Blessing in Disguise

Sabtu, 6 November 2016.

Saya sedang berkendara menggunakan mobil pinjaman milik orangtua salah seorang teman Beasiswa Baktinusa untuk menjemput Pembicara Sekolah Tjokro ke bandara. Kebetulan saya adalah ketuanya, dan hari ini panitia banyak yang datang terlambat dan tak bisa dihubungi. Padahal acara harus segera dimulai dan Pembicara belum dijemput. Di tengah chaos itu, meskit terburu-buru, saya berkendara dengan kecepatan kurang lebih 40 km/jam karena jalurnya padat dan jalannya sempit dengan pikiran bercabang.

Tiba-tiba, saya kaget ketika ada sepeda motor yang menikung di depan saya tepat setelah menyalip mobil yang saya kendarai. Karena kurang fokus, saya hanya membelokkan setir ke kiri menghindar dan tidak mengerem. Celakanya, tepat di jalur sepeda motor di kiri jalan, ada dua motor yang sedang parkir, dan BOOM! Terjadilah musibah yang tak diinginkan. Mobil saya menabrak dua motor yang sedang parkir di bahu jalan, jalur yang seharusnya tidak digunakan untuk parkir. Motor pertama terpental merusak toko pakan burung di depannya. Motor satunya masuk ke bawah mobil. Sementara saya hanya pasrah karena shock setelah menabrak dan membiarkan mobil naik trotoar jalur pedestrian yang dipakai jualan.

Saya hanya diam ketika kemudian masyarakat sekitar marah dan sebagian memukuli saya. Saya bingung memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini karena saya tidak punya uang cukup untuk mengganti kerugian. Yang jelas, saya berniat untuk bertanggung jawab atas semuanya. Saya bersyukur sekali tidak ada korban jiwa. Selebihnya, saya hanya berdoa minta pertolongan pada Allaah swt agar diberikan petunjuk dan kelapangan rezeki untuk mengganti kerugian.

Dan masyaa Allaah, bahwa pertolongan Allaah swt sangat dekat itu memang nyata. Orangtua teman saya, pemilik mobil, tidak meminta apapun dari saya. Mereka membayar semua biaya kerugian dan menyelesaikan semua prosesnya dengan kekeluargaan. Kebetulan mereka adalah keluarga TNI-AU, sehingga urusan dengan Kepolisian pun bisa begitu mudahnya.

Namun, karena sejak awal saya sudah berniat untuk mengganti kerugian, saya pun memutuskan untuk mencicil mengganti total kerugian yang berjumlah sekitar 11,5 juta rupiah menurut perhitungan kasar saya. Meski orangtua teman saya menolak, saya tetap ngotot akan membayarnya, entah nanti bagaimana caranya. Saya yakin, Allaah swt Maha Kaya dan pasti memiliki rencana. Kebetulan, saya tahu rekening teman saya tersebut. Jadilah, beberapa bulan berikutnya, saya rajin mengirim uang melalui rekening teman saya tersebut untuk melunasi kerugiannya.

*****

Ahad, 6 November 2016

Hay Fahmi, ini Zahra FKG.

            Turut berduka cita ya atas musibah yang menimpa.

            Aku pengen bantu tapi ga punya duit L

            Ada yang bisa saya lakukan?

Sebuah chat masuk ke Whatsapp saya sore harinya, bingung. Ini Zahra siapa. Saat itu, saya hanya tahu bahwa nama panggilan Zahra adalah Jedn. Belakangan, saya baru tahu bahwa itu panggilan Zahra di asrama RK karena terlalu banyak nama Zahra di asrama. Akhirnya, saya pun berterima kasih banyak dan menjawab yang intinya, doakan saja agar dilapangkan rezekinya dan mendapat hikmah di balik semua kejadian tadi pagi. Ini adalah kali pertama saya berkomunikasi online melalui jalur pribadi dengan Zahra.

Saya tak berpikir banyak ketika itu karena memang beberapa hari setelah kejadian kecelakaan, saya banyak menerima pesan jalur pribadi yang menanyakan kabar, memberi dukungan, dan lainnya. Saya menganggap wajar saja Zahra menghubungi saya sebagai bentuk dukungan ketika ada teman yang tertimpa musibah sebagaimana teman saya lainnya.

Satu hal yang saya sesali sore itu, bahwa ternyata berita tentang kecelakaan tadi pagi sudah menyebar kemana-mana karena broadcast message yang dibuat oleh rekan Beasiswa Baktinusa saya, Alfath. Tujuannya sangat baik, untuk munasharah membantu saya mengganti kerugian tersebut. Namun, karena sudah terlanjur tersebar kemana-mana tanpa sepengetahuan saya, saya hanya bisa pasrah kepada Allaah swt. Ya, alhamdulillaah Allaah swt mudahkan saya menjalani musibah ini. Melalui broadcast message tersebut berbagai dukungan dan bantuan mengalir kepada saya begitu derasnya. Saya jadi banyak bersyukur melihat kenyataan banyak orang yang sayang dan berbuat baik pada saya.

Dan berkat itu semua, atas kuasa Allaah swt, saya menyelesaikan target pelunasan biaya kerugian lebih cepat. Saya targetkan selesai bulan April-Mei 2017, namun ternyata bisa selesai pada awal Februari 2017. Saya pun juga tak pernah menyangka, jika obrolan di jalur pribadi ini kemudian masuk dalam sejarah kehidupan yang lebih panjang nantinya.

*****

Khoirul Fahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *