Lebih dari Sekedar Takdir

Jika ada suatu hal yang tak mungkin bisa kita cegah atau ajukan kejadiannya, maka itulah yang kita sebut takdir. Meskipun, dalam teori ada takdir yang bisa dirubah dan takdir yang tetap, namun pada kenyataannya, semua yang terjadi di dunia ini tak lepas dari kehendak dan kuasa Allaah swt. Begitulah takdir Allaah swt berlaku pada makhluknya.

Pada suatu kesempatan, seseorang akan mengalami kejadian buruk, dan di lain waktu ia mendapat anugerah kebaikan. Kedua kondisi tersebut tak pernah lepas dari ketentuan yang telah Allaah swt gariskan. Dan konsepnya, apapun yang Allaah swt berikan pada makhluk-Nya adalah suatu kebaikan meski berwujud keburukan. Untuk memahami ini, mungkin akan lebih mudah jika kita memahami hadits ini kembali, “Sungguh menakjubkan kehidupan seorang mukmin. Dan tidaklah demikian pada seseorang kecuali ia mukmin. Jika ia diberikan nikmat, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan untuknya. Jika ia ditimpa musibah, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan pula baginya.” Au kamaa qaala.

*****

Sejak saya memulai proses menikah ini, ada satu doa yang saya berusaha mengistiqomahkan dalam setiap kesempatan doa. Rabbanaa hablanaa hukman, wa alhiqnaa bish-shaalihiin, Yaa Tuhan kami, berikanlah kami hikmah dan kumpulkanlah aku dalam golongan orang-orang yang shalih.

            Doa nabi Ibrahim ini begitu luar biasa menurut saya karena membuat semua takdir yang saya terima tidak lewat begitu saja. Saya akan selalu berusaha menangkap pesan dan pelajaran, atas kehendak apa Allaah swt memberikan saya takdir ini, termasuk takdir menikah dadakan ini. Saya minta kepada Allaah swt agar diberikan pendidikan dan petunjuk agar bisa selalu sabar dan kuat menghadapi semua takdir yang Allaah swt tetapkan pada saya. Hal ini setidaknya membantu saya untuk tetap berada dalam jalur ketakwaan yang digariskan Allaah swt.

Saya melakukan ini semua karena menikah tidak hanya suatu perjanjian yang besar, namun prosesnya pun juga akan berat jika niat dan tujuannya besar. Sebagaimana tujuan pernikahan adalah menyatukan dua insan untuk kebaikan, maka setan pun tak akan ridho terhadapnya. Apapun akan dilakukan untuk memisahkan dan menggagalkan prosesnya. Bahkan, jika nanti telah menikah, setan akan terus berusaha menceraikan persatuannya.

Di sinilah mengapa Rasulullaah saw mengajarkan kepada umatnya ketika memilih wanita untuk menikah, dianjurkan untuk memilih yang agamanya baik agar selamat. Karena ketika pada waktunya setan berusaha mengganggu rumah tangga, ketiga asbab wanita dinikahi yang lainnya akan mudah dihilangkan. Wajah yang cantik pada waktunya akan memudar atau membosankan. Keluarga yang baik pun tidak menjamin kooperatif selamanya, tentu akan muncul konflik. Harta yang banyak pun akan habis pada waktunya. Namun, jika agamanya baik, meski tak menjamin keistiqomahan, namun setidaknya dengan saling menjaga dan mengingatkan akan memudahkan datangnya pertolongan Allaah swt. Maka, itulah mengapa sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah.

*****

Saya pun merasakan bagaimana beratnya ujian dan cobaan dalam proses pernikahan. Rasa khawatir dan ragu-ragu akan masa depan yang suram tentu akan membayangi di awal memutuskan akan menikah. Ketika melamar, maka setan akan berusaha menggoda orangtua dan keluarga untuk menghambat acceptance dari khitbah yang dilakukan.

Jika lamaran telah diterima, maka biasanya setan akan mengganggu lagi baik melalui calon mempelai maupun keluarganya. Ujian bisa berupa konflik-konflik dalam menentukan mahar, teknis pernikahan, dan lain sebagainya yang kadang sepele. Belum lagi jika tiba-tiba ada cinta lama yang bersemi kembali tiba-tiba datang dan menggoda. Bahwa ujian dan cobaan itu nyata adanya.

Bahkan, hari-hari menjelang akad, tiba-tiba akan ditampakkan oleh setan bahwa semua wanita atau pria yang dilihat oleh calon mempelai seakan memiliki nilai lebih daripada calon pasangannya. Calon mempelai mulai membanding-bandingkan calon pasangannya dengan orang lain. Inilah mengapa, saya berusaha meminta penjagaan langsung dari Allaah swt dengan memperbanyak doa, amalan sunnah, tilawah Al-Quran, selain untuk memburu keberkahan prosesnya.

*****

Terlepas dari ujian dan cobaan yang tentu akan dirasakan oleh mereka yang akan menikah, maka ada dua hal yang bisa dilakukan untuk memudahkan melewatinya sebagai resume tulisan diatas. Pertama, adalah penting untuk menjaga keberkahan prosesnya dengan memperbanyak ibadah dan kebaikan serta menghindari maksiat. Dengan begitu Allaah swt akan lebih mudah dalam menjaga kita. Bukankah Allaah swt sesuai prasangka hamba-Nya? Bukankah Dia akan memberikan perbuatan timbal-balik yang lebih kepada makhluk-Nya? Kita melupakan-Nya, Dia juga akan melupakan kita. Sebaliknya, kita menjaga hubungan dengan Allaah swt, maka Allaah swt akan berusaha menjaga kita.

Kedua, adalah meminta hikmah dari setiap kejadian. Dengan mengetahui hikmah, maka kita akan merasakan bagaimana Allaah swt mendidik dan mengajarkan sesuatu kepada kita melalui takdir-Nya. Melalui hikmah pula, kita akan lebih mudah dalam menerima takdir-Nya, tidak terlalu gembira ketika mendapat anugerah dan tidak terlalu meratap bersedih ketika mendapat musibah.

Sebagai penutup, marilah kita renungi ayat ini, Al-Hadid 23, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

Rabbanaa hablanaa hukman, wa alhiqnaa bish-shaalihiin…

*****

Khoirul Fahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *