Memburu Keberkahan

Beberapa waktu setelah saya memulai proses pernikahan dengan melamar Zahra, saya sempat mengobrol dengan Mas Jihad Wafda, fresh graduate Psikologi UGM. Doi ini juga salah satu jenis manusia keren lain yang kebetulan juga kakak kandung Zahra. Tujuan obrolan itu awalnya hanya diskusi ringan tentang pernikahan dan rencana ke depan.

Obrolan menjadi agak serius ketika Mas Jihad mulai berkata dengan nada agak serius, Jadi gini, Mi. Ada tiga persiapan yang akan merubah seseorang.

Setelahnya, panjang lebar Mas Jihad menyampaikan tentang tiga persiapan yang disebutkan katanya mampu merubah karakter seseorang.

*****

Persiapan yang pertama adalah persiapan berjihad fii sabiilillaah. Dalam konteks jihad dengan terjun berperang di jalan Allaah swt, maka seseorang tentu akan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Persiapan keterampilan, fisik, dan mental tentu sudah menjadi keharusan. Layaknya seorang tentara yang akan dikirim ke medan peperangan tentu dipilih yang benar-benar siap secara fisik dan mental.

Namun, yang membedakan bagi seorang muslim adalah, adanya persiapan spiritual, persiapan hati. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat Rasulullaah saw dulu ketika akan berperang. Mereka memperbanyak dzikir, amalan sunnah, berbuat ihsan pada keluarga, dan segala kebaikan lainnya. Hak-hak orang lain yang belum tertunaikan diselesaikan dulu.

Dan begitulah, ketika menjelang hari pemberangkatan, mereka benar-benar telah siap tidak hanya jiwa dan raga, namun juga ruhul jihad-nya. Perbedaannya akan tampak sangat jelas mana yang berhasil dalam persiapannya dan mana yang gagal atau kurang. Teringat kisah Ali ibn Abi Thalib RA, ketika ia hendak membunuh lawan perangnya yang terpojok. Tiba-tiba sang lawan meludahi wajah Ali ibn Abi Thalib RA. Sebagai manusia, Ali RA pun marah dan hendak memenggal kepala sang lawan sekaligus.

Disinilah terlihat perbedaannya, bahkan dalam kondisi perang pun, mereka yang mempersiapkan keterampilan, fisik, dan mental sebaik-baiknya, akan tetap berbuat ihsan. Alih-alih membunuh sang lawan, Ali RA membatalkan rencananya dan berbalik badan. Sang lawan yang terkaget pun lantas bertanya,

“Mengapa kau tak jadi membunuhku? Padahal aku sudah terpojok?”

“Aku tak mau membunuh lawanku hanya karena nafsu kemarahanku bukan karena mencari keridhaan Allaah SWT. Ketika kau meludahi wajahku, kemarahanku memuncak dan membuatku ingin membunuhmu. Sementara dalam berperang, kami hanya boleh membunuh atas alasan yang dibenarkan syariat dan bertujuan untuk mencari ridha Allaah SWT.”

Persiapan yang baik akan memberikan hasil yang lebih baik.

*****

Persiapan kedua adalah persiapan bertemu kematian. Bayangkan seseorang yang mengalami sakit parah dan kronis. Kemudian, suatu hari seorang dokter datang kepadanya dan mengatakan bahwa usianya tinggal menghitung hari, tak lebih dari dua minggu. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh si pasien?

Jika ia ingin mempersiapkan kematiannya, maka tentulah ia akan melakukan segala kebaikan yang bisa dilakukan. Ia ingin menjadikan hari-hari terakhirnya menjadi hari-hari terbaiknya. Harapnya, kebaikan yang ditumpuk di belakang ini bisa menutup keburukan yang pernah dilakukannya sepanjang hidupnya dulu.

Maka, selama dua minggu menanti kematian, si pasien akan menjadi manusia versi terbaik dalam hidupnya. Hari-harinya diisi dengan ibadah dan kebaikan. Ia ingin bertemu dan bersilaturrahmi dengan semua kerabat dan teman-temannya. Ia akan berbuat baik dalam bentuk apapun yang bisa dilakukannya.

Dengan usahanya yang sedemikian rupa, ketika kelak Allaah swt melalui malaikatnya memanggil ruhnya, besar kemungkinan ia akan menutup akhir hayatnya dalam kondisi husnul khatimah. Kematian yang diinginkan oleh setiap muslim yang beriman.

Sungguh, persiapan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.

*****

Persiapan ketiga yang akan merubah seseorang adalah persiapan menikah. Jika seseorang berniat untuk menikah dan mempersiapkan pernikahannya, maka sifat dan karakternya akan berubah. Perubahan ini pun ada yang sifatnya short term hanya untuk memikat calon mertua dan calon pasangan. Ada juga yang sifatnya intermediate dengan alasan untuk merayu Allaah swt memudahkan jalannya. Selepas menikah dan mendapatkan banyak kenikmatan, mereka akan mulai lalai.

Yang paling baik adalah, mereka yang berubah dan perubahannya bersifat long term. Tujuannya tidak hanya sekedar berubah namun mereka berniat untuk hijrah. Mereka tinggalkan sifat-sifat dan kehidupan buruk masa lampaunya, membersihkan niat dan dirinya untuk menjemput kehidupan baru. Kehidupan baru yang terjadi bukan karena pernikahan semata, namun dengan pribadi yang baru.

Inilah yang disebut Rasulullaah SAW bahwa pernikahan adalah bentuk menyempurnakan setengah agama. Setengah bagian lainnya adalah ketakwaan. Maka, seharusnya mereka yang telah menikah akan lebih mudah dalam bertakwa dan istiqomah dalam ketakwaan itu sendiri. Kenapa? Karena sebagai pasangan tentu hidupnya harus menjadi “saling”. Saling berlomba dalam kebaikan, saling memotivasi, saling menasehati, saling mengingatkan, dan saling menjaga untuk bisa berada dalam ketakwaan kepada-Nya.

*****

Maka, dalam rangka pernikahan yang sedang saya jalani prosesnya, saya pun bertekad untuk bisa menjadi bagian dari golongan mereka yang berhijrah. Alasan saya, selain untuk menjaga keberkahan prosesnya juga karena proses ini ingin saya jadikan sebagai momentum untuk “naik kelas”.

Seingat saya, saya pernah mencoba naik kelas sampai tiga kali sepanjang saya hidup. Pertama adalah ketika saya menyelesaikan hafalan Al-Quran. Maka, ketika itu saya resmi menjadi haamilul Quran, seumur sisa hidup saya harus mau dihabiskan dan didedikasikan bersama Al-Quran. Kedua, adalah ketika saya masuk ke Insan Cendekia. Disana, saya merasakan bagaimana pola pikir dan mindset saya tentang kehidupan berubah total. Saya lebih berani bermimpi, membuat target, dan menjadi orang extraordinary yang mampu membuat jalur hidupnya sendiri.

Yang terbaru adalah ketika saya menjadi pengajar di Rumah Tahfidz Al-Falah. Ketika itu, saya harus mampu berubah dari hidup yang berorientasi pada pribadi menjadi lebih banyak berbagi. Kewajiban saya mengajar, menjadi imam masjid, dan beberapa kali mengisi pengajian “memaksa” saya untuk belajar tentang dakwah secara lebih serius. Tidak lagi melulu tentang teori dan konten, namun harus diperhatikan pula metodenya. Dan yang paling penting adalah ruhud-da’awi-nya. Inilah yang saya sebut dengan hijrah “naik kelas”.

Begitu pula dalam pernikahan ini, saya mempersiapkannya secara serius untuk berhijrah dan “naik kelas”. Amalan-amalan sunnah yang masih lalai dan lubang-lubang saya usahakan untuk istiqomah. Sifat-sifat buruk yang masih terbiasa muncul, saya usahakan untuk ditekan dan dihilangkan. Kontrol emosi dan stres harus lebih pandai. Dan yang paling penting juga adalah, pembersihan niat dan tujuan pernikahan bukan lagi sekedar mengejar status dan kebahagiaan, namun sebagai ibadah kepada Allaah swt dan sarana ibadah lain yang lebih besar.

*****

Kalo boleh berbagi, ayat mana yang menjadi motivasi saya untuk berubah kali ini, saya berikan dua ayat berikut ini, Al-Anfal 60 dan Fushshilat 30.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Selamat bersiap-siap untuk naik kelas!

*****

 

Khoirul Fahmi

3 thoughts to “Memburu Keberkahan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *