Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Seumur-umur saya hidup, saya hampir tak pernah memiliki barang mewah. Ketika kecil, saya seringkali iri dengan teman-teman yang begitu mudahnya membeli mainan tamiya. Sementara saya dan kakak saya harus “memulung” setiap acara kerja bakti di Pondok supaya bisa memiliki tamiya. Alhamdulillaah, kami bisa merakit 3 buah mobil tamiya.

Pernah juga saya dihina oleh teman-teman karena barang yang saya atau keluarga saya miliki terlalu buruk. Maklum, saya sering berteman dengan mereka yang menengah ke atas. Pun Bapak selalu memilihkan sekolah terbaik untuk anak-anaknya sehingga wajar jika saya sering bergaul dengan orang-orang kelebihan harta. Saya hanya tertawa menertawakan diri saya ketika diejek oleh teman saya,

Mbok ganti peci sana lho, Mi. Peci harganya lebih murah dari harga mie ayam aja kok dirawat.” Padahal, bagi saya selama barang bisa dipakai dan manfaatnya ada kenapa harus dibuang? Toh, peci saya adalah pemberian orangtua yang harus dirawat. Lain waktu, saya juga pernah dihina karena sepatu yang sudah jebol, seragam yang lusuh, tas yang penuh jahitan, bahkan sampai mobil keluarga yang butut. Lagi-lagi saya hanya tertawa mendengar ejekan mereka. Saya memegang benar nasehat Bapak saya, harga dirimu bukan pada hartamu, tapi pada ilmu dan amalmu. Selama kamu menguasai dua hal itu, jangan pernah minder!

Tapi dasar anak-anak, tumbuh dengan lingkungan seperti itu membuat saya kurang percaya diri. Barulah menginjak dewasa, saya mulai belajar bagaimana mengumpulkan dan memupuk kepercayaan diri. Maka, ketika saya bertemu dengan orang yang lebih dari saya dalam dua hal tadi, ilmu dan amal, sifat alami minder saya akan muncul begitu saja.

*****

Bagi saya, ada dua hal yang menjadi sumber kepercayaan diri saya. Dua kemewahan yang Allaah swt berikan pada saya. Pertama, adalah keluarga saya yang berkesan kuat dan terikat erat baik secara fisik maupun batin. Kami saling menjaga, menasehati, mendoakan, dan mendukung satu sama lain agar bisa meraih prestasi dunia-akhirat. Ini adalah kemewahan yang tak terbeli bagi saya. Betapa banyak teman-teman saya yang kelebihan harta, namun tak memiliki hubungan keluarga yang sehat. Saya sungguh bersyukur memiliki keluarga yang hebat yang mampu meringankan beban dan masalah yang dihadapi.

Kedua, adalah nikmat hafalan Al-Quran. Saya masih ingat nasehat yang terus disampaikan oleh para guru dan Saya masih ingat nasehat yang terus disampaikan oleh para guru dan masyayikh kami di Pondok dulu, Al-Quran kerumat awak kerumat, (Al-Quran terjaga, badan pun terawat). Dan saya merasakan benar bagaimana Al-Quran menjaga diri saya, tak hanya fisik namun juga batin. Minimal, orang akan segan ketika tahu bahwa saya hafal Al-Quran.

Meskipun, saya hidup dalam situasi sulit, Alhamdulillaah, Allaah swt selalu berikan kecukupan kepada saya sehingga saya bisa tampak seperti orang berada. Disinilah saya belajar bahwa, sungguh, janji Allaah swt itu nyata. Manusia hanya perlu bersabar dalam ujian kenaikan kelas, dan bersyukur ketika mendapat hadiah kenaikan kelas. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Sungguh menakjubkan kehidupan seorang mukmin. Dan tidaklah demikian pada seseorang kecuali ia mukmin. Jika ia diberikan nikmat, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan untuknya. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan pula baginya.” Au kamaa qaala.

*****

Ingat janji Allaah swt dalam surat Ibrahim ayat 7? “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti akan kami tambahkan nikmat kepada-Mu. Dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.”

Lagi-lagi Allaah swt membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar. Ketika saya mensyukuri kedua kemewahan diatas tadi, maka Allaah swt berikan pada saya kemewahan ketiga, yaitu calon istri yang shalihah. Ya, Zahra adalah satu kemewahan baru bagi saya.

Bagaimana tidak, “Wanita itu dinikahi…” Kata Rasulullaah saw. “…karena empat hal. Karena kecantikannya, (fisik maupun batin), karena nasabnya, (kedudukan di masyarakat, riwayat kesehatan, dan lainnya), karena hartanya, (dalam arti dia kaya dan mampu mengatur keuangan), dan karena agamanya.” Sementara, bagi orang yang mengenal Zahra, dia layaknya paket lengkap. Keempat asbab wanita dinikahi ada pada diri dan keluarganya. Sosoknya mahal.

Terlepas dari kelemahannya yang ditutupi Allaah swt, ditambah catatan-catatan saya tentang kelebihan lain yang dimiliki Zahra membuat saya ketika pertama kali mengenal sosoknya di Kongkow Medika langsung minder duluan. Saking mindernya, saya hanya berpikir supaya bisa belajar dari Zahra dan melampauinya suatu ketika nanti agar hilang rasa minder saya. Tak pernah terpikir saya kemudian menjadi orang yang beruntung bisa menikah dengan Zahra. Maka, ketika “paksaan” Allaah swt kepada saya untuk melamar Zahra kemudian diterima oleh keluarganya, saya merasa sangat bersyukur. Saya merasa sangat beruntung dan mendapatkan nikmat yang besar, satu kemewahan lain yang Allaah swt berikan pada saya.

Kenapa saya sebut Zahra adalah suatu kemewahan? Saya ingat sabda Rasulullaah saw, “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah.” Setidaknya, secara kepribadian, saya sudah mendapatkan calon istri yang shalihah.

Maka, doa saya sekarang dan esok kepada Allaah swt adalah, Yaa Allaah, jika memang Zahra adalah satu kemewahan yang Engkau titipkan lagi pada saya, maka bantu saya untuk menjaga kemewahan ini dan menguatkan pancaran kemewahannya agar memberi kebaikan bagi sekitarnya.

Allaahumma taqabbal du’aa-anaa…

*****

Khoirul Fahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *