidup bersama orang yang menjadi rival untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi baik dalam amal dunia maupun amal akhirat. Saya ingin hidup bersama orang yang setiap saatnya bisa saya kagumi.

Someone that I can always lookup juga berarti orang yang expert di bidang yang saya tidak expert di dalamnya. Sehingga selain saling kagum, akan muncul banyak field of contribution dalam satu keluarga. Katakanlah ada 3 sektor profesi: privat, publik dan sektor ketiga (NGO). Ke depan, saya berencana untuk menekuni sektor privat. Saya ingin suami saya kelak menekuni sektor publik. Sedangkan sisanya, sektor ketiga, adalah ladang amal bersama.

Sejujurnya, hanya ada sedikit sekali laki-laki yang pernah saya temui  yang berhasil membuat saya tak berhenti merasa kagum. Salah satunya Fahmi. Berawal dari kesan “sumpah ni orang cerewet banget”, makin saya kenal ternyata makin besar kekaguman saya. Walaupun Fahmi terbilang cerewet, tapi semua yang dia katakan selalu mengandung ilmu dan hikmah. Fahmi sangat pandai mengutarakan pemikiran-pemikiran tajamnya, perasaan-perasaan halusnya, hasil baca dan diskusi yang tidak biasa, serta pengalaman hidup yang tidak ada duanya. Berinteraksi dengan Fahmi sebentar saja sudah akan tampak kecerdasan dan kehalusan budinya. Sebuah paduan langka yang sedikit sekali pernah saya temukan.

Fahmi, selain cerdas dalam ilmu umum, juga cerdas dalam ilmu agama. Dia sudah hafal seluruh Qur’an sejak SD. Bahkan di tahun pertama menghafal, Fahmi berhasil menghafalkan 16 juz. Gila, 16 juz dalam satu tahun di umur 7 tahun! Ngapain gue waktu itu ya. Dalam perjalanan kami ke Wonogiri, Fahmi bahkan bisa menafsirkan lantunan ayat-ayat Qur’an yang kami nyalakan dari tape. Fahmi juga menguasai bahasa arab, hadist-hadist, sirah, pokoknya semua tentang Islam. Ilmu agamanya saya rasa telah paripurna tanpa cela.

Tapi ilmu tidak ada gunanya tanpa amal. Bagusnya, ilmu dan amal Fahmi cukup seimbang. Mengajar di Rumah Tahfidz, menjadi takmir masjid, menjadi ketua angkatan Baktinusa Jogja, menjadi Kepala Sekolah Tjokro, cukup membuktikan kebermanfaatan waktunya. Sudah umum diketahui bahwa mahasiswa kedokteran memiliki beban belajar yang luar biasa berat. Membayangkan Fahmi berangkat pagi setiap hari untuk kuliah, tutorial, praktikum sampai sore hari, kemudian rapat sampai malam, masih mengajar tahfidz, masih belajar untuk esoknya, masih sempat baca buku-buku berat, masih muroja’ah hafalan, membuat saya tidak habis pikir. Mengagumkan sekali ia bisa survive dengan kegiatan yang begitu rupa.

Secara personal, Fahmi adalah orang yang begitu baik dalam hubungan interpersonal. Ia begitu menghormati orang yang lebih tua, sebagaimana ia menyayangi teman-temannya. Tutur katanya begitu halus. Fahmi bahkan menggunakan Bahasa Krama Inggil untuk berbicara dengan orangtua saya. Ia sangat mudah mengambil hati orang lain. Umi saya sering bilang, “Dari semua temen-temenmu yang Umi kenal, nggak ada yang sehalus Fahmi.”

Fahmi dapat dengan mudah membangun hubungan dengan siapapun. Mungkin mudah membuka obrolan dengan teman sebaya. Tapi sejauh pengamatan saya, Fahmi juga jago berinteraksi dengan anak kecil. Fahmi bisa momong Khansa, adik saya yang masih berusia 4 tahun. Ia pandai menempatkan diri sesuai dengan siapa ia berinteraksi.

Satu hal lagi yang membuat saya kagum dengan Fahmi adalah karena Fahmi punya rencana untuk terjun di sektor publik. Bacaan Fahmi yang kebanyakan merupakan buku-buku pemikiran kiri dan biografi tokoh nasional sangat mendukung untuk itu. Tidak hanya membaca, Fahmi memformulasikan bacaan-bacaannya untuk diajarkan di Sekolah Tjokro. Lingkungan Fahmi di Baktinusa memberinya banyak jaringan dan forum diskusi yang juga mendukung. Belum lagi insight dari Ibu yang lebih dulu terjun di Hukum Kesehatan, serta seminar-seminar kebijakan kesehatan yang Fahmi ikuti, semuanya merupakan dukungan konkrit untuk mimpi-mimpi Fahmi. Walaupun tampak utopis, tapi saya tahu ia tidak main-main dengan mimpi-mimpinya.

Dengan segala profil Fahmi yang saya tahu itu, justru saya tidak pernah berpikir bahwa Fahmi adalah someone that I can always lookup itu. Kelebihan-kelebihannya yang melampaui predikat itu justru membuat saya tidak pernah membayangkan akan bersanding di sampingnya. Kapasitas saya masih terlalu jauh untuk disandingkan. Saya merasa terbanting dan minder dengan segala kecemerlangan Fahmi.

Maka, sebetulnya, alasan utama saya bilang ‘ya’ ketika ditanya Abah waktu itu bukanlah karena Fahmi secara personal. Personality yang tidak ada cacatnya justru membuat hati saya ciut dan tidak berani menaruh hati. Satu alasan utama kenapa saya menerima Fahmi adalah karena orangtua saya sudah jatuh hati kepadanya. Orangtua saya sudah ridho kalau memang Fahmi jodoh saya. Sehingga ya sudah, walaupun dipenuhi rasa minder yang tidak ada habisnya, saya akhirnya menerima.

Setelah bilang ‘iya’ dan melanjutkan proses, ternyata saya justru menemukan lebih banyak kelebihan di diri Fahmi. Saya pernah bertanya kepada Fikri (teman KKN saya yang dulu sekamar di IC dan sekontrakan waktu awal-awal kuliah), bagaimana kegiatan Fahmi sehari-hari. Saya jadi tambah minder setelah Fikri cerita panjang lebar. Fikri bilang Fahmi adalah orang yang sangat rapi, rajin dan soleh. Fahmi selalu bangun paling awal dan hobi bersih-bersih di pagi hari. Fahmi sering memasak nasi dan membeli lauk sebelum teman-temannya bangun. Jadi ketika teman-temannya bangun, mereka akan mendapati kontrakan sudah bersih dan sarapan terhidang. Orang macam apa coba dia nih. Fahmi, dalam bahasa Stephen Covey, tidak hanya menang secara kolektif tapi juga menang secara pribadi.

Fahmi juga giat sekali dalam beribadah. Amalan yaumi yang hampir sempurna ditambah komitmen mengerjakan amalan-amalan khusus membuat saya tambah ciut. Apalagi ada satu sikap hidup Fahmi yang, dalam bahasa Charles Duhigg, menjadi kebiasaan kunci. Yakni adalah sikap wara’-nya. Fahmi sangat berhati-hati dalam hampir semua hal. Fahmi takut sekali Allaah tidak ridho dengan apa yang ia lakukan, dalam hal sederhana apapun. Sikapnya inilah yang saya kira membuat hidup Fahmi diliputi berbagai kehokian dan keberkahan.

Fahmi adalah produk pendidikan terbaik yang diberikan oleh Bapak-Ibunya. Karakter yang kuat, basis agama yang kokoh, kepekaan social yang tinggi, ketekunan dalam belajar, kecakapan dalam mengajar, adalah poin-poin yang sudah pasti tercentang di diri Fahmi. Jauuuuuuuh berbeda dengan saya yang masih rendah di semua aspek. Kehadiran Fahmi di rumah ketika menghadap Abah waktu itu, walaupun membuat kami repot akhir-akhir ini, adalah hadiah yang tidak ternilai harganya bagi saya dan keluarga saya. Tidak henti-hentinya Abah-Umi menyebut-nyebut bahwa Fahmi ini dan itu di depan saya. Sedang, saya mah cuma bisa berusaha lebih keras untuk memantaskan diri, demi supaya tidak terbanting dengan segala kesempurnaan Fahmi.

Sering saya bertanya-tanya apakah saya pantas bersanding dengan Fahmi yang begitu sempurna itu. Saya hubungi teman-temannya yang juga teman-teman saya demi menguatkan diri saya sendiri. Saya bahkan berkonsultasi dengan calon psikolog, yang saat itu ia bilang, “bukan Fahmi yang pilih kamu atau kamu yang pilih Fahmi, tapi Allaah-lah yang memilihkan kamu untuk Fahmi dan Fahmi untuk kamu”. Ah, benar juga. Ini semua terjadi di luar kehendak kami semua. Allaah yang mengatur semuanya menjadi begini rupa. Kalau Allaah yang menyatukan kami, maka apalagi yang perlu dikhawatirkan? Hasbunallaah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikman nashiir.

P.S. Anyway tulisan ini sengaja menyembunyikan kekurangan-kekurangan Fahmi :p

 

Zahratul Iftikar Jadna Masyhida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *